Langsung ke konten
Jumat, 14 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Nasional

Pakar Sosiologi UMM Soroti Fenomena Sound Horeg di Karnaval Kemerdekaan, Antara Kebebasan dan Kenyamanan Warga

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kemeriahan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di berbagai daerah kini makin kental dengan kehadiran fenomena Sound Horeg. Dentuman musik bervolume tinggi yang mengiringi karnaval dan parade warga ini tak pelak memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat, mulai dari antusiasme luar biasa hingga keluhan terkait kenyamanan.

Menanggapi fenomena yang tengah viral ini, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., memberikan pandangannya. Ia menyebut tren Sound Horeg bukan sekadar ajang unjuk gigi, melainkan cerminan pergeseran budaya pop masyarakat postmodern saat ini.

Ruang Ekspresi dan Pelepasan Penat

Menurut Prof. Wahyudi, perubahan cara masyarakat merayakan kemerdekaan adalah hal yang lumrah. Sound Horeg kini menjelma menjadi wadah baru bagi masyarakat untuk berkumpul dan mengekspresikan identitas kelompoknya secara lebih bebas.”Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas. Meski menimbulkan pro dan kontra, secara sosiologis ini tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk merasakan kebersamaan,” ungkap Prof. Wahyudi, Rabu (12/8/2026).Fenomena ini memperlihatkan pergeseran tren hiburan, dari yang sebelumnya didominasi oleh seni budaya tradisional, kini beralih ke ekspresi populer yang lebih masif dan mengikuti arus perkembangan zaman.Menggerakkan Roda Ekonomi LokalDi balik kontroversi suara bisingnya, fenomena karnaval Sound Horeg ternyata membawa angin segar bagi perputaran ekonomi warga sekitar. Terdapat ekosistem sosial-ekonomi yang terbentuk secara otomatis setiap kali acara ini digelar.Beberapa sektor yang paling terdampak positif antara lain:Penyewaan Alat & Transportasi: Meningkatnya pesanan sewa truk, kendaraan niaga, hingga perangkat sound system berskala besar.Pengelolaan Parkir: Membuka lapangan kerja insidental bagi pemuda karang taruna dan warga setempat.Geliat UMKM: Pedagang makanan, minuman, dan mainan anak meraup untung berlipat ganda di sepanjang rute karnaval.Tantangan Kenyamanan vs Kebebasan BerekspresiMeski mendatangkan perputaran uang yang masif, Prof. Wahyudi tak menampik adanya gesekan sosial akibat intensitas suara yang terlampau tinggi. Dentuman Sound Horeg kerap dikritik karena dinilai mengganggu ketenangan publik.“Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun di sisi lain, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional,” jelas akademisi UMM tersebut.Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan. Kebebasan berekspresi melalui Sound Horeg harus tetap berjalan beriringan dengan tenggang rasa dan penghormatan terhadap hak warga lain yang membutuhkan kenyamanan lingkungan.Dinamika Budaya Pop yang Akan Terus BerubahKe depan, bentuk perayaan kemerdekaan diprediksi akan terus berevolusi. Prof. Wahyudi memandang Sound Horeg sebagai subvarian budaya di era postmodernisme yang sangat dinamis.”Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Ini menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat,” tuturnya.Di tengah polemik yang ada, Sound Horeg tidak bisa dipandang sebelah mata hanya dari kerasnya suara. Fenomena ini telah membuktikan diri sebagai realitas sosial yang kompleks—menggabungkan hiburan, perputaran ekonomi rakyat, dan dinamika ruang publik dalam satu bingkai perayaan kemerdekaan RI.