MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kelompok Mahasiswa Membangun Desa (MMD) kelompok 17 melakukan Sosialisasi dan Demonstrasi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah organik rumah tangga, Selasa (14/7/2026) di Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Dibawah dosen pembimbing lapangan (DPL) Mahfudlotul ‘Ula, S.E., M.SI., melalui kegiatan partisipatif, mahasiswa mengajak kelompok ibu-ibu PKK yang sekaligus sebagai pengelola Rumah Bibit untuk turut serta dalam proses pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kandungan unsur hara, hingga mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan.
Kegiatan ini dilaksanakan di Balai RW 04 yang dihadiri oleh ibu-ibu PKK sekaligus sebagai pengelola Rumah Bibit yang dimulai dari sosialisasi pengertian limbah organik, pemilihan limbah yang dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan POC, manfaat dan keunggulan POC, serta dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan POC secara langsung. Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka mengikuti setiap tahapan mulai dari mencatat materi yang disampaikan, memilah limbah dapur seperti kulit bawang, sisa sayur, kulit buah, dan dedaunan kering, semua bahan tersebut dimasukkan ke dalam wadah atau galon kemudian ditambahkan dengan larutan EM4 dan molase perbandingan (1:1) hingga menunggu proses fermentasi yang akan berlangsung selama 7-14 hari.
“Ibu-ibu PKK merasa terbantu dengan adanya demonstrasi pembuatan Pupuk Organik Cair karena POC tersebut dapat membantu proses budidaya di Rumah Bibit” kata pengelola Rumah Bibit Sylvia Dwi Rahayu.

Dilain hari, kelompok 17 MMD UB juga mengadakan sosialisasi serta demonstrasi pembuatan Pupuk Organik Kompos dari kotoran hewan ternak, Sabtu (18/7/2026) di Balai RW 04 Kelurahan Losari, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program kerja ini didasarkan hasil survei lapangan mahasiswa bahwa, kotoran hewan ternak di Kelurahan Losari belum dimanfaatkan dengan baik. Oleh karena itu, sosialisasi sekaligus demonstrasi pembuatan Pupuk Organik Kompos yang dapat bermanfaat bagi tanaman yang ada di Rumah Bibit.
Kotoran hewan mentah tidak boleh langsung digunakan harus dikomposkan atau difermentasi terlebih dahulu karena terdapat gas amonia yang dapat merusak akar, selain itu bakteri dan telur cacing berpotensi mencemari tanaman.” ujar pemateri, Bintar Probo Sunarto, S.P., M.P.
“Untuk membuat pupuk organik kompos ini hanya perlu mengaktifkan EM4 dan molase. Selanjutnya, hamparkan bahan organik cokelat sebagai lapisan dasar, tambahkan kotoran ternak, taburkan dedak, lalu siram dengan larutan dekomposer. Susun bahan secara berlapis hingga mencapai tinggi 1-1,5 meter, kemudian tutup dengan terpal. Balik tumpukan setiap 5-7 hari untuk menjaga aerasi dan mempercepat penguraian. Kompos akan matang dalam waktu 3-6 minggu dengan kondisi tumpukan tetap lembap, tidak becek, dan terlindung dari hujan.” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa memberikan pemaparan mengenai manfaat pupuk organik kompos dan POC. Tidak hanya menyampaikan materi, mahasiswa juga mengajak peserta untuk mempraktikkan secara langsung tahapan pembuatan, mulai dari persiapan bahan, proses pencampuran, hingga teknik fermentasi yang benar agar menghasilkan pupuk berkualitas.
Program kerja ini menjadi aksi kecil untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) 3, 7, dan 12, yakni desa sehat dan sejahtera, energi bersih dan terjangkau, serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.