Langsung ke konten
Sabtu, 29 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Inovasi Olahan Pangan Lokal: Mahasiswa KKN 145 UMM Kenalkan Produk “KRIPCA” Berbahan Singkong di Desa Kenongo

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 145 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi dan

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 145 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat mempraktikkan langkah-langkah pembuatan KRIPCA di hadapan warga secara sistematis

Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 145 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat mempraktikkan langkah-langkah pembuatan KRIPCA di hadapan warga secara sistematis (Foto: Tim KKN Berdampak UMM Kelompok 145)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Berdampak Kelompok 145 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar sosialisasi dan demonstrasi pembuatan KRIPCA (Keripik Kaca) berbahan dasar singkong di Balai Desa Kenongo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, pada Jumat (21/8/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi komoditas pertanian lokal desa sekaligus memberikan keterampilan pengolahan pangan yang bernilai ekonomi tinggi bagi masyarakat.

Sebelum disosialisasikan secara terbuka, tim KKN Berdampak 145 telah melakukan serangkaian uji coba dan formulasi resep mulai dari 8 s.d. 20 Agustus 2026 guna memastikan cita rasa serta tekstur keripik yang renyah dan transparan menyerupai kaca. Selama proses uji coba tersebut, akhirnya ditemukan formula yang tepat untuk pengolahan serta penyimpanan produk yang akan disosialisasikan nantinya.

Selama sosialisasi tersebut, mahasiswa mempraktikkan langkah-langkah pembuatan KRIPCA di hadapan warga secara sistematis. Proses dimulai dari pengupasan dan pencucian singkong hingga bersih, lalu diparut halus. Parutan singkong kemudian dilarutkan dengan air menggunakan takaran tertentu dan dimasak hingga mengental menjadi adonan yang memiliki tekstur kenyal serta konsistensi tertentu. Selanjutnya, adonan dioleskan pada wadah secara tipis agar saat kering dapat
menjadi transparan menyerupai kaca. Kemudian, adonan dijemur hingga kering dan mengeras, dipotong sesuai ukuran, lalu digoreng serta dicampur dengan berbagai varian bumbu gurih dan pedas.

Baca juga: Faizah Salsabila Said, Mahasiswi FITK UIN Malang Raih Juara 3 Kategori Podcast Audio di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Baca juga: Konflik Timur Tengah, UMKM Kita yang ‘Berdarah Oleh: Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Pada tahap akhir, mahasiswa juga memaparkan terkait pengemasan yang sekiranya menarik apabila nantinya produk tersebut akan dijual. Program inovasi olahan singkong ini disambut dengan penuh antusiasme oleh warga desa, khususnya kalangan ibu rumah tangga. Salah seorang warga yang hadir mengungkapkan apresiasinya terhadap produk olahan baru ini.

“Kami sangat senang dengan pelatihan pembuatan keripik kaca ini. Hal ini merupakan inovasi baru karena, singkong di kebun yang biasanya hanya direbus atau digoreng biasa. Ternyata bisa diolah jadi keripik yang bening, renyah, dan rasanya enak sekali. Ini ide yang sangat bagus untuk kami coba buat sendiri di rumah atau dijadikan usaha camilan tambahan,” ujar salah satu warga yang menjadi peserta sosialisasi.

Melalui program KRIPCA, tim KKN Berdampak 145 UMM berharap olahan keripik kaca ini dapat terus diproduksi dan dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat sebagai produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) unggulan Desa Kenongo yang mampu meningkatkan perekonomian
keluarga. Sehingga, masyarakat semakin optimal dalam memanfaatkan hasil sumber daya yang berasal dari Desa Kenongo.

Penulis: Habib Abdul Khaliq
Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang Koordinator Desa KKN Berdampak 145 Universitas Muhammadiyah Malang
DPL : Muhammad Muslih, S.Kep. Ns., M.Sc., Ph.D.
Editor: Ahmad Fathoni
Bahasa: Puan Nitara

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.