Langsung ke konten
Jumat, 4 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah Surabaya

DPD RI Lia Istifhama Turun Kampung di Surabaya, Ikut Lomba Jarik Puting Beliung Semarakkan HUT RI ke-81

Potret Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama,  ikut membaur dan berlomba bersama warga setempat.

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kelurahan Jemur Wonosari, Surabaya, terasa istimewa pada Minggu pagi (9/8/2026). Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, tak sekadar hadir sebagai tamu kehormatan, melainkan langsung membaur dan ikut berlomba bersama warga setempat.

Senator yang akrab disapa Ning Lia ini memilih melepas jarak protokoler pejabat. Tanpa canggung, ia bergabung dalam tim warga untuk mengikuti perlombaan tradisional “Jarik Puting Beliung” di tengah gang sempit yang telah dihias semarak dengan ornamen merah putih.

Permainan tradisional yang menguji kekompakan tim sekaligus keseimbangan ini sukses memancing gelak tawa. Saat kain jarik diputar, Ning Lia dan warga bahu-membahu menjaga keseimbangan. Tawa, sorakan dukungan dari ibu-ibu dan bapak-bapak, serta riuhnya anak-anak yang berlarian menyatu menciptakan kehangatan khas perayaan agustusan di kampung.

Momen tersebut seolah meluruhkan sekat antara pejabat dan masyarakat biasa.

“Lomba seperti ini kelihatannya sederhana, tapi punya makna yang sangat besar. Ini bukan sekadar hiburan semata, tapi cara nyata kita menjaga kebersamaan sekaligus melestarikan budaya bangsa,” ujar Ning Lia di sela-sela perlombaan.

Iklan

Lebih dari sekadar kemeriahan, tokoh perempuan Jawa Timur ini juga menitipkan pesan penting terkait pelestarian tradisi di era digitalisasi. Menurutnya, permainan rakyat seperti Jarik Puting Beliung mengajarkan nilai-nilai sosial yang tidak bisa didapatkan anak-anak melalui layar gawai (gadget).

  1.  Mengasah Kerja Sama: Permainan tradisional menuntut kekompakan dan gotong royong.
  2. Membangun Empati: Anak-anak diajak merasakan kemenangan dan kekalahan bersama teman sebayanya.
  3. Interaksi Sosial Fisik: Mencegah sikap individualis yang kerap muncul akibat kecanduan gawai.

“Anak-anak sekarang butuh lebih banyak ruang seperti ini. Tidak hanya asyik bermain gadget di dalam rumah, tapi mereka juga harus belajar bersosialisasi dan merasakan kehangatan kebersamaan secara langsung di lingkungan tempat tinggalnya,” tutur Ning Lia.

Kehadiran sosok senator Jatim ini mendapat sambutan hangat dari warga. Ketua RT 07 RW 05 Jemur Wonosari, Ramadhany, menyebut bahwa kegiatan tahunan kali ini terasa jauh lebih guyub berkat partisipasi langsung dari Ning Lia.

“Ini momen warga untuk kumpul, guyub, dan saling kenal lebih dekat. Semangat kemerdekaan itu ya seperti ini, penuh kebersamaan. Apalagi kalau ada Ning Lia pasti seru, tidak ada kelas, tidak ada perbedaan status. Semua membaur akrab dengan warga,” ungkap Ramadhany.

Ia menambahkan, di tengah pesatnya modernisasi Kota Surabaya, potret kesederhanaan dari Jemur Wonosari ini menjadi pengingat penting. Kemerdekaan tidak melulu harus dirayakan dengan seremoni formal yang kaku, melainkan lewat tawa, keringat, dan solidaritas di tingkat akar rumput.

“Ning Lia punya semangat luar biasa untuk menghidupkan nilai-nilai itu, memastikan bahwa Indonesia terus hidup hangat, sederhana, dan penuh makna,” pungkasnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.