
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM : Program pembelajaran luar kampus (PLK) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung di dunia industri maupun pelayanan kesehatan. Salah satu bentuk implementasi program tersebut adalah kegiatan pembelajaran luar kampus yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Fisika, dengan peminatan Fisika Medis, Fakultas Teknik dan Sains, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur di Adi Husada Cancer Center (AHCC) Surabaya. Kegiatan magang dilaksanakan pada periode 06 Juli–06 November 2026 dengan mengangkat topik “Analisis Perbandingan Parameter Dosimetri dan Volume Organ At Risk (OAR) antara Teknik Intensity Modulated Radiation Therapy (IMRT) dan Three-Dimensional Conformal Radiation Therapy (3DCRT) pada Kasus Kanker Serviks Menggunakan Linear Accelerator (LINAC).” Kegiatan ini dilaksanakan oleh Afifah Anggi Sausan (NPM 24037010036) di bawah bimbingan dosen pembimbing Fajar Timur, S.Si., M.Si., serta pembimbing lapangan Lellen Novia Hariono.
Adi Husada Cancer Center (AHCC) merupakan pusat layanan kanker yang menyediakan pelayanan komprehensif, mulai dari deteksi, diagnosis, hingga terapi kanker dengan dukungan teknologi radioterapi modern. Dalam pelayanan radioterapi, AHCC mengutamakan keselamatan pasien, ketepatan pemberian dosis radiasi, serta penerapan standar mutu yang tinggi melalui kerja sama multidisiplin antara dokter spesialis onkologi radiasi, fisikawan medis, radiografer, dan tenaga kesehatan lainnya. Lingkungan kerja yang mengutamakan teknologi, keselamatan pasien, serta kolaborasi lintas disiplin ilmu ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman belajar secara langsung selama mengikuti Program Pembelajaran Luar Kampus.
Selama pelaksanaan pembelajaran luar kampus, mahasiswa mempelajari secara langsung alur pelayanan radioterapi, mulai dari simulasi pasien, contouring target dan organ risiko atau disebut juga Organ at Risk (OAR), penyusunan rencana terapi (treatment planning) menggunakan Treatment Planning System (TPS), evaluasi distribusi dosis, hingga pelaksanaan penyinaran menggunakan Linear Accelerator (LINAC). Rangkaian kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami hubungan antara konsep fisika medis yang dipelajari di perkuliahan dengan penerapannya dalam pelayanan radioterapi sehari-hari.
Salah satu tahapan yang dipelajari secara mendalam oleh mahasiswa adalah proses verifikasi pasien sebelum penyinaran, yaitu langkah krusial untuk memastikan posisi dan dosis radiasi yang diberikan benar-benar sesuai dengan rencana terapi. Pada teknik 3DCRT (Three-Dimensional Conformal Radiotherapy), yaitu teknik radioterapi yang membentuk berkas radiasi tiga dimensi mengikuti bentuk tumor tanpa modulasi intensitas berkas, verifikasi umumnya dilakukan melalui pencitraan portal yaitu melalui portal imaging untuk membandingkan posisi lapangan penyinaran dengan citra referensi DRR (Digitally Reconstructed Radiograph) yaitu citra referensi yang dibuat dari data CT simulasi pasien.Proses ini relatif lebih sederhana karena bentuk lapangan radiasi pada 3DCRT tidak termodulasi. Sebaliknya, verifikasi pada teknik IMRT (Intensity-Modulated Radiation Therapy), yaitu teknik radioterapi lanjutan yang memungkinkan intensitas berkas radiasi diatur secara bervariasi pada tiap titik lapangan penyinaran sehingga distribusi dosis dapat lebih presisi mengikuti bentuk tumor sekaligus melindungi jaringan sehat di sekitarnya, berlangsung lebih kompleks karena melibatkan modulasi intensitas berkas pada tiap segmen penyinaran.

Selain verifikasi posisi menggunakan pencitraan kV (kilovoltage imaging), yaitu pencitraan sinar-X dosis rendah untuk memverifikasi posisi pasien, atau CBCT (Cone-Beam Computed Tomography), yaitu pencitraan CT tiga dimensi yang diambil langsung di meja terapi menggunakan mesin radioterapi untuk membandingkan posisi anatomi pasien saat itu dengan rencana awal, setiap rencana IMRT juga wajib melalui uji jaminan mutu spesifik pasien (patient-specific quality assurance), yaitu pengukuran distribusi dosis nyata menggunakan phantom yaitu objek pengganti tubuh pasien dan detektor dosimetri sebelum fraksi pertama diberikan, yang kemudian dibandingkan dengan hasil kalkulasi TPS (Treatment Planning System), yaitu perangkat lunak komputer yang digunakan untuk merancang dan menghitung distribusi dosis radiasi, melalui analisis gamma, yaitu metode statistik untuk menilai kesesuaian antara dosis yang terukur dan dosis yang dihitung, guna memastikan keakuratan penghantaran dosis. Dari pengamatan langsung terhadap kedua proses tersebut, mahasiswa memahami bahwa semakin kompleks teknik radioterapi yang digunakan, semakin ketat pula lapisan verifikasi yang diperlukan untuk menjamin keselamatan dan efektivitas terapi bagi pasien. Topik penelitian yang diambil berfokus pada analisis perbandingan dua teknik radioterapi eksternal tersebut pada pasien kanker serviks, dengan menganalisis 40 rencana terapi yang terdiri atas 20 rencana teknik 3DCRT dan 20 rencana teknik IMRT.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep teori fisika medis dan radioterapi, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengevaluasi kualitas rencana terapi serta mengenal sistem kerja tim multidisiplin di unit radioterapi. Ketelitian dalam setiap tahapan perencanaan dan verifikasi menjadi pelajaran penting, karena setiap keputusan yang diambil berpengaruh langsung terhadap efektivitas pengobatan dan keselamatan pasien.
Kegiatan pembelajaran luar kampus ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya Tujuan 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera, Tujuan 4 yaitu Pendidikan Berkualitas, serta Tujuan 9 yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, melalui penerapan teknologi radioterapi modern dalam pelayanan kanker dan pengalaman belajar berbasis praktik bagi mahasiswa.
Menurut pembimbing lapangan, “Kami tidak hanya ingin mahasiswa mengenal teknologi radioterapi modern, tetapi juga memahami tanggung jawab seorang fisikawan medis dalam menjaga keselamatan pasien. Setiap tahapan, mulai dari perencanaan terapi, verifikasi, hingga quality assurance, memiliki tujuan untuk memastikan radiasi diberikan secara tepat, aman, dan sesuai dengan rencana. Harapannya, pengalaman ini dapat menjadi bekal ketika mereka nantinya berpraktik sebagai fisikawan medis”
Bagi mahasiswa, kegiatan ini menghubungkan teori yang dipelajari di bangku kuliah dengan praktik nyata di rumah sakit. Bagi AHCC, kehadiran mahasiswa pembelajaran luar kampus diharapkan turut mendukung kegiatan akademik dan penelitian yang berorientasi pada pengembangan mutu pelayanan radioterapi. Hasil penelitian ini juga diharapkan menjadi referensi dalam pengembangan penelitian mengenai karakteristik dosimetri teknik IMRT dan 3DCRT pada kasus kanker serviks..
Kegiatan pembelajaran luar kampus ini menjadi penghubung antara pembelajaran akademik dengan praktik klinis, sekaligus membekali mahasiswa untuk menghadapi tantangan profesi fisikawan medis di masa mendatang. Kolaborasi antara Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur dan Adi Husada Cancer Center (AHCC) diharapkan dapat terus berlanjut, sehingga semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan untuk belajar secara langsung sekaligus ikut berperan dalam peningkatan kualitas pelayanan radioterapi di Indonesia.
Penulis : Afifah Anggi Sausan, Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur
