BNPT Gelar Pelatihan Penanggulangan Terorisme di Malang: Soroti Perubahan Pola Serangan dan Strategi Radikalisasi
Malang, 4 November 2025 — Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia melalui Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan menggelar kegiatan Pelatihan Penanggulangan Terorisme di Hotel The Alana, Malang.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT, yang dalam sambutannya menegaskan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi ancaman terorisme yang semakin dinamis dan kompleks.
Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa upaya penanggulangan terorisme tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan keamanan semata, melainkan juga membutuhkan strategi pencegahan yang menyentuh akar masalah di masyarakat.
“Saat ini pola serangan teror telah bergeser. Dari pendekatan keras (hard attack) menuju soft approach attackyang lebih halus dan sulit terdeteksi. Karena itu, peningkatan kapasitas dan sinergi lintas instansi menjadi kunci utama,” ujarnya dalam pembukaan.
Berdasarkan data BNPT yang dipaparkan dalam sesi materi, tren aksi terorisme di Indonesia selama periode 2015–2024menunjukkan fluktuasi. Jumlah penangkapan pelaku teror sempat mencapai puncak pada tahun 2019 dengan 396 kasus, namun tren aksi menurun dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun demikian, BNPT menilai ancaman ideologi ekstrem masih tinggi, terutama dalam bentuk radikalisasi digitalyang menyasar perempuan, anak, dan remaja.
Dalam materi bertajuk Teori Gunung Es, BNPT menyoroti bahwa yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari ancaman nyata, sedangkan di bawah permukaan masih terjadi proses penyebaran paham radikal yang lebih berbahaya.
Pergeseran strategi kelompok teror juga tampak berubah dari “bullet strategy” menuju “ballot strategy”, yakni upaya mempengaruhi opini publik dan ruang politik secara halus.
Kegiatan ini diikuti oleh unsur aparat penegak hukum, pemerintah daerah, akademisi, tokoh agama, dan organisasi masyarakat sipil.
Melalui pelatihan ini, BNPT berharap peserta dapat memperkuat sistem Early Warning and Early Response (EWER)di wilayahnya masing-masing serta membangun koordinasi yang efektif dalam mencegah potensi ancaman terorisme.
“Sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi benteng utama dalam menjaga keutuhan NKRI dari ancaman ideologi kekerasan,” pungkas Direktur Pembinaan Kemampuan BNPT dalam penutupan sesinya.
