Langsung ke konten
Jumat, 11 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Artikel

Meracik Masa Depan di Dapur Ayam Geprek

 

FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM – Sebelum azan subuh menggaungkan kemerduannya, gawai
usang Ibu Sarmini telah lebih dahulu memecahkan keheningan. Di antara gelapnya malam,
ada satu titik di sudut kota dengan sorot cahaya terang, titik itu adalah dapur
perjuangannya.

Tangan-tangan cekatan itu mulai menari. Membelah
puluhan kilogram ayam, meracik bumbu rahasia yang aromanya langsung menusuk
hidung, dan menyiapkan wajan-wajan besar. Suara pisau beradu dengan talenan dan
desis minyak yang mulai panas menjadi musik pengiring paginya. Ini adalah
rutinitas. Sebuah maraton harian yang ia mulai tepat pukul setengah empat pagi,
setiap hari, tanpa jeda.

Pekerjaan di dapur ini bukan sekadar persiapan untuk
satu warung. Ini adalah jantung dari tiga cabang usaha ayam geprek yang ia
bangun dari nol. Sebelas tahun lalu, setelah suaminya tak lagi menafkahi,
Sarmini seorang diri harus menghidupi dua anaknya yang masih kecil.

Kini, bumbu yang ia ulek sebelum fajar itu akan
menjadi bumbu 35 kilogram ayam geprek yang tersebar di tiga penjuru kota.
Pekerjaan yang dulu ia mulai seorang diri, kini menghidupi 11 orang karyawan.

Sarmini masih ingat betul hari pertama ia membuka warung
kecilnya 11 tahun silam. Berbekal resep seadanya dan tekad yang lebih besar
dari modalnya, ia nekat memulai.

“Bukan 35 kilo seperti sekarang,” kenangnya
sambil tersenyum tipis. “Saya hanya berani membeli 5 kilogram ayam. Semua Saya
kerjakan sendiri.” ucapnya saat ditemui di salah satu kedainya, Lidah
wetan, Lakarsantri, Surabaya, Rabu, 12 November 2025.

Ia merinci apa arti “sendiri” saat itu:
belanja ke pasar sebelum matahari terbit, mengulek bumbu, menggoreng, melayani
pembeli, hingga mencuci tumpukan piring kotor di akhir hari. Di sela-sela itu,
ia masih harus memastikan kedua anaknya makan dan mengerjakan pekerjaan rumah.

“Laku 15 porsi sehari saja rasanya sudah bersyukur sekali.
Sering pulang dengan kondisi masakan masih banyak. Sedih, tetapi saya tidak
menyerah. Yang penting mereka bisa makan dan sekolah,” ujarnya.

Akan tetapi, Ibu Sarmini punya satu modal yang tak
pernah habis, yakni konsistensi. Sambalnya harus sama enaknya, ayamnya harus
sama renyahnya, setiap hari. Pelanggan yang datang satu kali, datang kembali
membawa teman.

Titik baliknya datang di tahun ketiga. Warungnya mulai
ramai. Ia kewalahan.

“Saat itu saya pertama kali berani menggaji
orang. Rasanya bangga sekali,” katanya. “Saya tidak lagi berjuang
sendirian. Dari ‘saya’ menjadi ‘kami’.”

Dari 5 kilogram, perlahan naik menjadi 10 kilogram. Tabungan
dikumpulkan sedikit demi sedikit, bukan untuk kemewahan, tapi untuk memutar
roda usaha lebih besar. Ia memberanikan diri membuka cabang kedua, lalu di
tahun kesembilan, cabang ketiga.

Iklan

Itu bukan keajaiban. Itu adalah hasil dari ribuan pagi
buta, manajemen keuangan yang ketat, dan keberanian seorang ibu yang menolak
menyerah pada nasib.

Kini, di dapurnya pukul 03:30 pagi, ia adalah seorang
komandan. Lima karyawan membantunya, sedangkan enam yang lain tersebar di tiga
cabangnya. Sarmini tidak hanya menghidupi keluarganya, ia menciptakan lapangan
kerja.

Keringat yang menetes sejak subuh itu telah menjelma
menjadi sesuatu yang nyata. Anak sulungnya kini duduk di bangku kuliah, dan si
bungsu berseragam SMA.

Pukul 10 pagi, saat panci-panci bersih dan 35 kilogram
ayam berbumbu siap didistribusikan, pekerjaan Sarmini belum selesai. Dia
berganti peran. Dari koki di pagi buta, menjadi manajer di siang hari.

Ia berkeliling ke tiga cabangnya, memastikan kasir
beres, menyapa pelanggan, dan menjaga standar rasa.

Pukul sembilan malam. Tiga warung telah tutup. Sarmini
duduk sejenak di salah satu kursinya yang kosong, melepas lelah yang tertahan
belasan jam.

11 tahun, nyaris 18 jam sehari. Apa yang membuatnya
terus kuat?

“Orang bilang saya sukses. Saya tidak tahu,”
ujarnya pelan. “Bagi saya, kompor ini harus terus menyala. Ini bukan cuma
soal ayam geprek, ini soal masa depan anak-anak.”

Ia berhenti sejenak, menatap ke arah warungnya yang
sudah rapi.

“Capek itu pasti, tapi melihat mereka bisa
sekolah dan karyawan saya bisa berpenghasilan, capek saya lunas,” pungkasnya.

Herlina Devi
Lestari
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.