Langsung ke konten
Jumat, 14 Agustus 2026
Headline Ketua Perbasi Sekaligus Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan Muhammad Zaini Persiapkan Atlet Hadapi Popda 2026, Target Juara
Artikel

Cinta Ibu Penjual Nasi: Dari Lapak Pasar Lawang ke Gerbang Unesa

 

FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM – Pagi-pagi sekali,
sebelum matahari muncul sempurna, aroma nasi hangat dan sambal terasi sudah
tercium dari sudut Pasar Lawang. Dari lapak kecil sederhana, ibuku berdiri
melayani pembeli — senyum di wajahnya tak pernah hilang, meski peluh bercucuran
di dahi.


Aku tumbuh di antara wangi nasi dan hiruk pikuk pasar. Setiap butir nasi yang
dijual ibu menyimpan cerita perjuangan, cinta, dan harapan. Dari situlah aku
belajar arti kerja keras dan ketulusan.


Sejak lama, aku punya mimpi untuk kuliah di Universitas Negeri Surabaya
(Unesa). Aku tahu, mimpi itu besar — terlalu besar, mungkin, untuk anak dari
seorang penjual nasi di pasar tradisional. Tapi aku tetap berusaha.


Tahun pertama, aku ikut tes SBMPTN. Hari-hariku diisi belajar tanpa henti,
begadang demi menghafal materi. Namun, ketika pengumuman tiba, namaku tidak ada
di daftar kelulusan. Aku gagal. Rasanya hancur. Tapi ibuku menatapku dengan
lembut dan berkata, ‘Namanya juga berjuang, Nak. Kalau gagal sekali, bukan
berarti kamu berhenti.’


Aku mencoba lagi. Tes di kampus lain, daftar di beberapa universitas, tapi
hasilnya tetap sama. Gagal. Semangatku sempat redup, tapi ibuku tak pernah
menyerah.


‘Kalau jalur mandiri, Ibu usahain. Kamu fokus belajar aja,’ katanya sambil
menyiapkan nasi bungkus untuk pelanggan.


Aku tahu, biaya jalur mandiri itu tidak sedikit. Tapi ibu benar-benar berjuang.
Ia menambah jam jualan, menerima pesanan nasi bungkus, bahkan melayani hajatan
kecil di kampung. Semua dilakukan demi satu hal: agar aku bisa kuliah.


Dan akhirnya, lewat jalur mandiri, aku resmi diterima di Universitas Negeri
Surabaya. Saat membaca pengumuman itu, aku langsung menangis dan memeluk ibu
erat-erat. Kami menangis bersama — bukan karena sedih, tapi karena bahagia dan
lega.


Kini, kehidupan kami berubah. Ibu tidak lagi berjualan di Pasar Lawang.
Usahanya berkembang menjadi usaha wisata kolam pancing dan warung makan
sendiri. Dari lapak kecil di pasar, kini ibu punya tempat yang ramai dikunjungi
banyak orang.


Setiap kali aku pulang kuliah, aku selalu melihat ibu tersenyum di warungnya.
Senyum yang dulu menguatkanku saat gagal, senyum yang jadi sumber semangatku
untuk terus melangkah.


Kalau bukan karena ibu, mungkin aku sudah menyerah di tengah jalan. Kini,
setiap kali aku mengenakan jas almamater Unesa, aku tahu — keberhasilanku bukan
hanya milikku. Itu hasil dari cinta, keringat, dan doa seorang ibu penjual nasi
dari Pasar Lawang yang tak pernah berhenti bermimpi untuk anaknya.

Neng Ayuk Wulandari
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya