Catatan: Yousri Nur Raja Agam.
Wartawan Senior di Surabaya.
๐๐๐๐๐ | ๐
๐ผ๐๐๐๐๐ผ๐๐๐๐๐๐.๐พ๐๐: BEGITU โjeleknya wajahโ polisi kita (Indonesia), pada suatu zaman, jatuhlah vonis: Tidak ada lagi Polisi kita yang baik.
Artinya, semua dipukul rata, tanpa menyebut โoknumโ. Menyatakan, bahwa polisi itu nakal, jahat, sadis, kejam, bejad,ย pemeras, mata duitan, dan masih banyak lagi tuduhan, julukan atau cap terhadap perilaku polisi yang negatif. Perangai polisi kita benar-benar pernah berada di ujung tanduk โ๐ฉ๐๐๐๐๐ฉ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ โ.
Berbagai celoteh muncul untuk menyudutkan bapak polisi,ย bahkan juga tidak peduli lagi dengan senyum manis nona-nona dan ibu-ibu Polwan yang cantik. Pokoknya, polisi itu adalah profesi dan pekerjaan yang hina. Sehingga pamor polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, dianggap โ๐ด๐ฆ๐ญ๐ฐ๐จ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ข๐ญ๐ด๐ถโ.
Presiden Republik Indonesia Abdurrahman Wahid yang disapa Gus Dur (kala itu) sempat membuat kesimpulan,ย hanya ada tiga polisi yang baik.ย Pertama: Jenderal Polisi Hoegeng, kedua: Patung Polisi, dan ketiga: Polisi Tidur.
Jenderal Polisi Hoegeng adalah Kapolri (Kepala Kepolisian Republik Indonesia) โteladan yang belum ada tandingan popularitas kebaikannya. Kapolri Hoegeng ini โsenimanโ. Beliau adalah polisi baik, jujur, anti korupsi, anti suap, anti mempersulit dan melindungi anak buah, serta keluarganya dari tudingan negatif. Banyak contoh yang dipraktikkan dalam keseharian โSang Bapak Polisi Baik dan Jujur iniโ. Seperti cuplikan di bawah ini. Klik:
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-rsk/baca-artikel/13723/Tokoh-Inspiratif-Pegiat-Anti-korupsi-Jenderal-Hoegeng-Sang-Polisi-Jujur.html
ย
Nah, yang kedua: Patung Polisi. Batu yang dibentuk seperti tubuh manusia berseragam polisi. Semuanya โdiamโ. Tetapi penuh arti. Ada pancaran keteladanan yang berkaitan dengan sejarah. Banyak contoh dari patung-patung polisi itu. Selain sebagai tokoh dan pahlawan sejarah, juga gambaran keteladanan.ย
Mulai dari Patung Gajahmada, yang diyakini sebagai Bhayangkara Negara dalam sejarah Majapahit. Itulah yang dianggap sebagai nenek moyang polisi Indonesia. Ada lagi patung polisi, perlambang pahlawan, pejuang, tokoh dan para mantan petinggi polisi.
Ada lagi, โ๐๐๐ฉ๐ช๐ฃ๐ ๐ฅ๐ค๐ก๐๐จ๐โ yang dipajang di persimpangan jalan, pojok jalan, pinggir jalan dan di tengah-tengah pembatas jalan raya. Fungsinya sebagai gambaran polisi yang tidak pernah tidur. Selalu siap dan siaga menjaga keamanan dan mengatur lalulintas jalan raya.
Selain itu, ada lagi. Disebut: โ๐๐ค๐ก๐๐จ๐ ๐๐๐๐ช๐งโ. Ini nama yang diberikan kepada rambu lalulintas untuk โmengurangi lajuโ โ memperlambat jalan kendaraan.ย Entah siapa โanonimโ yang mempersembahkan nama polisi tidur untuk โgundukanโ yang disebut membuat para pengemudi โdipaksaโ memperlambat laju jalan kendaraannya. Polisi tidur juga disebut sebagai speed hump dan ada yang menyebutnya speed bump.
Ternyata Polisi tidur sudah dijelaskan dalam Undang-Undang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ). Serta dalam Peraturan Menteri Perhubungan. Mulai dari bahan, ukuran, warna, dan jenis polisi tidur, harus mengikuti aturan yang berlaku.
Polisi tidur kerap dijumpai di jalan raya, sampai di gang-gang sempit. Keberadaannya kerap dibenci karena menghambat laju kendaraan. Istilah polisi tidur tak hanya ada di Indonesia. Juga di berbagai negara.ย
Pernah ada Kapolda Jatim, Bapak Koesparmono Irsan, membuat suatu judge (bahasa gaul) mengatakan: โJangankan polisi di pinggir jalan dan penyidik di markas, dituding tidak bersahabat, โpolisi tidurโ di gang-gang jalan perumahan pun dianggap meresahkanย
Jadi stigma tentang polisi baik dan meresahkan itu sudah lazim. Polisi juga manusia. Kecuali patung polisi dan polisi tidur itu.
Sehingga, ada beberapa teman saya anak polisi yang bangga dengan kiprah orangtuanya, yang punya sikap aji mumpung. Kapan lagi, kalau tidak saat ini. Nanti kalau sudah pensiun, bisa menyesal. Bahkan, dengan bangga teman saya ini bercerita, suatu hari ibunya mengatakan Bapakmu marah, โsempritanโ (peluit)-nya kamu bawa. โKamu tahu nggak, sempritan itu lebih berharga daripada pistol oleh Bapakmu. Dengan sempritan itulah Bapakmu bisa dapat uangโ, kata ibunya.
Tetapi, justru di balik itu: โTernyata Masih Ada Polisi Baikโ, adalah judul artikel saya yang pernah dijadikan โjudul skripsiโ oleh teman saya di Bandung. Dia itu anak polisi. Bapaknya purnawirawan polisi berpangkat Kolonel Polisi (sekarang kembali disebut Kombespol atau Komisaris Besar Polisi)..ย
Kehidupan bapak dan keluarganya biasa-biasa saja. Sederhana. Rumahnya tidak mewah. Kendati waktu menjabat banyak kesempatan memanfaatkan pengaruhnya sebagai Komandan Polisi (waktu itu). Dia tidak hendak membeking perjudian dan konglomerat,ย Menolak suap dan pelit memberi katabelece. Bapaknya, tidak marah disebut โPolisi Bodohโ, kata teman saya itu. Itulah sebabnya judul artikel saya dicuplik menjadi judul skrpsinya.
๐ด๐๐๐๐๐: ๐ต๐๐๐๐๐ข


Komentar Pembaca
Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.