Langsung ke konten
Selasa, 13 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Tim Dosen HI UMM Luncurkan Buku Riset Kerja Sama Maritim Indonesia–Korea Selatan

Tim peneliti dari Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mengkaji peluang strategis pengembangan

Penyerahan cenderamata dalam rangkaian riset kerja sama maritim.

Penyerahan cenderamata dalam rangkaian riset kerja sama maritim. (Foto: Humas UMM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Dunia akademik kembali mencatatkan karya gemilang. Tim peneliti dari Program Studi (Prodi) Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses mengkaji peluang strategis pengembangan jaringan kerja sama maritim antara Indonesia dan Korea Selatan melalui pendekatan maritime paradiplomacy. Riset bergengsi yang mendapat dukungan penuh dari Korea Foundation lewat program 2025 KF Policy Research Grant ini resmi dibukukan dengan judul Archipelago Meets Peninsula: Building a Regional Maritime Paradiplomacy Network between Indonesia and South Korea, yang diterbitkan oleh Penerbit UMM pada Juli 2026.

Bedah Potensi Maritim Lewat Pendekatan Paradiplomasi Daerah

Tim peneliti HI UMM saat berada di kantor Korea Foundation.
Tim peneliti HI UMM saat berada di kantor Korea Foundation. (Foto: Humas UMM)

Penelitian mendalam tersebut dipimpin oleh Tonny Dian Effendi bersama tiga anggota timnya, yakni Havidz Ageng Prakoso, Shannaz Mutiara Deniar, dan Hamdan Nafiatur Rosyida. Kajian ini menyoroti peran penting pemerintah daerah, otoritas pelabuhan, kota pelabuhan, hingga berbagai institusi lokal dalam merajut kemitraan lintas negara. Dengan demikian, relasi maritim tidak lagi sekadar bertumpu pada hubungan antarpemerintah pusat semata, melainkan mampu dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan riil di tingkat lokal.

Salah satu anggota tim peneliti, Hamdan Nafiatur Rosyida, menjelaskan bahwa pendekatan paradiplomasi maritim ini memberikan keleluasaan bagi daerah untuk menyelaraskan agenda kemitraan.

Baca juga: MAN 2 Jalin Kerja Sama Internasional dengan Korea MF untuk Pengembangan Madrasah Berasrama

Baca juga: Dari Jawa Timur ke Korea Selatan: UNESA dan UNHASY Buka Jalan Kolaborasi Akademik Internasional

Iklan

“Melalui pendekatan paradiplomasi maritim, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dapat dibangun lebih dekat dengan kebutuhan daerah. Potensi pelabuhan, perikanan, ekonomi biru, dan pariwisata bahari bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kolaborasi yang saling melengkapi,” ujar Hamdan.

Buku hasil riset kolaborasi maritim Indonesia–Korea Selatan karya tim dosen HI UMM.
Buku hasil riset kolaborasi maritim Indonesia–Korea Selatan karya tim dosen HI UMM. (Foto: Humas UMM)

Pendekatan tersebut tidak hanya memperkuat konektivitas logistik dan tata kelola pelabuhan, tetapi juga membuka ruang peningkatan kapasitas sumber daya manusia di kedua negara. Sebagai bagian dari rangkaian riset, tim juga telah menggelar lokakarya kolaboratif pada Januari 2026 yang mempertemukan para peneliti dari Indonesia dan Korea Selatan untuk merumuskan perspektif bersama.

Keterlibatan Aktor Lokal dan Prospek Kerja Sama Masa Depan

Rektor UMM bersama perwakilan tim peneliti saat menunjukkan buku riset terbaru.
Rektor UMM bersama perwakilan tim peneliti saat menunjukkan buku riset terbaru. (Foto: Humas UMM)

Buku akademik ini turut diperkuat dengan kata pengantar dari Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik. Dalam pandangannya, dinamika hubungan internasional saat ini tidak lagi dimonopoli oleh kekuatan besar atau pemerintah nasional saja. Kehadiran aktor lokal—seperti kota, kawasan pelabuhan, institusi, hingga komunitas—memiliki peran strategis dalam membangun hubungan lintas negara. Perguruan tinggi juga dinilai krusial sebagai jembatan yang menghubungkan pengembangan ilmu pengetahuan dengan praktik kebijakan nyata.

Berbagai topik menarik dikupas tuntas dalam buku tersebut, mulai dari potensi Pelabuhan Busan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur, prospek kerja sama di Probolinggo serta Kalimantan Timur, pengembangan ekonomi biru dan pariwisata bahari, hingga tata kelola perlindungan nelayan migran. Perbedaan karakteristik antara Indonesia yang kaya akan sumber daya laut serta konektivitas antarpulau, dengan Korea Selatan yang unggul dalam teknologi maritim, perdagangan laut, dan manajemen pelabuhan modern, diyakini mampu menciptakan pertukaran pengetahuan yang sangat bernilai.

Melalui publikasi ini, Prodi HI UMM bersama Center for East Asia Studies berharap karya tersebut dapat menjadi referensi komprehensif bagi akademisi, mahasiswa, pemerintah daerah, pengambil kebijakan, hingga pengelola pelabuhan. Ke depan, gagasan kolaboratif ini diharapkan mampu memicu kerja sama konkret antarkota dan antarpelabuhan yang memberikan dampak positif bagi kawasan pesisir kedua negara.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.