Langsung ke konten
Selasa, 13 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Mahasiswa UM Sulap Limbah Organik Jadi WHISH, Inovasi Tisu Pembersih Sepatu Ramah Lingkungan

Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) sukses meluncurkan inovasi

Tampilan kemasan produk WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes) berbahan dasar ampas tebu dan ekstrak kulit lemon.

Tampilan kemasan produk WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes) berbahan dasar ampas tebu dan ekstrak kulit lemon. (Foto: Humas UM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepedulian terhadap isu lingkungan kembali dibuktikan oleh dunia akademisi. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) sukses meluncurkan inovasi kreatif bertajuk WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes). Produk ini merupakan tisu perawatan khusus sepatu putih yang terbuat dari bahan dasar limbah organik.

Sulap Limbah Ampas Tebu dan Kulit Lemon Jadi Produk Bernilai Ekonomi

Potret kompak Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang (UM) pencipta inovasi WHISH di depan gedung rektorat.
Potret kompak Tim PKM-K FEB Universitas Negeri Malang (UM) pencipta inovasi WHISH di depan gedung rektorat. (Foto: Humas UM)

Inovasi yang dikembangkan dalam rentang waktu 17 Februari hingga 30 April 2026 ini digagas untuk membantu membersihkan debu serta noda ringan pada sepatu secara praktis. Di tengah masifnya kampanye keberlanjutan global, tim mahasiswa UM memilih untuk menerapkan konsep ekonomi sirkular. Berbeda dari sistem linier konvensional yang berprinsip take–make–dispose (ambil, buat, buang), ekonomi sirkular memastikan sumber daya tetap berputar dalam siklus produksi sehingga limbah bisa diolah kembali.

Ketua Tim PKM-K FEB UM, Sekar Wahyu Ningtyas, menjelaskan bahwa produk ini lahir dari kesadaran untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap limbah organik.

Baca juga: Kalahkan PTN, UMM Sabet Peringkat 1 Kampus Paling Berkelanjutan Se-Malang Raya di UI GreenMetric 2026

Baca juga: Gelar Schoolicious Uprising Day, SMAN 1 Turen Buka Ruang Kolaborasi dan Asah Jiwa Kewirausahaan Siswa

Iklan

“Melalui WHISH, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, tetapi dapat menjadi awal lahirnya produk baru yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi contoh bahwa ekonomi sirkular dapat diterapkan melalui produk yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari,” ujar Sekar.

Dalam praktiknya, tim memanfaatkan ampas tebu sebagai bahan utama lembaran tisu yang bersifat biodegradable atau mudah terurai. Tidak hanya itu, larutan aktif di dalam tisu ini juga menggunakan ekstrak kulit lemon dari limbah industri minuman yang diproses lewat teknologi nanoenkapsulasi guna menjaga kestabilan senyawa aktifnya. Sebagai pelengkap formulasi, ditambahkan pula biosurfaktan alami dari ekstrak lidah buaya (Aloe vera) untuk membantu mengangkat kotoran, minyak, dan debu secara optimal tanpa merusak material sepatu.

Kolaborasi Lintas Disiplin dan Strategi

Pemasaran Berkelanjutan
Keberhasilan pengembangan produk ini tidak lepas dari kolaborasi lintas disiplin ilmu yang solid. Tim WHISH diketuai oleh Sekar Wahyu Ningtyas (S-1 Pendidikan Bisnis) dengan anggota Ervina Mei Ananda Putri (S-1 Pendidikan Bisnis), Adrian Arif Pambudi (S-1 Biologi), Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto (S-1 Pendidikan Kimia), serta Kharisma Putri Ambarwati (S-1 Pendidikan Bisnis). Perpaduan keilmuan ini memungkinkan terciptanya produk yang matang baik dari sisi bisnis, biologi, maupun kimia.

Produk WHISH dirancang sebagai solusi perawatan harian (daily aftercare) yang sangat praktis digunakan kapan saja sebelum noda menumpuk atau menguning. WHISH aman diaplikasikan pada berbagai jenis material sepatu putih seperti synthetic leather, PU leather, hingga microfiber leather, serta bagian midsole berbahan EVA, PU, dan TPU.

Untuk urusan hilirisasi dan bisnis, tim tidak hanya berfokus pada riset laboratorium. Mereka telah merancang model bisnis strategis mulai dari pemasaran digital, promosi langsung, hingga menjalin kemitraan strategis dengan toko-toko sepatu serta jasa cuci sepatu (shoe laundry). Satu boks WHISH berisi delapan saset (masing-masing berisi dua lembar tisu basah) dan dipasarkan dengan harga terjangkau, yakni Rp30.000 per boks, sehingga ramah di kantong mahasiswa maupun masyarakat umum.

Inovasi mahasiswa UM ini dinilai sejalan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 12 terkait konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta SDG 9 mengenai industri, inovasi, dan infrastruktur. Dengan dukungan penuh dari pihak FEB dan universitas, tim berharap WHISH dapat terus berkembang menjadi produk berdaya saing tinggi yang mampu menginspirasi generasi muda lainnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.