Langsung ke konten
Sabtu, 10 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Jurnalisme Profetik Jadi Solusi Media Modern, PSIB UMM Tegaskan Pentingnya Berita yang Mencerahkan

Mengusung tema besar mengenai jurnalisme profetik dan ekosistem media emansipatif, kegiatan ini menghadirkan para pakar komunikasi dan pimpinan perguruan

Suasana kajian Islam multidisipliner bertema jurnalisme profetik yang digelar oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Ruang Sidang Senat UMM.

Suasana kajian Islam multidisipliner bertema jurnalisme profetik yang digelar oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Ruang Sidang Senat UMM. (Foto: Humas UMM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan arus informasi digital yang bergerak cepat menuntut media massa untuk tidak sekadar berlomba-lomba mempublikasikan berita secara instan.

6Lebih dari itu, media harus mampu membimbing masyarakat dalam memahami persoalan secara komprehensif, memilah kebenaran informasi, serta menghadirkan perspektif yang mencerahkan.

Pesan krusial tersebut mengemuka dalam forum kajian Islam multidisipliner yang dihelat oleh Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Ruang Sidang Senat UMM. Mengusung tema besar mengenai jurnalisme profetik dan ekosistem media emansipatif, kegiatan ini menghadirkan para pakar komunikasi dan pimpinan perguruan tinggi untuk membedah arah masa depan media.

Baca juga: Kisah Inspiratif Isa Almasih Putra Muhammadiyah: Dari Rasa Minder hingga Pidato di Podium Wisuda UMM

Baca juga: KSMN II 2026 Sukses Digelar di Coban Rondo Malang: Ribuan Santri Muhammadiyah se-Indonesia Siap Jadi Pemimpin

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Roni Tobroni, M.Si., dalam paparannya menegaskan bahwa jurnalisme profetik berpijak kokoh pada tiga nilai fundamental kenabian, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi. Menurutnya, ketiga pilar ini wajib menjadi kompas moral agar setiap produk jurnalistik tidak berhenti sekadar melaporkan fakta mentah, melainkan aktif mendorong nilai kemanusiaan, membebaskan masyarakat dari belenggu masalah sosial, sekaligus memperkuat nilai keimanan.

“Jadi kalau kita bicara jurnalisme profetik sebenarnya sudah diamalkan oleh Muhammadiyah sejak awal,” ungkap Roni di hadapan para peserta.

Ia lantas mengenang rekam jejak historis yang digagas oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Jauh sebelum era digital seperti sekarang, KH Ahmad Dahlan telah menaruh perhatian yang sangat besar terhadap dunia literasi dan media massa. Bukti nyata itu diwujudkan lewat penerbitan majalah Suara Muhammadiyah pada tahun 1915 silam sebagai instrumen dakwah sekaligus penyebaran pencerahan pengetahuan.

Iklan

Bagi Roni, sejarah emas tersebut membuktikan bahwa media sejak dulu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan dakwah Muhammadiyah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa secara tertib dan mencerahkan. Kendati demikian, ia tidak menampik bahwa tantangan industri media masa kini jauh lebih kompleks di tengah perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang cenderung instan.

Ia mengingatkan para insan media agar tidak terjebak pada pusaran sensasi semata. Meski isu-isu yang sedang viral tetap perlu diangkat, pembahasannya wajib dikemas melalui sudut pandang yang jernih dan selaras dengan nilai-nilai Islam Berkemajuan. Dengan strategi tersebut, media diyakini tetap bisa hadir di tengah percakapan publik tanpa kehilangan arah orientasi moral ataupun ikut memperkeruh polarisasi di masyarakat.

“Roni juga menekankan perlunya memperkuat kelembagaan media afiliasi, mulai dari legalitas, kapasitas sumber daya manusia, hingga mutu konten,” ujarnya. Penguatan jejaring yang solid dinilai sebagai modal utama untuk saling bertukar pengalaman sekaligus mendongkrak profesionalisme jurnalis. Di sisi lain, media juga dituntut untuk semakin peka terhadap dinamika isu publik di luar lingkaran internal organisasi agar substansi pemberitaan senantiasa relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dorong Narasi Kemanusiaan yang Membumi

Senada dengan hal tersebut, Kepala Humas UMM sekaligus Ketua Departemen Kerja Sama dan Kehumasan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Maharina Novia Zahro, M.I.Kom., menyoroti urgensi pengemasan praktik baik (best practices) yang telah dilakukan oleh persyarikatan Muhammadiyah agar bisa terserap dengan baik oleh masyarakat luas.

Maharina menilai bahwa berbagai program layanan strategis di sektor pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga aksi-aksi kemanusiaan harus disampaikan lewat narasi yang dekat dengan denyut nadi dan kebutuhan publik, bukan sekadar laporan seremonial kegiatan internal.

Iklan

“Muhammadiyah banyak melakukan hal baik yang perlu dikemas dan disampaikan kepada masyarakat luas agar manfaatnya semakin dikenal,” tegas Maharina.

Ia menambahkan, gelombang dampak positif dari kerja-kerja sosial tersebut akan meluas secara organik manakala masyarakat turut berpartisipasi membagikan pengalaman positif mereka. Oleh karena itu, strategi komunikasi publik saat ini wajib adaptif terhadap karakteristik unik dari masing-masing platform digital. Cara penyajian informasi harus dibuat semenarik dan sesederhana mungkin agar mudah dicerna publik tanpa sedikitpun mengorbankan unsur akurasi data serta esensi nilai organisasi.

Komitmen Perguruan Tinggi Sebagai Ruang Gerak Nyata

Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., memberikan penegasan pamungkas mengenai peran strategis institusi pendidikan tinggi. Ia menggarisbawahi bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah harus konsisten bertransformasi menjadi laboratorium pemikiran sekaligus pusat gerakan nyata yang mampu menerjemahkan nilai-nilai Islam Berkemajuan ke dalam terapan kehidupan sehari-hari.

Bagi Prof. Nazaruddin, dakwah di era kontemporer tidak boleh hanya berhenti pada tataran retorika gagasan atau ritual keagamaan semata, melainkan harus mewujud dalam bentuk aksi nyata yang mendatangkan kesejahteraan bagi umat.
“Islam itu harus didakwahkan, harus menghasilkan praktik yang mensejahterakan umat manusia,” tandas Rektor UMM itu.

Melalui agenda strategis yang dimotori oleh PSIB UMM ini, universitas membuka ruang selebar-lebarnya bagi dialog lintas disiplin ilmu guna menguliti berbagai tantangan kompleks di bidang komunikasi, corak dakwah, hingga dinamika kehidupan masyarakat modern. Penguatan pilar jurnalisme profetik yang disokong oleh ekosistem jejaring media afiliasi yang tangguh diharapkan mampu melahirkan produk-produk jurnalistik yang responsif terhadap isu kemasyarakatan, menjunjung tinggi etika, serta konsisten menghadirkan pencerahan bagi publik.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.