Langsung ke konten
Selasa, 29 September 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Opini

Menyelamatkan Desa Wisata: Dari Jebakan “Spot Selfie” Menuju Ekonomi Pengalaman

Oleh: Ibnu Wahyurianto (Pemerhati Wisata Berbasis Pengalaman)

Jebakan Komersialisasi Instan dan Fenomena “Spot Selfie”
Dalam satu dekade terakhir, gairah membangun desa wisata merebak pesat di berbagai pelosok Nusantara. Dorongan alokasi Dana Desa, kampanye pemulihan ekonomi pascapandemi, serta ambisi melepaskan diri dari kemiskinan struktural memicu perlombaan antardesa untuk memikat wisatawan. Namun, jika dicermati secara kritis, terdapat pola seragam yang memprihatinkan: maraknya pembangunan wahana “spot foto selfie” buatan. Dari gardu pandang berbentuk hati, patung warna-warni berskala masif, replika kincir angin, hingga dekorasi plastik buatan yang berdiri kontras di tengah lanskap alam yang asri.

Jebakan spot selfie ini melahirkan paradoks pariwisata pedesaan. Pada fase awal, strategi ini memang mampu menciptakan fenomena komersialisasi instan dan viralitas di media sosial. Foto-foto estetis di platform digital menyedot perhatian publik perkotaan. Namun, daya tariknya rapuh dan berumur pendek. Wisatawan yang datang hanya berstatus sebagai pengunjung transit—mereka singgah 15 hingga 30 menit sekadar untuk berfoto, membayar tiket masuk dan parkir yang murah, menyumbang sedikit transaksi ekonomi, lalu pulang dan hampir dipastikan tidak akan pernah kembali lagi (low return rate).

Ketika tren visual bergeser atau ketika destinasi tetangga membangun wahana foto yang lebih megah, fasilitas buatan tersebut lapuk terbengkalai. Tempat-tempat wisata yang dibangun dengan anggaran dana desa hingga ratusan juta rupiah berubah menjadi “fosil pariwisata”, meninggalkan investasi desa yang sia-sia tanpa dampak peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan bagi warga tempatan.

Penyebab utama dari penyakit kronis ini adalah kekeliruan paradigma dasar. Desa kerap dipandang sebatas objek wisata visual—ruang pasif yang sekadar dipamerkan untuk dipotret dari kejauhan. Padahal, kekuatan sejati desa tidak pernah terletak pada replika buatan yang bisa ditiru di mana saja, melainkan pada keaslian (authenticity) dan dinamika kehidupan masyarakatnya. Di era pariwisata modern, publik perkotaan tidak lagi haus akan hiasan visual semata. Mereka berburu ruang yang mampu menawarkan pembelajaran, kedekatan emosional, keaslian budaya, dan pengalaman yang bermakna.

Inilah momentum mendesak bagi desa untuk melakukan pergeseran paradigma (mindset shift): bergerak dari sekadar penyedia objek foto menuju pengembangan wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism).

Meredefinisi Sawah: Mengubah Komoditas Menjadi Edu-Farming
Salah satu modal terbesar desa yang selama ini luput dikemas secara kreatif adalah aktivitas agraris harian. Pertanian, perkebunan, dan peternakan sering kali dianggap sekadar rutinitas ekonomi biasa atau bahkan dipandang belaka sebagai mata pencaharian tradisional berpendapatan rendah. Padahal, di mata wisatawan—khususnya segmen keluarga, pelajar, dan masyarakat perkotaan yang terasing dari alam—aktivitas agraris ini merupakan wahana edukasi yang sangat berharga.

Melalui pendekatan edu-farming, bentang sawah dan kebun ditransformasikan dari tempat produksi komoditas mentah menjadi ruang belajar interaktif. Sawah tidak lagi dipajang untuk difoto dari atas bukit, tetapi dijadikan panggung di mana wisatawan dapat berinteraksi langsung. Anak-anak kota yang selama ini hanya melihat beras di supermarket diajak untuk menyentuh tanah, memahami proses pembibitan, mencoba menanam padi di atas lumpur, belajar cara merawat tanaman, hingga memetik hasil panen secara langsung bersama para petani setempat.

Proses merancang pengalaman wisata berbasis edu-farming ini tidak boleh dilakukan secara acak, melainkan membutuhkan metodologi yang terstruktur. Kita dapat mengadopsi kerangka lima tahap pengalaman: SEE, LEARN, DO, FEEL, dan SHARE.
See (Melihat): Wisatawan diajak mengamati alami, sistem irigasi tradisional, dan ritme kehidupan harian masyarakat tani.
Learn (Mempelajari): Petani bertransformasi dari buruh cangkul menjadi instruktur/mentor yang membagikan pengetahuan lokal (local knowledge) tentang jenis tanaman, pola musim, hingga kearifan lingkungan.
Do (Melakukan): Wisatawan terlibat secara fisik dalam aktivitas nyata: memegang alat tani, menyiangi gulma, memberi makan ternak, atau memetik buah dan sayur segar.
Feel (Merasakan): Dari keterlibatan aktif tersebut, tumbuh empati, rasa hormat terhadap profesi petani, kegembiraan proses belajar, dan ikatan emosional yang mendalam dengan alam.
Share (Membagikan): Pengalaman autentik dan menyentuh inilah yang pada akhirnya dibagikan oleh wisatawan ke media sosial. Promosi tidak lagi lahir dari rekayasa pemasaran buatan, melainkan dari testimoni jujur berupa storytelling pengalaman pribadi yang berdampak luas.

Pendekatan edu-farming ini terbukti mendongkrak nilai tambah (added value) ekonomi secara berlipat ganda. Satu hektar lahan sawah yang biasanya hanya menghasilkan pendapatan dari penjualan gabah tiap tiga bulan sekali, kini mampu menghasilkan multiplier effect ekonomi mingguan dari jasa edukasi, pemanduan, hingga pengolahan produk turunan.

Iklan

Membangun Ekosistem Komunitas dan Rantai Nilai Lokal
Pengembangan experience-based tourism berbasis edu-farming pada hakikatnya bukan sekadar proyek pariwisata, melainkan sebuah strategi pemberdayaan ekosistem komunitas (Community-Based Tourism). Kesalahan fatal lain dalam pengelolaan desa wisata adalah sifatnya yang egosentris—hanya dikuasai oleh pengembang swasta, investor luar, atau segelintir elite desa, sementara mayoritas warga hanya menjadi penonton di tanah kelahiran mereka sendiri.

Pariwisata berbasis pengalaman membutuhkan rantai nilai (value chain) yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat secara inklusif. Diantaranya ialah sebagai berikut:

Kelompok Tani: Bertindak sebagai penyedia lahan sekaligus mentor utama pengalaman bertani.

Kelompok Perempuan / PKK: Menggerakkan sektor industri olahan pangan berbasis Farm to Table. Bahan pangan hasil panen wisatawan diolah bersama menjadi kuliner khas lokal yang disajikan dengan kehangatan tradisi desa.

Pemuda / Karang Taruna: Mengambil peran dalam dokumentasi, pengelolaan teknologi digital, pendaftaran reservasi online, dan aktivasi pemasaran berbasis komunitas.

Pelaku UMKM Lokal: Menyediakan suvenir, kerajinan tangan, dan produk olahan pertanian kemasan sebagai kenang-kenangan yang dibawa pulang wisatawan.

Ketika seluruh komponen ini terikat dalam satu ekosistem kolaboratif, pariwisata mampu mendistribusikan pendapatan secara adil (local benefit). Pariwisata tidak merusak tatanan sosial, melainkan justru memperkuat gotong royong dan kebanggaan warga terhadap identitas desanya.

Iklan

Menjaga Keaslian dan Antidote Over-tourism
Meski menawarkan potensi ekonomi yang menjanjikan, pengembangan desa wisata berbasis edu-farming wajib mematuhi satu hukum utama: menjaga keaslian (authenticity) dan daya dukung lingkungan (carrying capacity).

Desa tidak perlu memaksakan diri berpura-pura menjadi destinasi glamor, membangun fasilitas perkotaan berlebihan, atau mengubah gaya hidup warganya demi memuaskan selera wisatawan. Keindahan desa justru terletak pada kejujuran dan kesederhanaannya. Jika sebuah desa berfokus pada pertanian, maka kembangkanlah cerita dan pengalaman pertanian itu secara mendalam, tanpa perlu menambah atraksi buatan yang tidak relevan.

Selain itu, pengelola desa wisata harus mewaspadai bahaya over-tourism—lonjakan pengunjung tak terkendali yang berisiko merusak ekosistem. Lahan pertanian adalah kawasan produktif dan rentan. Kehadiran wisatawan dalam jumlah masif tanpa kontrol dapat memadat tanah, merusak tanaman, mencemari air irigasi dengan sampah plastik, dan mengganggu ketenangan hidup warga.

Oleh karena itu, pendekatan pengalaman menekankan pada kualitas kunjungan (quality tourism), bukan sekadar kuantitas massa. Lebih baik menerima 30 wisatawan yang mengikuti paket edu-farming penuh selama setengah hari dengan transaksi ekonomi tinggi dan edukatif, daripada menerima 500 pengunjung spot selfie yang hanya meninggalkan sampah plastik dan kemacetan jalan desa.

Merawat Tanah, Menjemput Masa Depan
Era disrupsi dan perubahan perilaku berwisata masyarakat saat ini menghadapkan desa pada pilihan tegas: terus terjebak dalam tren instan spot selfie yang mudah pudar dan memicu pemborosan anggaran, atau berani berbenah membangun wisata berbasis pengalaman yang autentik, edukatif, dan bernilai tambah tinggi.

Melalui integrasi konsep experience-based tourism dan edu-farming yang menautkan potensi agraris, proses pembelajaran, serta keterlibatan aktif ekosistem komunitas, desa tidak hanya mampu menyelamatkan industri pariwisatanya dari ancaman kemunduran. Lebih dari itu, desa sedang mengembalikan harkat tanah pertaniannya, memperkuat kedaulatan ekonomi warganya, dan menjamin keberlanjutan masa depan desa di tengah gelombang zaman yang terus berubah.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.