Langsung ke konten
Rabu, 16 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Tak Bisa Tumbuh di Negaranya, Mahasiswa Jepang Antusias Pelajari Kopi Nusantara Bersama FPP UMM

Kopi Nusantara rupanya memiliki daya tarik luar biasa di kancah internasional. Daya tarik ini pula yang membawa empat mahasiswa

Keempat mahasiswa asal Shimonoseki City University, Jepang, tampil kompak dan antusias mengenakan busana batik saat mengikuti rangkaian program Summer Course di UMM.

Keempat mahasiswa asal Shimonoseki City University, Jepang, tampil kompak dan antusias mengenakan busana batik saat mengikuti rangkaian program Summer Course di UMM. (Foto: Humas UMM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kopi Nusantara rupanya memiliki daya tarik luar biasa di kancah internasional. Daya tarik ini pula yang membawa empat mahasiswa asal Shimonoseki City University, Jepang, terbang jauh ke Indonesia untuk mengikuti program Summer Course di Fakultas Pertanian dan Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang berlangsung pada 7 hingga 11 September 2026.

Menariknya, kegiatan ini tidak hanya sekadar mengurung mahasiswa di dalam ruang kelas. Para peserta asal Negeri Sakura tersebut diajak turun langsung ke lapangan untuk menelusuri pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir. Mereka berkesempatan berinteraksi secara intens dengan para petani dan pelaku usaha kopi lokal, sekaligus ditantang untuk merumuskan solusi inovatif atas berbagai persoalan riil yang mereka temukan di lapangan.

Kopi sengaja dipilih sebagai tema utama kegiatan mengingat komoditas unggulan Nusantara ini memiliki karakter kuat dan tidak dapat dibudidayakan secara alami di Jepang. Melalui pendekatan langsung di lapangan, peserta diperkenalkan pada tahapan proses budidaya, pengeringan, pengolahan, hingga alur distribusi kopi kepada konsumen.

Baca juga: Dorong Kualitas Pariwisata, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jatim Hadirkan Inovasi ‘Agrileisure Homestay’ Berstandar CHSE di Kampung Kopi Kluncing, Desa Wisata Sukorejo, Bondowoso

Baca juga: Faizah Salsabila Said, Mahasiswi FITK UIN Malang Raih Juara 3 Kategori Podcast Audio di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Pendekatan komprehensif ini dinilai sukses membuat para mahasiswa memahami bahwa kopi bukan sekadar komoditas dagang semata, melainkan juga bagian tak terpisahkan dari ekosistem sosial, teknologi, dan denyut ekonomi masyarakat lokal.
Pengalaman berharga ini diamini oleh salah satu peserta, Ikkei Ando. Mahasiswa program studi Ekonomi dari Shimonoseki City University ini mengaku takjub dan mendapatkan banyak pengalaman baru yang tak terlupakan selama berada di Malang.

“Saya belajar banyak hal tentang biji kopi Indonesia. Menariknya, saya tidak hanya belajar mengenai biji kopinya secara teori, tetapi juga berinteraksi langsung dengan para petani serta orang-orang di kafe. Dari situ saya bisa melihat dan memahami secara nyata bagaimana kopi didistribusikan hingga akhirnya sampai ke tangan konsumen,” ungkap Ikkei dengan penuh antusias.

Pengalaman turun lapang tersebut rupanya sukses memicu nalar kritis para peserta. Saat mengunjungi kawasan Wonosantri di Kecamatan Singosari, para mahasiswa asal Jepang ini mengamati proses pengeringan kopi dan menemukan adanya tantangan yang dihadapi petani, terutama terkait mobilitas pemindahan rak serta pemantauan kondisi pengeringan cuaca.

Iklan

Melalui observasi yang cermat, mereka kemudian menggagas ide inovatif yang dinamakan Open Rack System. Konsep ini secara khusus dirancang untuk memudahkan pemindahan rak pengering dengan memanfaatkan teknologi sensor guna memantau proses pengeringan. Hadirnya gagasan inovasi tersebut diharapkan dapat secara nyata mengurangi beban kerja petani, meningkatkan efisiensi waktu, dan senantiasa menjaga konsistensi kualitas kopi yang dihasilkan.

Peserta Summer Course FPP UMM bersama dosen dan para petani lokal berfoto bersama di area perkebunan kopi saat agenda observasi budidaya kopi dari hulu ke hilir.
Peserta Summer Course FPP UMM bersama dosen dan para petani lokal berfoto bersama di area perkebunan kopi saat agenda observasi budidaya kopi dari hulu ke hilir.

Menanggapi antusiasme mahasiswanya, Prof. Shinji Okazaki dari Shimonoseki City University memberikan apresiasi yang tinggi. Ia menilai model pembelajaran berbasis masalah di luar kelas seperti ini sangat krusial untuk membentuk mahasiswa yang mampu mengkoneksikan ilmu pengetahuannya dengan kebutuhan riil di masyarakat. Menurut Prof. Shinji, ruang belajar sejati tidak boleh berhenti di balik tembok kelas, melainkan harus meluas menyentuh lingkungan dan kehidupan masyarakat luas.

“Penelitian itu bukanlah kegiatan yang hanya bertujuan untuk memperoleh pengetahuan semata. Lebih dari itu, penelitian adalah sebuah tindakan menggunakan pengetahuan dan kemampuan kita secara nyata demi sesama manusia, masyarakat, dan tentunya bumi kita,” tegas Prof. Shinji.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Dekan I FPP UMM, Mochammad Wachid, S.TP., M.Sc., memaparkan bahwa program Summer Course ini merupakan bagian integral dari upaya UMM dalam memperkuat jejaring keilmuan di kancah internasional.

Selain mempromosikan pesona dan ekosistem kopi Nusantara, para delegasi Jepang ini juga turut dikenalkan pada inovasi ‘Kopi Gajah’ yang merupakan hasil riset membanggakan dari para dosen UMM.

“Kegiatan ini merupakan langkah strategis kampus untuk terus merawat kerja sama internasional, yang bermuara pada lahirnya ide-ide baru dalam kolaborasi penelitian, pengabdian, maupun pengembangan bisnis ke depannya. Harapan terbesarnya, kualitas pendidikan UMM bisa semakin direkognisi dan diakui secara masif di tingkat global,” pungkas Wachid.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.