MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tempat wisata tidak selalu berhenti sebagai ruang rekreasi. Bagi Charirotul Lathifa (NIM 220108110011), Lembah Tumpang di Kabupaten Malang juga dapat menjadi sumber belajar matematika. Gagasan tersebut dituangkan mahasiswa Program Studi Tadris Matematika FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang itu melalui penelitian skripsinya dengan mengembangkan E-LKPD berbasis STEM-RME untuk memfasilitasi computational thinking dan self-efficacy siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Di bawah bimbingan Ulfa Masamah, M.Pd., Charirotul menjadikan lingkungan Lembah Tumpang sebagai konteks pembelajaran. Melalui E-LKPD yang dikembangkan, siswa diarahkan untuk mengamati lingkungan sekitar, menemukan pola dan hubungan, kemudian mengaitkannya dengan konsep matematika yang sedang dipelajari.
Pendekatan tersebut berangkat dari gagasan bahwa matematika tidak harus selalu diperkenalkan melalui angka, rumus, dan soal di buku. Lingkungan yang dekat dengan kehidupan siswa dapat menjadi titik awal untuk memahami konsep yang sebelumnya terasa abstrak.
Dalam rancangan pembelajaran tersebut, objek dan karakter visual yang terdapat di Lembah Tumpang dimanfaatkan sebagai konteks. Siswa tidak sekadar menerima penjelasan konsep, tetapi didorong untuk mengamati, mengidentifikasi persoalan, menemukan pola, dan menghubungkan hasil pengamatan dengan konsep matematika.
Dengan cara tersebut, lingkungan lokal berfungsi sebagai ruang belajar kontekstual. Apa yang sebelumnya hanya dilihat sebagai bagian dari destinasi wisata dapat digunakan untuk membantu siswa memahami bahwa konsep matematika memiliki keterkaitan dengan berbagai fenomena dalam kehidupan sehari-hari.
E-LKPD yang dikembangkan Charirotul memadukan Realistic Mathematics Education (RME) dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). RME menempatkan situasi nyata sebagai titik awal pembelajaran, sementara STEM menghubungkan pembelajaran matematika dengan disiplin dan proses pemecahan masalah yang lebih luas.
Perpaduan tersebut membuat E-LKPD tidak sekadar menjadi lembar kerja konvensional yang dipindahkan ke perangkat digital. Teknologi digunakan untuk mengemas aktivitas pembelajaran, sedangkan siswa tetap menjadi aktor utama dalam mengamati, berpikir, menganalisis, dan menentukan langkah penyelesaian.
Salah satu kemampuan yang menjadi fokus penelitian adalah computational thinking. Melalui aktivitas yang dirancang dalam E-LKPD, siswa diarahkan untuk memahami persoalan, memilah informasi, mengenali pola, memecah persoalan menjadi bagian yang lebih sederhana, menentukan strategi, dan mengevaluasi proses penyelesaian.
Kemampuan tersebut tidak hanya relevan untuk pembelajaran matematika. Computational thinking juga menjadi bagian dari keterampilan berpikir yang dapat digunakan siswa ketika menghadapi persoalan baru di luar konteks pembelajaran.
Menariknya, kemampuan tersebut dilatih melalui konteks yang dekat dengan siswa. Mereka tidak harus selalu memulai dari persoalan abstrak di dalam buku, tetapi dapat berangkat dari lingkungan yang dapat diamati dan dikaitkan dengan konsep matematika.
Penelitian Charirotul juga memberikan perhatian pada aspek self-efficacy, yaitu keyakinan siswa terhadap kemampuan dirinya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan. Aspek ini penting karena kesulitan belajar matematika tidak selalu berkaitan dengan penguasaan konsep. Rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri juga dapat memengaruhi keberanian siswa untuk mencoba.
Melalui pembelajaran yang kontekstual, siswa diberi ruang untuk mencoba, menentukan strategi, menghadapi kesulitan, dan melihat hasil dari proses yang mereka lakukan. Pengalaman tersebut diharapkan dapat membantu siswa membangun keyakinan bahwa persoalan matematika dapat dihadapi melalui proses dan strategi yang tepat.
Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan Charirotul tidak hanya mempertemukan matematika dengan lingkungan lokal. E-LKPD tersebut juga dirancang untuk menghubungkan konteks nyata, teknologi digital, kemampuan berpikir, dan aspek psikologis dalam pembelajaran.
Bagi Program Studi Tadris Matematika FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, penelitian tersebut menunjukkan bagaimana tugas akhir mahasiswa dapat diarahkan untuk membaca persoalan pembelajaran sekaligus menggali potensi yang terdapat di lingkungan sekitar.
Lembah Tumpang menjadi contoh bahwa sumber belajar tidak selalu harus berasal dari ruang kelas. Ketika lingkungan dibaca melalui perspektif pendidikan, tempat yang sebelumnya dikenal sebagai destinasi wisata dapat menjadi konteks untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih dekat dengan kehidupan siswa.
Karya Charirotul juga memperlihatkan bahwa inovasi pembelajaran tidak harus memilih antara lokalitas dan teknologi. Keduanya dapat dipadukan: lingkungan lokal menjadi sumber konteks, pendekatan STEM-RME menjadi kerangka pembelajaran, sedangkan teknologi digital menjadi sarana untuk mengemas pengalaman belajar.
Dari Lembah Tumpang, Charirotul membawa satu gagasan penting ke dalam penelitian pendidikannya: matematika dapat dipelajari dengan membaca dunia di sekitar siswa. Ketika lingkungan menjadi konteks, teknologi menjadi alat, dan siswa diberi ruang untuk berpikir serta mencoba, pembelajaran matematika dapat bergerak dari sekadar memahami rumus menuju kemampuan membaca dan memecahkan persoalan nyata.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.