Langsung ke konten
Selasa, 15 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Bukan Sekadar Angka, Mahasiswa Tadris Matematika UIN Malang Ciptakan DEKOR untuk Jadikan Siswa Detektif Data

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Diagram pencar selama ini bisa terasa abstrak bagi siswa karena mereka berhadapan dengan titik, angka, dan pola yang harus dianalisis. Melihat persoalan tersebut, Mutiara Isma Dewi (NIM 220108110058), lulusan Program Studi Tadris Matematika FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengembangkan Papan Detektif Korelasi (DEKOR) sebagai media pembelajaran diagram pencar untuk siswa kelas XI.

Dikembangkan dalam skripsi di bawah bimbingan Dimas Femy Sasongko, M.Pd., DEKOR dirancang untuk mengubah aktivitas membaca diagram pencar menjadi proses investigasi. Siswa tidak langsung menerima diagram yang sudah jadi, tetapi diajak membangun, mengamati, dan menginterpretasikan data melalui serangkaian aktivitas menggunakan kartu, papan, dan pin.

Konsep tersebut membuat siswa berperan layaknya seorang detektif. Mereka terlebih dahulu menerima kartu berisi pasangan data, kemudian memetakan data tersebut pada papan menggunakan pin. Satu per satu titik ditempatkan hingga membentuk pola yang dapat diamati.

Setelah diagram terbentuk, siswa mulai mencari “petunjuk” dari pola tersebut. Mereka mengamati hubungan antarvariabel dan menentukan apakah kecenderungan data menunjukkan korelasi positif, negatif, atau tidak menunjukkan hubungan yang jelas.

Proses kemudian dilanjutkan melalui kartu tantangan dan kartu interpretasi. Siswa tidak hanya dituntut mampu membentuk diagram, tetapi juga menjelaskan informasi yang terkandung di balik pola data yang telah mereka temukan.

Dengan mekanisme tersebut, DEKOR membawa siswa dari pertanyaan sederhana seperti “di mana titik ini harus diletakkan?” menuju pertanyaan yang lebih analitis: “apa makna pola yang terbentuk?”

Salah satu karakteristik DEKOR adalah penggunaan media manipulatif. Konsep yang biasanya disajikan melalui angka, tabel, atau gambar diterjemahkan menjadi objek yang dapat disentuh dan dipindahkan secara langsung. Siswa dapat memegang kartu data, menempatkan pin, mengamati pola, kemudian memeriksa kembali hasil pemetaannya.

Cara tersebut juga memberikan ruang bagi siswa untuk belajar dari kesalahan. Ketika sebuah titik ditempatkan pada posisi yang keliru, siswa dapat kembali mencocokkannya dengan data dan melakukan perbaikan. Kesalahan akhirnya menjadi bagian dari proses menemukan pemahaman, bukan sekadar penanda bahwa jawaban mereka salah.

Aktivitas dalam DEKOR juga mendorong siswa untuk melakukan lebih dari sekadar membuat diagram. Setelah pola terbentuk, mereka perlu mengamati kecenderungan, membandingkan informasi, memberikan alasan, dan menyusun interpretasi berdasarkan data yang tersedia.

Iklan

Hal tersebut penting dalam pembelajaran statistika karena kemampuan memahami data tidak berhenti pada keterampilan membuat representasi visual. Siswa juga perlu mampu membaca informasi dan menjelaskan apa yang ditunjukkan oleh data tersebut.

Di balik rancangan DEKOR, Mutiara juga memberikan perhatian pada aspek self-esteem siswa. Pembelajaran matematika tidak selalu berkaitan dengan kemampuan menyelesaikan soal, tetapi juga dengan keberanian siswa untuk mencoba.

Melalui aktivitas yang bertahap, siswa memiliki kesempatan untuk mencoba menempatkan data, mengamati hasil, berdiskusi, menghadapi tantangan, memperbaiki kesalahan, dan mencoba kembali. Rangkaian pengalaman tersebut dapat memberikan ruang bagi siswa untuk membangun keyakinan terhadap kemampuan dirinya dalam belajar matematika.

Inovasi DEKOR sekaligus menunjukkan bahwa media pembelajaran tidak selalu harus berbasis teknologi digital yang kompleks. Papan, kartu, dan pin dapat menjadi sarana belajar ketika dirancang berdasarkan karakteristik materi dan kebutuhan peserta didik.

Yang menjadi pembeda bukan sekadar bentuk medianya, tetapi bagaimana media tersebut mengubah aktivitas belajar. Data menjadi sesuatu yang harus dicari dan dipetakan, pola menjadi sesuatu yang perlu ditemukan, sedangkan interpretasi menjadi kesimpulan yang harus dibangun berdasarkan bukti.

Bagi Mutiara, pengembangan DEKOR juga menjadi bentuk penerapan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Tadris Matematika. Persoalan pembelajaran diterjemahkan menjadi gagasan, kemudian dikembangkan menjadi sebuah media yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran matematika.

Karya tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian mahasiswa dapat diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang dekat dengan kebutuhan pembelajaran. Alih-alih menjadikan matematika sekadar kumpulan angka dan rumus, DEKOR menghadirkan kesempatan bagi siswa untuk berinteraksi langsung dengan data dan menemukan sendiri pola yang ada di dalamnya.

Di atas papan DEKOR, siswa tidak hanya melihat titik-titik pada diagram pencar. Mereka diajak mencari data, menemukan pola, menguji pemahaman, memperbaiki kesalahan, dan mengungkap makna di balik representasi data.

Dari sebuah skripsi, Mutiara menghadirkan gagasan sederhana tetapi kontekstual: membuat materi diagram pencar lebih interaktif dengan menempatkan siswa sebagai “detektif data”. Sebuah pendekatan yang menunjukkan bahwa ketika konsep matematika diterjemahkan menjadi pengalaman yang dapat diamati, disentuh, dan ditemukan sendiri, angka tidak lagi sekadar angka—melainkan informasi yang memiliki cerita.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.