MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penelitian pendidikan dasar didorong tidak berhenti pada pengujian metode atau media pembelajaran, tetapi mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi guru, siswa, dan sekolah. Perspektif tersebut mengemuka dalam forum daring Academic Writing PGMI FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui materi Tren Penelitian Pendidikan yang disampaikan Dr. Muhammad Saefi, M.Pd.
Dalam pemaparannya, Muhammad Saefi menekankan bahwa penelitian pendidikan perlu melihat pembelajaran secara lebih utuh. Efektivitas sebuah metode atau media menjadi salah satu aspek yang dikaji, tetapi penelitian juga perlu memahami proses pembelajaran, pihak yang memperoleh manfaat, serta konteks tempat pembelajaran berlangsung.
Menurutnya, penelitian pendidikan dasar perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi proses belajar, mulai dari peran guru, kondisi sekolah, sistem pendidikan, lingkungan, hingga kebutuhan peserta didik.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting seiring berkembangnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam kehidupan dan pendidikan. Kehadiran AI membuat peserta didik tidak cukup hanya mampu memperoleh jawaban dengan cepat, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Karena itu, tren penelitian pendidikan dasar ke depan dapat diarahkan pada sejumlah isu yang semakin relevan dengan perubahan tersebut. Di antaranya literasi AI, pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan peserta didik, computational thinking, STEAM, pendidikan inklusif, literasi, numerasi, hingga kesejahteraan digital.
Selain perkembangan teknologi, aspek konteks lokal juga menjadi perhatian. Dalam materi MI dan SD Research Roadmap 2024–2026, Ahmad Abtokhi menekankan pentingnya penelitian yang tidak tercerabut dari realitas tempat pendidikan berlangsung.
Konteks budaya, nilai agama, kondisi sosial, lingkungan, serta kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan dapat menjadi bagian penting dalam merumuskan persoalan dan desain penelitian pendidikan dasar.
Perspektif tersebut menunjukkan bahwa peneliti tidak harus selalu mengejar topik yang sedang populer. Sebaliknya, penelitian yang kuat justru dapat dimulai dari persoalan yang ditemukan secara langsung di lapangan.
Guru yang menghadapi kesulitan tertentu dalam pembelajaran, siswa yang mengalami hambatan belajar, sekolah dengan keterbatasan sumber daya, maupun persoalan pendidikan yang muncul dari kondisi sosial dan lingkungan dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya penelitian.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian pendidikan dasar tidak hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga memiliki kemungkinan lebih besar untuk digunakan oleh guru, sekolah, dan pemangku kepentingan dalam memperbaiki praktik pendidikan.
Di tengah perkembangan AI, tantangan penelitian pendidikan dasar pun menjadi semakin kompleks. Teknologi dapat menjadi bagian dari solusi, tetapi penelitian tetap perlu mempertimbangkan aspek manusia, konteks sosial, nilai, dan kebutuhan peserta didik.
Forum Academic Writing PGMI FTIK UIN Malang tersebut pada akhirnya menegaskan pentingnya membangun tradisi riset yang tidak sekadar mengikuti tren. Penelitian perlu dimulai dari pertanyaan yang lahir dari realitas pendidikan: persoalan apa yang sedang dihadapi, mengapa persoalan itu terjadi, siapa yang terdampak, dan solusi seperti apa yang memungkinkan untuk dikembangkan.
Dari titik itulah penelitian pendidikan dasar dapat memiliki relevansi yang lebih kuat—menghubungkan persoalan nyata di lapangan dengan pengetahuan akademik dan solusi yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.