BONDOWOSO | JATIMSATUNEWS.COM: Potensi agrowisata di Kabupaten Bondowoso, yang selama ini dikenal dengan julukan “Republik Kopi”, terus mendapat dukungan serius dari kalangan akademisi. Baru-baru ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur menggelar program “Pendampingan Tata Kelola Agrileisure Homestay Berbasis CHSE” di Desa Wisata Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Kabupaten Bondowoso.
Program edukasi dan pendampingan ini secara khusus menyasar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ijen Murni, yang menjadi garda terdepan dalam pengelolaan pariwisata di desa.
Ketua Tim Pengabdian UPN “Veteran” Jawa Timur, Bergas Anggito Adjie, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang untuk menjawab tantangan kesenjangan infrastruktur amenitas di wilayah tersebut.
“Kecamatan Sumberwringin memiliki aset yang luar biasa berupa Kopi Arabika Java Ijen-Raung yang telah bersertifikat Indikasi Geografis (IG), serta terintegrasi dengan kawasan Ijen UNESCO Global Geopark. Namun, kekayaan alam dan budaya ini belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan fasilitas homestay yang memadai. Pengalaman wisatawan kerap terputus karena standar kelayakan dasar pariwisata yang belum optimal,” ungkap Bergas.

Dalam pelaksanaannya, tim UPN “Veteran” Jatim tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga mengimplementasikan inovasi rekayasa sosial bernama “Agrileisure CHSE & Hospitality Kit“. Inovasi ini mencakup pemasangan papan visual Standard Operating Procedure (SOP) dwibahasa di rumah warga, pemberian perangkat kebersihan (starter kit), hingga pembagian buku saku panduan storytelling agrileisure.
Kegiatan pendampingan dilakukan dengan metode partisipatif. Warga diajak langsung untuk mempraktikkan tata graha (housekeeping) standar, seperti teknik membersihkan area sanitasi, menata tempat tidur, serta memastikan aspek privasi dan keamanan tamu terjaga, misalnya melalui ketersediaan kunci pintu. Pelatihan ini diharapkan membuat warga lebih proaktif dan percaya diri terhadap potensi desa, serta kesiapan homestay saat menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Bagi wisatawan experiential tourism, homestay bukan sekadar tempat menumpang tidur, melainkan panggung utama untuk menyelami kehidupan desa,” tambah Bergas. “Oleh karena itu, kami juga melatih pemandu lokal untuk merangkai cerita (storytelling) yang lebih mendalam. Kearifan lokal seperti Tari Molong Kopi dan filosofi ritual Rokatan Bhumi harus bisa diceritakan dengan baik agar menjadi nilai jual yang tak terlupakan bagi para tamu.”

Program ini merupakan wujud nyata hilirisasi riset dari Kelompok Riset Pariwisata Berkelanjutan UPN “Veteran” Jawa Timur. Evaluasi yang dilakukan melalui pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan pada para peserta terkait tata kelola pelayanan tamu. Untuk menjaga keberlanjutan program di masa depan, tim juga menginisiasi pembentukan Kader CHSE di desa.
Kehadiran program PkM ini diharapkan mampu meningkatkan lama tinggal (length of stay) wisatawan, yang pada akhirnya akan mendongkrak perputaran ekonomi lokal. Melalui sinergi yang solid antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat, Desa Wisata Sukorejo siap bertransformasi menjadi destinasi wisata agrileisure kelas dunia yang berdaya saing, aman, dan berwawasan lingkungan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.