MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Malang melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah titik krusial guna mengantisipasi terjadinya lonjakan inflasi. Pengawasan ketat yang dilakukan oleh jajaran pemerintah daerah ini secara khusus menyasar pada ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi serta memantau stabilitas harga dan pasokan beras di pasaran.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan bahwa ketersediaan BBM di Kota Malang dipastikan dalam kondisi aman berdasarkan pantauan langsung di lapangan. Saat meninjau SPBU Ciliwung, tim memang menemukan adanya antrean pembeli BBM jenis Pertalite yang sedikit lebih panjang, yang mana hal ini dipicu oleh peralihan konsumen dari Pertamax akibat kenaikan harga. Meski terdapat peralihan konsumsi, pihak Pertamina telah menjamin bahwa pasokan bahan bakar secara keseluruhan tetap mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Kepastian dari Pertamina tadi kita dapatkan bahwa terkait dengan stok, itu semua ada. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir dengan kehabisan atau ada isu terkait dengan ketersediaan dari BBM. BBM semua aman, lancar, stok juga ada,” ungkap Wahyu saat ditemui awak media di Pasar Klojen, Selasa 8 September 2026.
Baca juga: Polres Kediri Kota Bersama TPID Sidak Beras Premium di Sejumlah Pasar Modern
Walaupun sektor energi terpantau kondusif, Wahyu mengungkapkan bahwa Pemkot Malang justru menemukan masalah serius terkait komoditas pangan, terutama pada ketersediaan beras premium. Ia menjelaskan bahwa saat tim mendatangi tingkat distributor, ditemukan adanya kekosongan stok beras premium yang telah berlangsung selama kurun waktu satu hingga dua pekan terakhir. Akan tetapi, Wahyu memastikan bahwa untuk komoditas pangan pendukung lainnya seperti gula dan minyak goreng saat ini terpantau aman tanpa kendala.
Dampak dari krisis pasokan beras premium ini turut dirasakan secara langsung di area pasar tradisional. Berdasarkan pantauan di Pasar Blimbing, beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) masih tersedia, namun masyarakat dan pedagang sangat kesulitan untuk mendapatkan pasokan beras premium. Wahyu menegaskan bahwa kondisi ini memaksa beberapa pedagang untuk mencari pasokan alternatif ke daerah lain maupun toko modern dengan harga tebus yang sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga memicu kenaikan harga jual ke konsumen. Situasi serupa juga terjadi di Pasar Klojen, di mana beras premium merek lokal seperti Lahap dan Mentari harus dijual dengan harga tinggi di tengah ketersediaan stok yang sangat terbatas.
Menanggapi fenomena kelangkaan tersebut, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, menjelaskan bahwa minimnya pasokan dipicu oleh faktor musim tanam yang saat ini masih berlangsung serta imbas dari kemarau panjang yang menekan jumlah ketersediaan stok di tingkat petani. “Kosongya stok beras premium itu akibat ketersediaan stok di tingkat petani, itu disebabkan karena dampak kemarau panjang,” jelas Slamet.
Sebagai tindak lanjut atas temuan ini, Slamet menambahkan bahwa Pemkot Malang akan segera menggelar rapat koordinasi bersama TPID untuk merumuskan skenario penanganan yang terukur. Ia memastikan bahwa Pemkot Malang akan menggencarkan operasi pasar murah melalui penyaluran beras SPHP guna mencukupi kebutuhan masyarakat kelas bawah. Di samping itu, Pemkot Malang juga sedang menyusun strategi khusus untuk menekan dan mengatasi tingginya angka permintaan serta lonjakan harga beras premium di pasaran.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.