MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keterbatasan lahan pekarangan bukan menjadi penghalang bagi masyarakat untuk menghasilkan pangan secara mandiri. Melalui teknologi hidroponik, Politeknik Negeri Malang (Polinema) mendorong masyarakat Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mengoptimalkan lahan terbatas menjadi area produktif untuk budidaya tanaman pangan.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Bimbingan Teknis Budidaya Hidroponik di RT 03 RW 12, Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang”. Kegiatan dilaksanakan pada 27–28 Juni 2026 di wilayah RT 03 RW 12, Desa Watugede, dengan melibatkan mitra PKK RT 03 RW 12 Desa Watugede.
Program yang dilaksanakan oleh Jurusan Teknik Sipil, Program Studi Teknologi Pertambangan Polinema ini merupakan bagian dari rangkaian PPM yang berlangsung pada 1 April hingga 15 November 2026. Kegiatan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan lahan pekarangan yang terbatas untuk menghasilkan tanaman pangan melalui teknologi hidroponik.
Baca juga: UPN “Veteran” Jatim Bekali Siswa SMK Darunnajah dengan Keterampilan Budidaya Hidroponik
Baca juga: Pengenalan Hidroponik Sebagai Alternatif Pertanian Berkelanjutan di Tengah Keterbatasan Lahan
Kegiatan tersebut diketuai oleh Muhammad Tri Aditya, S.T., M.T., dengan menghadirkan Puji Arrochman dari Kebun Kita Berkah Group, Singosari, sebagai pemateri sekaligus praktisi hidroponik.
Pemilihan hidroponik sebagai teknologi yang diperkenalkan kepada masyarakat didasarkan pada kondisi lingkungan RT 03 RW 12 yang memiliki keterbatasan lahan pekarangan. Pemanfaatan lahan rumah tangga untuk produksi pangan juga dinilai masih dapat dioptimalkan.
Ketua Pelaksana Muhammad Tri Aditya, S.T., M.T., menyampaikan Hidroponik menjadi salah satu alternatif yang relevan karena memungkinkan tanaman dibudidayakan tanpa menggunakan tanah. Sistem ini dapat diterapkan pada teras rumah, pekarangan sempit, maupun ruang terbatas lainnya dengan penggunaan air dan nutrisi yang lebih terkontrol.

Melalui program tersebut, masyarakat tidak hanya dikenalkan pada teknik pertanian modern, tetapi juga diajak melihat hidroponik sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga, meningkatkan produktivitas pekarangan, sekaligus membuka peluang usaha skala rumah tangga.
“Bimbingan teknis dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni pemaparan materi, praktik langsung bersama warga, dan evaluasi. Pendekatan partisipatif diterapkan agar masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam proses budidaya”, ujarnya.
Pada sesi pemaparan, peserta memperoleh materi mengenai konsep dasar hidroponik, pengenalan alat dan bahan, media tanam, teknik penyemaian, pengelolaan nutrisi tanaman, penggunaan nutrisi AB Mix, hingga pentingnya menjaga kualitas air.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai keunggulan hidroponik dibandingkan metode budidaya menggunakan tanah serta berbagai permasalahan yang dapat ditemui selama proses pertumbuhan tanaman.
Kehadiran Puji Arrochman dari Kebun Kita Berkah Group, Singosari memberikan pengalaman pembelajaran yang lebih aplikatif. Sebagai praktisi, ia memberikan penjelasan sekaligus pendampingan kepada peserta mengenai penerapan hidroponik berdasarkan pengalaman di lapangan.
Setelah memperoleh materi, warga mengikuti praktik budidaya hidroponik secara langsung. Peserta didampingi mulai dari persiapan media tanam seperti rockwool dan netpot, penyemaian benih, pemindahan bibit ke instalasi hidroponik, hingga pengaturan takaran nutrisi air.
Antusiasme warga, khususnya anggota PKK, terlihat selama proses praktik. Peserta tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi turut mencoba setiap tahapan sehingga memperoleh pengalaman langsung dalam menyiapkan dan mengelola budidaya hidroponik.
Pelaksanaan bimbingan teknis memberikan dampak positif terhadap pemahaman masyarakat. Sebelum kegiatan berlangsung, mayoritas peserta masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai teknik bercocok tanam tanpa media tanah.
Setelah mengikuti pemaparan dan diskusi, peserta menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai konsep hidroponik, alat dan bahan, teknik penyemaian, hingga pengelolaan nutrisi tanaman.
Dari sisi keterampilan, peserta juga mampu mempraktikkan berbagai tahapan dasar budidaya hidroponik, mulai dari menyiapkan rockwool dan netpot, memindahkan bibit ke instalasi, hingga mengatur takaran nutrisi air.
Evaluasi melalui wawancara dan kuesioner menunjukkan mayoritas peserta memberikan penilaian “Sangat Baik” terhadap kegiatan.
Materi dinilai sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan dan disampaikan secara jelas oleh pemateri. Peserta juga memberikan apresiasi terhadap pendampingan selama praktik.
Keterampilan tersebut memberikan solusi konkret bagi masyarakat untuk mulai menghasilkan sayuran secara mandiri di lingkungan rumah. Dalam jangka panjang, hasil budidaya hidroponik juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan produktif dan bernilai ekonomi apabila hasil panen telah melebihi kebutuhan rumah tangga.

Pelaksanaan kegiatan PPM ini melibatkan kolaborasi antara dosen dan mahasiswa Polinema. Selain ketua tim Muhammad Tri Aditya, S.T., M.T., tim dosen terdiri atas Gindang Rain Pratama, S.T., M.T.; Deni Putra Arystianto, S.T., M.Sc.; Ir. Muhammad Irsyadi Firdaus, S.T., M.Sc.; Triafini Noviarti, S.T., M.T.; serta Gregorius Aryoko Gautama, S.Kom., M.T.
Sementara itu, mahasiswa yang turut mendukung pelaksanaan kegiatan adalah Jhezico Theolova Zheffariliando, Risky Egar Andri Anto, Pandu Bagus Sadewa, Aulia Intan Hamidah, Puji Yanilia, dan Shafira Izza Ramadhani.
Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus implementasi ilmu pengetahuan dan teknologi secara langsung di tengah masyarakat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Program PPM ini tidak diarahkan berhenti pada pelaksanaan bimbingan teknis. Pendekatan kegiatan juga mencakup pendampingan dan evaluasi terhadap penerapan hidroponik oleh warga, termasuk pemantauan pertumbuhan tanaman dan keberfungsian instalasi yang telah dibuat.
Ke depan, keberlanjutan program dapat dikembangkan melalui penguatan kelompok masyarakat berbasis PKK atau Dasawisma, pengadaan sarana produksi secara bersama, serta penerapan instalasi hidroponik sederhana di pekarangan rumah warga.
Dengan keberlanjutan tersebut, masyarakat diharapkan mampu mengembangkan keterampilan yang telah diperoleh menjadi kegiatan budidaya yang dilakukan secara mandiri.
Program PPM Polinema ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan teknologi yang sederhana, aplikatif, efisien, dan ramah lingkungan untuk menjawab permasalahan nyata di masyarakat.
Pemanfaatan hidroponik diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sayuran keluarga, tetapi juga meningkatkan produktivitas lahan pekarangan, menciptakan lingkungan permukiman yang lebih hijau, memperkuat ketahanan pangan, serta membuka peluang ekonomi melalui produksi sayuran segar.
Antusiasme warga dan harapan agar kegiatan pengabdian dapat terus berlanjut menjadi modal penting untuk membangun program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di Desa Watugede.
Melalui sinergi dosen, mahasiswa, praktisi, dan masyarakat, Polinema terus berupaya menghadirkan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung terciptanya masyarakat yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.