LAMONGAN | JATIMSATUNEWS.COM: Tim PPK Ormawa BEM Universitas Negeri Surabaya (BEM UNESA) menggelar demonstrasi pembuatan tepung mangrove berbahan buah lindur (Bruguiera gymnorrhiza), bertempat di Gedung Serbaguna Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Sabtu (15/8/2026) pukul 19.00-21.00 WIB. Kegiatan yang diikuti bapak-bapak nelayan, petambak, dan pemuda Desa Labuhan ini menjadi bagian dari Program Bahari Lestari, salah satu dari lima pilar program pemberdayaan masyarakat Sumber Bahari, dan membuktikan bahwa rasa pahit bawaan buah mangrove dapat dihilangkan lewat teknik pengolahan yang tepat.
Program Sumber Bahari sendiri merupakan bagian dari Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) yang dijalankan Tim PPK Ormawa BEM UNESA di Desa Labuhan, dengan tujuan mengoptimalkan pemanfaatan mangrove yang melimpah di kawasan tersebut menjadi produk bernilai guna.
Hutan mangrove di Desa Labuhan tercatat sebagai yang terluas di Kabupaten Lamongan. Sayangnya, potensi tersebut selama ini belum banyak dimanfaatkan warga dan hanya dibiarkan tumbuh begitu saja. Padahal, buah lindur memiliki kandungan gizi yang cukup lengkap sebagai alternatif pangan: kaya serat, tinggi antioksidan, bebas gluten, dan tinggi karbohidrat sebagai sumber energi.
Baca juga: Tim Sumber Bahari BEM UNESA Gelar Demonstrasi Olah Nugget Ikan Bebas Amis di Desa Labuhan
Kegiatan diawali pemaparan dari Zumar Imam Mustaqim, mahasiswa Program Studi S1 Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UNESA yang menjabat sebagai penanggung jawab (PIC) Program Bahari Lestari, mengenai pentingnya pemanfaatan mangrove serta kandungan gizinya. Sesi berlanjut dengan praktik langsung pembuatan dan penanganan buah lindur bersama warga, didampingi Hilman Rizqillah Syahbi dan Alviyah Iriani.
Tim Sumber Bahari berhasil menunjukkan teknik pengolahan, mengacu pada kajian jurnal, yang efektif menghilangkan rasa pahit khas buah mangrove. Warga yang hadir membuktikan sendiri perubahan rasa tersebut, termasuk Hari Mukti, petambak Desa Labuhan, yang sempat ragu di awal lantaran pengalaman masa lalunya mengonsumsi buah mangrove yang pahit.
“Dulu saya pernah memakan buah itu dijadikan bubur. Ya emang saking enggak ada makanannya ya zaman dulu, itu rasanya pahit banget. Pahit banget. Terus setelah saya mencoba resep adik-adik ini, ternyata memang hilang rasa pahitnya. Saya mencoba… memang hilang rasa pahitnya, berhasil.” ujarnya.
Ketua Petambak Desa Labuhan, Ronald Aziz, turut menyampaikan pandangannya soal manfaat baru yang ia temukan malam itu.
“Dulu warga cuma pernah menggunakannya sebagai pewarna untuk jaring untuk nelayan ya. Nah, katanya itu dengan diwarnai oleh pakai buah mangrove itu jadi lebih tahan lama. Saya baru tahu kalau misalnya mangrove ini juga bisa jadi tepung dan bisa dimakan juga. Jadi pengganti sumber energi gitu. Diversifikasi pangan.” katanya.
Tim Sumber Bahari berharap inovasi ini mendorong warga Desa Labuhan untuk mulai melihat mangrove sebagai sumber pangan alternatif sekaligus peluang ekonomi baru bagi kawasan pesisir.
Buah lindur yang telah diolah dalam demonstrasi ini rencananya dijemur selama tiga hari, sebelum memasuki proses penepungan pada kegiatan lanjutan bertajuk Tekno Maritim yang dijadwalkan berlangsung pada 22 Agustus 2026.
Instagram: @ppko_sumberbahari | Email: ppkobemunesa@gmail.com | Tiktok: @ppko_sumberbahari | Youtube : @PPKO.SUMBERBAHARI.MARITIM


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.