MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Melimpahnya potensi susu sapi di Desa Tawangsari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, berhasil dimanfaatkan secara optimal oleh Kelompok 99 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah-Aisyiyah (KKN MAS) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mahasiswa menyulap komoditas lokal tersebut menjadi dua produk UMKM unggulan, yakni minuman Susu Karot (SUKA) dan camilan kerupuk susu sapi bernama MOOCHI (Moo + Crispy).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Malang, populasi sapi perah di Kecamatan Pujon mencapai angka 25.490 ekor. Namun, pemanfaatan pasokan susu berlimpah selama ini mayoritas didominasi sebagai minuman biasa yang disetorkan langsung ke pihak koperasi setempat. Kondisi inilah yang memicu para mahasiswa untuk menghadirkan inovasi panganan baru di desa yang kaya akan peternak sapi perah tersebut.
“Selama ini susu lebih sering dimanfaatkan sebagai minuman, sehingga kami mencoba mencari bentuk olahan lain yang inovatif agar bisa menjadi produk unggulan,” terang perwakilan kelompok KKN MAs, Monica Marchelina Iskandar, menjelaskan alasan di balik peluncuran inovasi mereka.
Baca juga: Pekan Pengabdian PGMI UIN Malang Latih Guru SDN Sisir 4 Kota Batu Susun Modul Ajar Berbasis AI
Mahasiswa meracik satu bahan baku menjadi dua variasi yang unik. Produk SUKA memadukan susu sapi dengan komoditas hasil pertanian khas Tawangsari, yaitu wortel, yang diproses melalui tahapan pencucian, pengupasan, ekstraksi sari, lalu dicampur bersama susu sesuai takaran. Sementara itu, MOOCHI mengolah susu cair menjadi bahan utama adonan kerupuk renyah dengan tambahan tepung serta bumbu alami seperti bawang dan garam.
Dari sisi nilai ekonomis, kedua produk ini dinilai sangat ramah di kantong. MOOCHI kemasan 85 gram dan botol SUKA 120 ml masing-masing dibanderol seharga Rp10 ribu. Tim KKN mengaku hanya mengeluarkan modal awal sekitar Rp85 ribu untuk membeli tepung, wortel, minyak, serta kemasan, sedangkan pasokan susu didapatkan secara gratis berkat kolaborasi yang baik dengan peternak setempat.
Puncak dari rangkaian program pengabdian ini ditandai dengan peluncuran resmi produk pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan semarak perayaan HUT RI di ajang Expo dan Bazar Kecamatan Pujon. Pada pameran tersebut, tujuh kemasan MOOCHI dan delapan botol SUKA yang diperkenalkan mendapat respons sangat positif dari publik. Pengunjung menyoroti inovasi kerupuk berbahan dasar susu yang masih langka, sekaligus menyukai rasa unik dari perpaduan susu dan wortel.
Guna memperluas jangkauan pasar, para mahasiswa kini terus menggencarkan strategi promosi dan pemasaran melalui jejaring media sosial. Monica menegaskan harapannya agar warisan inovasi ini tidak berhenti di tangan mahasiswa saja. “Kami ingin produk ini tetap dikembangkan oleh masyarakat atau pihak desa yang tertarik melanjutkannya,” tuturnya. Diharapkan, langkah kreatif ini dapat mentransformasi hasil peternakan Tawangsari agar tidak sekadar menjadi komoditas mentah, melainkan produk UMKM yang berkelanjutan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.