MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Malang (SPs UM) kembali menegaskan komitmennya dalam memajukan dunia pendidikan dengan menggelar The 5th International Conference on Innovation and Teacher Professionalism (ICITEP) 2026. Mengusung tema besar "Emerging Technologies in Education: Implications for Teaching Quality, Professional Development, and Ethical Practice", perhelatan akbar ini berlangsung selama dua hari, tepatnya pada 1–2 September 2026.
Konferensi internasional ini sukses menjadi magnet akademik yang mempertemukan ratusan pendidik, peneliti, dan praktisi pendidikan, baik dari dalam maupun luar negeri. Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) SPs UM, Dr. Muhammad Alfan, memaparkan bahwa ICITEP 2026 merupakan wadah strategis untuk bertukar gagasan inovatif. “ICITEP 2026 telah mempertemukan pendidik, peneliti, dan praktisi dari seluruh Indonesia dan berbagai penjuru dunia,” tegas Alfan dalam laporannya.
Menurut Alfan, antusiasme peserta sangat luar biasa. Tercatat ada 109 presenter dari kalangan dosen dan mahasiswa, 150 mahasiswa PPG, serta 47 guru pamong yang turut hadir. Kehadiran para guru pamong ini dinilai krusial karena mampu memberikan perspektif praktis dan membumi terkait pengalaman langsung di lapangan, yang secara apik melengkapi teori akademik mengenai inovasi teknologi.
Dalam sambutannya sekaligus membuka acara secara resmi, Wakil Rektor I UM, Prof. Dr. H. Ibrahim Bafadal, memberikan pesan yang tajam terkait arah transformasi digital. Ia mengingatkan bahwa inovasi tidak sekadar berlomba-lomba memakai teknologi mutakhir seperti kecerdasan artifisial (AI) atau platform digital.
"Teknologi tidak seharusnya diadopsi hanya untuk kepentingan penggunaan teknologi itu sendiri, tetapi untuk memperkuat pembelajaran yang bermakna dan meningkatkan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan," ungkap Prof. Ibrahim. Ia menambahkan bahwa tantangan terberat pendidik masa kini bukanlah cara mengoperasikan alat, melainkan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan pedagogis yang inklusif, efektif, dan menjunjung tinggi etika.
Melalui forum diskusi lintas negara yang menghadirkan pakar dari Indonesia, Filipina, Tiongkok, hingga Australia ini, UM berharap para guru semakin siap menghadapi arus teknologi. Langkah nyata ini sekaligus menjadi bentuk dukungan institusi terhadap perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-4 demi terciptanya pendidikan berkualitas yang inklusif untuk semua.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.