BOJONEGORO | JATIMSATUNEWS.COM: Kerajinan tas menjadi salah satu potensi lokal yang diangkat Kuliah Kerja Nyata (KKN) Participatory Action Research (PAR) Kelompok 02 Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Islam (STEBI) Al Rosyid Bojonegoro dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Kepoh Kidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Selasa (25/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 50 warga yang terdiri atas perajin, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Karang Taruna, tokoh masyarakat, serta perangkat Desa Kepoh Kidul.
Program itu menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi ekonomi yang telah tumbuh di tengah masyarakat. Kerajinan tas dipilih karena memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan yang dapat memperkuat identitas sekaligus perekonomian desa.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 02 memperkenalkan strategi pengembangan produk, penguatan identitas merek, perbaikan kemasan, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Warga juga diajak berdiskusi mengenai kendala produksi dan pemasaran yang selama ini dihadapi oleh pelaku usaha.

Selain penyampaian materi, kegiatan diisi dengan pemetaan potensi usaha, pengenalan produk kerajinan tas, diskusi bersama pelaku usaha, serta penyusunan langkah awal untuk memperluas pemasaran. Pendekatan tersebut diarahkan agar program pemberdayaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat dilanjutkan oleh masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Kelompok 02 STEBI Al Rosyid Bojonegoro, Bagus Novianto, mengatakan bahwa mahasiswa perlu menyusun program kerja berdasarkan kebutuhan dan potensi nyata yang dimiliki desa.
“KKN harus menjadi ruang perjumpaan antara pengetahuan mahasiswa dan pengalaman masyarakat. Kerajinan tas di Desa Kepoh Kidul merupakan potensi yang telah tumbuh dari kreativitas warga. Potensi ini perlu diperkuat melalui pengembangan produk, identitas merek, promosi digital, dan perluasan akses pasar,” ujar Bagus Novianto.
Menurutnya, pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan kegiatan ekonomi baru. Penguatan dapat dilakukan dengan mengembangkan usaha yang telah dirintis oleh masyarakat.
“Mahasiswa tidak datang untuk menggantikan peran masyarakat. Mereka hadir untuk mendampingi, menghubungkan potensi yang tersedia, dan membantu menemukan peluang pengembangannya. Kami berharap kerajinan tas Kepoh Kidul dapat tumbuh menjadi produk unggulan yang memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan,” tambahnya.
Kepala Desa Kepoh Kidul, Samudi, menyampaikan apresiasi atas program pemberdayaan yang dilaksanakan mahasiswa KKN Kelompok 02 STEBI Al Rosyid Bojonegoro. Menurutnya, kerajinan tas memiliki peluang untuk dikembangkan apabila memperoleh pendampingan dan dukungan pemasaran yang memadai.
“Kami menyambut baik kegiatan mahasiswa KKN yang mengangkat potensi kerajinan tas di Desa Kepoh Kidul. Pendampingan seperti ini dapat menambah wawasan masyarakat, khususnya dalam memperbaiki tampilan produk dan memperluas pemasaran,” kata Samudi.
Ia berharap kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha, dan perguruan tinggi dapat terus dilanjutkan setelah masa KKN selesai.
“Harapan kami, kerajinan tas Kepoh Kidul semakin dikenal dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Pemerintah desa siap mendukung langkah yang dapat meningkatkan produktivitas usaha dan kesejahteraan masyarakat,” lanjutnya.
Melalui kegiatan tersebut, KKN Kelompok 02 STEBI Al Rosyid Bojonegoro tidak hanya mengenalkan potensi Desa Kepoh Kidul kepada masyarakat luas. Mahasiswa juga berupaya membangun kesadaran bahwa produk lokal dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola secara konsisten, kolaboratif, dan sesuai dengan perkembangan pasar.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.