Langsung ke konten
Selasa, 25 Agustus 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Pesan Menyejukkan Gus Yahya di Haul ke-45 Mbah Hamid: Jaga Ukhuwah dan Persatuan NU

Gus Yahya sapaan akrabnya menilai keberadaan organisasi NU yang mampu bertahan hingga saat ini tidak lepas dari peran kiai-kiai sepuh seperti Mbah Hamid.

Di hadapan ribuan jamaah di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, pada peringatan Haul Ke-45 KH Abdul Hamid (22/8), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan pesan agar selalu menjaga ukhuwah dan persatuan (ittihad).

Di hadapan ribuan jamaah di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, pada peringatan Haul Ke-45 KH Abdul Hamid (22/8), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan pesan agar selalu menjaga ukhuwah dan persatuan (ittihad).

PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Ada hal menarik disamping kehadiran ribuan jemaah di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Sabtu (22/8) lalu dari berbagai penjuru tanah air itu untuk menghadiri puncak peringatan Haul Ke-45 Al-Maghfurlah KH Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar dan Haul Ke-36 Nyai Hajah Nafisah binti KH Ahmad Qusyairi.

Di hadapan ribuan jemaah dan deretan ulama serta pejabat yang hadir, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan pesan mendalam terkait esensi ber-NU dan pentingnya menjaga ukhuwah.

Gus Yahya sapaan akrabnya menilai keberadaan organisasi NU yang mampu bertahan hingga saat ini tidak lepas dari peran kiai-kiai sepuh seperti Mbah Hamid. Menengok sejarah pendirian jam’iyah, ia mengutip kembali syarat fundamental yang pernah diutarakan Pendiri NU Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari bagi siapa saja yang mengikatkan diri ke dalam NU.
“Hadratussyeikh mengimbau: ‘Fadkhulu bil mahabbati wal widad wal ulfati wal ittihad wal ittisoli bil arwahi wal ajsad’. Masuklah ke jam’iyah ini dengan mahabbah (rasa cinta), kasih sayang, rukun, bersatu, serta tersambungnya roh dan jasad,” tegas pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang tersebut di mimbar utama.

Gus Yahya menguraikan, NU bukan sekadar organisasi lahiriah (munazzamatul ajsad), melainkan juga kesatuan batiniah dan spiritual (munazzamah batiniah atau jundul arwah). Karena itu, menjaga kerukunan antar warga dan pengurus di dalamnya adalah modal paling mendasar.

Ia menyadari dalam tubuh organisasi yang besar seperti NU, dinamika dan perbedaan pandangan adalah hal lumrah. “Beda pendapat itu biasa. Saya dengan pengurus lain sering berdebat hingga gebrak meja, tapi tidak pernah tidak rukun. Beda pemikiran boleh, tapi ittihad (persatuan) tidak boleh ditinggalkan,” cetusnya.

Secara eksplisit, mantan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengingatkan seluruh Nahdliyin agar menghindari manuver atau tindakan apa pun yang memicu risiko perpecahan di internal jam’iyah.

“Jangan sampai bertindak apa pun yang berpotensi menimbulkan perpecahan di dalam jam’iyah ini. Soal benar-salah orang boleh beda pendapat, tapi kita wajib masuk dan membesarkan NU ini bil ulfati wal ittihad dengan rukun dan bersatu,” urainya panjang lebar.

Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan KH Muhammad Idris Hamid mengungkapkan rasa terima kasihnya atas antusiasme jemaah yang hadir.

Menurutnya, gelombang jemaah yang berdatangan sejak sepekan terakhir membuktikan besarnya kecintaan umat terhadap almarhum Mbah Hamid dan ajaran istikamah yang ditinggalkannya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.