Langsung ke konten
Jumat, 21 Agustus 2026
Headline Relik Dmitry Donskoy Ditemukan Utuh di Kremlin, Putin Tinjau Makam
Daerah

Kurikulum PGMI di Era AI: Guru Tak Tergantikan, Justru Harus Semakin Adaptif

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut pendidikan calon guru madrasah ibtidaiyah untuk semakin adaptif. Bukan untuk menggantikan peran guru, AI justru perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum sebagai instrumen untuk memperkuat kompetensi pedagogik, literasi digital, dan kemampuan calon pendidik dalam menghadapi perubahan teknologi.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Workshop dan Diskusi Pengembangan Kurikulum PGMI yang digelar Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (21/8/2026), secara daring melalui Zoom.

Dekan FITK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA, dalam sambutannya menekankan tiga kekuatan yang perlu terus dikembangkan FITK, yakni pendidik yang tersertifikasi, kemampuan mencipta dan mengembangkan teknologi, serta responsivitas terhadap aspek psikologis anak.

Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi modal penting dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu merespons perubahan kebutuhan dunia pendidikan.

Prof. Muhammad Walid juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk berperan sebagai arsitek pembelajaran melalui pengembangan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang relevan dengan konsep 3 in 1 serta penguatan pembelajaran berpusat pada mahasiswa atau student-centered learning.

Ia menegaskan bahwa capaian akademik berupa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukan satu-satunya bekal mahasiswa ketika memasuki dunia kerja. IPK, menurutnya, lebih merupakan salah satu pintu awal menuju proses seleksi dan wawancara, sedangkan kompetensi lainnya harus terus dibangun selama proses pendidikan.

Karena itu, perkembangan AI tidak semestinya dipandang sebagai ancaman oleh mahasiswa. Sebaliknya, kehadiran AI perlu dimanfaatkan untuk mengubah pola pikir sekaligus meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

“AI juga perlu ditempatkan sebagai teman diskusi, bukan hanya sebagai alat pragmatis untuk menyelesaikan tugas,” tegasnya.

Menurut Prof. Muhammad Walid, pemanfaatan AI dalam pembelajaran juga harus berjalan beriringan dengan sistem evaluasi yang komprehensif, layanan akademik yang optimal, serta supervisi dan monitoring terhadap proses pembelajaran.

Sementara itu, Kaprodi PGMI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Ahmad Arifuddin, M.Pd., dalam pemaparannya bertajuk “Peluang dan Tantangan Pengembangan Kurikulum PGMI di Era Kecerdasan Buatan”, menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang dirancang untuk menggantikan guru.

Sebaliknya, AI dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kompetensi pedagogik apabila calon guru dibekali kemampuan yang memadai dalam memahami sekaligus menggunakannya secara kritis.

“AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan guru, tetapi memperkuat kompetensi pedagogik,” jelasnya.

Karena itu, pengembangan kurikulum PGMI di era AI perlu mengarah pada penguatan tiga kompetensi utama, yakni AI literacy, AI pedagogy, dan AI agency.

AI literacy berkaitan dengan kemampuan memahami cara kerja, fungsi, peluang, serta keterbatasan AI. AI pedagogy menekankan kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran secara pedagogis. Sementara AI agency berkaitan dengan kemampuan mahasiswa untuk mengambil keputusan secara kritis, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi tersebut.

Dengan kompetensi tersebut, mahasiswa PGMI tidak cukup hanya mampu menggunakan aplikasi AI. Mereka juga dituntut mampu mempertanyakan, memverifikasi, dan mengevaluasi keluaran yang dihasilkan teknologi.

Dalam konteks pembelajaran, AI membuka sejumlah peluang, mulai dari personalisasi pembelajaran, efisiensi penyusunan bahan ajar, penguatan literasi digital, simulasi pembelajaran, hingga pemanfaatan analitik pembelajaran berbasis data.

Peluang tersebut dapat diakomodasi melalui kurikulum dengan memasukkan literasi AI dan etika digital, desain pembelajaran berbantuan AI, micro-teaching melalui simulasi AI, serta asesmen dan analitik pembelajaran berbasis data.

Namun, integrasi AI juga membawa sejumlah tantangan. Kesiapan sumber daya manusia, etika dan keaslian akademik, kesenjangan infrastruktur, perlindungan data mahasiswa, hingga potensi bias dan ketidakakuratan informasi menjadi persoalan yang perlu diantisipasi.

Selain itu, pengembangan kurikulum PGMI tidak dapat melepaskan karakter pendidikan Islam. Ketergantungan terhadap teknologi harus dihindari agar pemanfaatan AI tidak menggeser nilai keislaman, pembentukan karakter, kemampuan bernalar, dan dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.

Karena itu, pengembangan kurikulum PGMI adaptif terhadap AI perlu dilakukan secara bertahap, mulai dari kajian kebutuhan, integrasi literasi AI dan etika digital ke dalam Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK), dan RPS, hingga pelatihan bagi dosen dan mahasiswa.

Tahap berikutnya dapat dilakukan melalui uji coba, monitoring, serta evaluasi berkala untuk memastikan integrasi AI benar-benar memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran.

Dengan demikian, arah pengembangan kurikulum PGMI di era AI bukanlah mempersiapkan guru yang berkompetisi dengan mesin. Sebaliknya, kurikulum perlu melahirkan guru yang mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, kreatif, etis, dan pedagogis.

AI dapat menjadi mitra dalam pembelajaran, tetapi keputusan pedagogis, pembentukan karakter, kemampuan bernalar, serta penanaman nilai keislaman tetap menjadi tanggung jawab utama pendidik.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.