BOJONEGORO | JATIMSATUNEWS.COM: Pada hari Rabu (29/07/2026), Mahasiswa KKN kelompok 37 Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro menggelar kegiatan pendampingan serta edukasi yang berjudul “Pembuatan Pestisida Nabati dari Daun Pepaya” yang dilaksanakan di Balai Desa Mulyorejo. Dalam pelaksanaan pendampingan serta edukasi ini, mengajak para warga untuk mengolah bahan-bahan nabati yang ada di sekitar desa, seperti cabai, bawang merah, serta bahan utama dalam pestisida ini adalah daun pepaya. Selama ini, daun pepaya pada umumnya dimanfaatkan oleh warga sebagai bahan makanan. Namun, daun ini juga dapat dimanfaatkan untuk membuat pestisida nabati yang dapat digunakan untuk tanaman rumahan.
Sebagian besar warga Desa Mulyorejo memiliki kebiasaan menanam tanaman rumahan seperti sayuran, tanaman hias, maupun tanaman obat keluarga (TOGA) di pekarangan rumah masing-masing. Namun, tanaman-tanaman tersebut kerap kali terserang berbagai jenis hama, seperti kutu daun, ulat, maupun serangga pengganggu lainnya, sehingga pertumbuhan tanaman menjadi tidak optimal bahkan mati. Untuk mengatasi hal tersebut, warga umumnya masih mengandalkan pestisida kimia yang dijual bebas di pasaran, padahal penggunaannya secara terus-menerus berpotensi menimbulkan residu berbahaya bagi kesehatan keluarga serta mencemari tanah di sekitar pekarangan rumah.
Berbekal hasil observasi tersebut, Mahasiswa KKN Kelompok 37 Desa Mulyorejo menghadirkan solusi dengan memberikan pendampingan dan edukasi kepada warga tentang cara membuat dan memanfaatkan pestisida nabati secara mandiri. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan warga terhadap pestisida kimia, tetapi juga memberikan alternatif yang lebih aman, murah, dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan alami seperti cabai, bawang merah, dan daun pepaya yang mudah ditemukan di sekitar pekarangan rumah dan juga di pasaran.
“Menurut kami, dengan menggunakan bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di pasaran seperti bawang merah dan cabai serta yang ditemukan di perkarangan rumah warga seperti daun pepaya. Dari sinilah kami bisa memanfaatkan bahan tersebut, terutama daun pepaya yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat desa, tetapi juga mengikuti alur Sustainable Development Goals (SDGs) yang mana sesuai dengan SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak serta Pertumbuhan Ekonomi dan juga SDGs 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab” ujar Bima selaku mahasiswa Agroteknologi KKN Kelompok 37 UPN “Veteran” Jawa Timur.
Dalam sesi pendampingan dan edukasi tersebut, Mahasiswa KKN Kelompok 37 Desa Mulyorejo turut menjelaskan kandungan senyawa aktif yang terdapat pada masing-masing bahan alami sebagai dasar ilmiah pembuatan pestisida nabati. Daun pepaya, misalnya, diketahui mengandung enzim papain serta senyawa alkaloid karpain yang bersifat toxic bagi serangga, sehingga efektif untuk mengendalikan hama tanpa merusak struktur tanaman. Sementara itu, cabai mengandung senyawa capsaicin yang menghasilkan sensasi pedas dan panas, sehingga ketika disemprotkan pada tanaman, aroma serta rasanya akan membuat hama seperti kutu daun, ulat, dan serangga pengganggu enggan mendekat maupun menggerogoti bagian tanaman. Sedangkan bawang merah mengandung senyawa allicin dan sulfur yang memiliki sifat antibakteri sekaligus dapat mengusir hama berkat aromanya yang menyengat. Penjelasan mengenai kandungan senyawa aktif ini bertujuan agar warga tidak hanya memahami cara pembuatan pestisida nabati secara praktis, tetapi juga memahami dasar ilmiah di balik efektivitasnya dalam mengendalikan hama tanaman rumahan.
Antusiasme warga Desa Mulyorejo terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung, terutama saat memasuki sesi praktik langsung pembuatan pestisida nabati yang didampingi oleh para mahasiswa KKN. Banyak warga yang awalnya mengira proses pembuatannya akan rumit dan membutuhkan peralatan khusus, ternyata merasa terkejut sekaligus antusias setelah mengetahui bahwa prosesnya cukup sederhana. Proses pembuatan diawali dengan menghaluskan lima lembar daun pepaya, kemudian daun pepaya yang telah halus tersebut dicampurkan dengan satu siung bawang merah dan empat buah cabai yang juga telah dihaluskan. Setelah seluruh bahan tercampur rata, campuran tersebut dilarutkan dengan satu liter air bersih, kemudian disaring untuk memisahkan ampas dari airnya sehingga menghasilkan larutan pestisida nabati siap pakai. Kemudahan proses ini membuat warga semakin antusias untuk mempraktikkannya secara mandiri di rumah masing-masing.

Tingginya antusiasme warga semakin terlihat ketika beberapa di antaranya secara sukarela turut membantu proses pembuatan pestisida nabati, mulai dari menghaluskan bahan hingga menyaring larutan yang dihasilkan. Suasana pun menjadi semakin interaktif dengan munculnya berbagai pertanyaan dari warga, salah satunya terkait pembuatan, perawatan, dan penyimpanan pestisida nabati agar tetap efektif digunakan dalam jangka waktu tertentu. Menanggapi hal tersebut, Mahasiswa KKN Kelompok 37 menjelaskan bahwa pestisida nabati sebaiknya disimpan di wadah tertutup dan diletakkan di tempat bersuhu ruang serta terhindar dari sinar matahari langsung agar kandungan senyawa aktif di dalamnya tidak cepat rusak. Selain itu, dijelaskan pula bahwa pestisida nabati sebaiknya digunakan dalam waktu maksimal satu minggu setelah pembuatan. Hal ini dikarenakan bahan-bahan alami yang digunakan tidak mengandung bahan pengawet, sehingga senyawa aktif di dalamnya lebih cepat mengalami penurunan kualitas dibandingkan pestisida kimia pada umumnya. Tanpa adanya zat pelindung tersebut, larutan pestisida nabati akan membusuk dan memicu tumbuhnya berbagai mikroorganisme patogen, seperti bakteri pembusuk dan jamur.
Kegiatan pembuatan pestisida nabati ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata Mahasiswa KKN Kelompok 37 dalam mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, sekaligus mencerminkan semangat Kuliah Kerja Nyata yang mengedepankan kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat. Melalui kegiatan pendampingan dan edukasi ini, mahasiswa berbagi pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan-bahan alami di sekitar lingkungan desa sebagai alternatif pengendalian hama, sekaligus belajar dari pengalaman warga dalam merawat tanaman rumahan sehari-hari, sehingga tercipta proses berbagi pengetahuan yang saling melengkapi antara kedua belah pihak.Penulis : Mahasiswa UPN “Veteran” Jawa Timur, Kelompok 37.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.