ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Jamu mungkin terdengar sangat tradisional. Namun, siapa bilang kunyit harus selalu berakhir dalam segelas jamu? Di tangan pelaku usaha yang kreatif, rimpang berwarna kuning itu dapat hadir sebagai gummy, jelly drink, bahkan dodol yang lebih dekat dengan selera konsumen masa kini.
Jahe, kunyit, kencur, dan serai telah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Berbagai rimpang yang dikenal sebagai empon-empon tersebut bukan sekadar bahan dapur, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi pemanfaatan tanaman herbal yang diwariskan lintas generasi.
Persoalannya, perubahan zaman juga mengubah cara konsumen memilih produk. Produk yang baik tidak lagi cukup hanya mengandalkan khasiat bahan atau cerita tradisinya. Konsumen juga mempertimbangkan kepraktisan, rasa, penampilan, kebersihan, kemasan, hingga konsistensi mutu. Di sinilah tantangan sekaligus peluang bagi UMKM berbasis jamu dan minuman herbal.
Jamu Tidak Harus Selalu Berbentuk Jamu
Empon-empon sesungguhnya memiliki ruang inovasi yang sangat luas. Jahe dikenal mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti gingerol dan turunannya. Kunyit memiliki kurkumin dan minyak atsiri. Serai dan kencur pun memiliki karakter aroma serta komponen bioaktif yang membuat keduanya banyak dimanfaatkan dalam produk herbal.
Artinya, nilai empon-empon tidak berhenti pada rimpangnya. Nilai tambah dapat muncul ketika bahan lokal tersebut diolah menjadi produk yang lebih beragam, mudah dikonsumsi, memiliki mutu lebih konsisten dan dikemas dengan baik.
Dalam pengembangan produk herbal di Desa Gunungronggo, Kabupaten Malang, misalnya, empon-empon diperkenalkan dalam beberapa bentuk produk seperti Seduh Rimpang, Turmeric Gummy, Dodol Kunyit, dan Turmeric Jelly Drink.
Turmeric gummy dan turmeric jelly drink menjadi contoh menarik bagaimana kunyit dapat keluar dari citra produk herbal yang hanya dikonsumsi dalam bentuk jamu konvensional.
Bagi generasi yang tumbuh bersama aneka makanan praktis, bentuk seperti gummy dan jelly drink tentu terasa lebih familiar. Namun, diversifikasi seperti ini bukan berarti menghilangkan identitas jamu. Justru inovasi dapat menjadi cara agar bahan tradisional tetap hidup di tengah perubahan selera konsumen.
Tradisinya tetap dijaga, cara memperkenalkannya yang diperbarui.
Ketika Teknologi Sederhana Membuat Perbedaan
Inovasi produk tentu harus berjalan beriringan dengan inovasi proses. Bagi UMKM, teknologi tepat guna tidak selalu berarti mesin yang mahal, besar, dan rumit. Teknologi dikatakan tepat guna ketika benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna dan mampu menyelesaikan persoalan produksi sehari-hari.
Ambil contoh proses pencacahan rimpang.
Jika jumlah bahan sedikit, pekerjaan tersebut mungkin masih mudah dilakukan secara manual. Namun ketika produksi meningkat, kegiatan yang berulang dapat membutuhkan tenaga dan waktu lebih besar. Ketidakseragaman proses juga berpotensi memengaruhi konsistensi pengolahan.
Penggunaan mesin chopper dapat membantu proses pengecilan ukuran bahan menjadi lebih cepat dan relatif seragam.
Hal serupa terjadi pada tahap pengemasan.
Produk minuman herbal yang sudah dibuat dengan baik tetap membutuhkan kemasan yang mampu melindungi produk. Cup sealer membantu proses penutupan cup melalui pemanasan sehingga kemasan dapat tertutup lebih rapat dan rapi.
Dua peralatan ini terlihat sederhana.
Namun, pada sebuah UMKM, efisiensi tidak selalu berasal dari perubahan besar. Menghemat waktu beberapa menit pada tahapan yang dilakukan puluhan kali dalam satu proses produksi dapat memberikan dampak yang berarti.
Teknologi tepat guna bekerja pada ruang seperti itu: membuat pekerjaan yang sebelumnya lebih lambat atau tidak seragam menjadi lebih praktis, terukur, dan konsisten.
Bukan Sekadar Memberikan Mesin
Ada kekeliruan yang perlu dihindari ketika teknologi diperkenalkan kepada UMKM. Modernisasi tidak berhenti setelah mesin datang dan diletakkan di ruang produksi.
Mesin baru tanpa pengetahuan baru justru dapat menghadirkan persoalan lain.
Chopper memiliki pisau yang bergerak cepat dan menggunakan sumber listrik. Cup sealer bekerja dengan elemen pemanas. Pengguna perlu mengetahui cara menyalakan, mengoperasikan, menghentikan, membersihkan hingga merawat peralatan tersebut.
Karena itu, transfer teknologi semestinya berjalan bersama Standar Operasional Prosedur (SOP) serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Pengguna perlu dibiasakan memeriksa kondisi alat sebelum digunakan, mengikuti tahapan pengoperasian, mengetahui potensi bahaya, membersihkan mesin dengan benar dan mengenali tindakan yang perlu dilakukan ketika kondisi mesin tidak normal.
Dengan cara tersebut, teknologi yang diberikan tidak hanya berbentuk benda.
Ada pengetahuan dan budaya kerja baru yang ikut dibangun.
UMKM Naik Kelas Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Produk herbal yang inovatif juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan higiene dan mutu.
Proses tersebut sebenarnya dimulai dari hal yang sangat sederhana. Bahan baku rimpang perlu disortasi. Rimpang yang segar, utuh, tidak membusuk dan tidak berjamur dipilih sebelum dicuci menggunakan air mengalir. Peralatan serta ruang produksi perlu dijaga kebersihannya.
Personel yang terlibat dalam produksi juga dibiasakan menggunakan perlengkapan seperti apron, penutup rambut, masker dan sarung tangan.
Setelah produk selesai diolah, kemasan harus diperhatikan. Produk diisi secara terukur, ditutup dengan baik kemudian diberi label yang memuat informasi produk. Satu hal lain yang sering dianggap sepele oleh usaha skala kecil adalah pencatatan mutu setiap kali produksi.
Padahal, lembar kendali mutu sederhana dapat membantu produsen memeriksa apakah bahan baku memenuhi kriteria, personel bekerja secara higienis, warna dan aroma produk sesuai, kemasan tertutup rapat hingga informasi pada label telah tersedia.
Inilah pergeseran penting ketika sebuah usaha ingin tumbuh.Produksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kalimat, “biasanya kami membuatnya seperti ini,” tetapi mulai menuju, “kami mempunyai standar untuk membuatnya seperti ini.”
Dari Kampus untuk Kebutuhan Nyata UMKM
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya bertajuk “Diseminasi Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Produktivitas Minuman Herbal Berbasis Empon-Empon pada UMKM Milenial Jamu Modern Desa Gunungronggo, Kabupaten Malang”. Program ini didukung pendanaan BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Tim Pengabdian Universitas Brawijaya diketuai Dr. Retno Damayanti, STP., MP., dengan anggota dosen Dr. Dwi Setiawan dan Dr. Eng. Elya Mufidah.
Pendekatan yang dibawa tidak hanya berhenti pada diversifikasi produk. Pengembangan produk dipertemukan dengan teknologi pengolahan dan pengemasan, SOP pengoperasian, K3, higiene hingga pengendalian mutu.
Hal ini penting karena persoalan UMKM tidak selalu selesai hanya dengan menemukan resep baru atau mendapatkan mesin baru.
UMKM membutuhkan sebuah sistem produksi yang dapat dilakukan secara berulang, aman, lebih efisien dan menghasilkan produk dengan mutu yang relatif konsisten. Pada titik itulah ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi menjadi lebih bermakna ketika bertemu langsung dengan kebutuhan masyarakat.
Menjaga Tradisi dengan Cara Baru
Empon-empon tidak perlu kehilangan identitas tradisionalnya agar dapat masuk ke pasar modern.
Kunyit tetaplah kunyit, meskipun suatu hari hadir sebagai gummy. Jamu tetap membawa jejak pengetahuan turun-temurun, meskipun dikemas dengan teknologi yang lebih baik. Yang berubah adalah cara mengolah, menjaga mutu, mengemas dan memperkenalkannya kepada konsumen.
Dari satu rimpang dapat lahir berbagai bentuk produk. Dari sebuah mesin sederhana dapat dibangun proses produksi yang lebih efisien. Dari SOP dan lembar kendali mutu dapat tumbuh kebiasaan bekerja yang lebih terstandar.
Karena itu, UMKM “naik kelas” bukan semata-mata persoalan memiliki alat yang lebih modern. Naik kelas berarti kemampuan mengubah kekayaan lokal menjadi produk bernilai tambah melalui proses yang lebih baik, aman, konsisten dan relevan dengan kebutuhan pasar.
Pada akhirnya, inovasi tidak selalu lahir dari sesuatu yang benar-benar baru.
Terkadang, inovasi justru dimulai ketika kita melihat kembali apa yang telah lama ada di sekitar, lalu mempertemukannya dengan pengetahuan dan teknologi yang tepat.
Oleh: Tim Pengabdian Universitas Brawijaya


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.