Sorotan
OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Jangan Hanya Menjadi Mahasiswa: Bertumbuh, Berprestasi, Berjejaring, dan Berdampak oleh Dr.H.Miftahul Huda, SHI.,M.H (Wakil Dekan III bidang Kemahasiswaan, Kerjasama, dan Alumni Fakultas Syariah UIN Malang).
Agustus bukan hanya tentang perayaan kemerdekaan Indonesia. Bagi ribuan anak muda, bulan ini juga menjadi awal perjalanan baru memasuki dunia perguruan tinggi.
Di berbagai kampus, wajah-wajah baru mulai memenuhi ruang-ruang Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
Begitu pula di Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Pada 18 Agustus 2026, ribuan mahasiswa baru memulai langkah pertamanya sebagai bagian dari kehidupan akademik kampus.
Ada yang datang dengan penuh antusias, ada yang masih canggung, dan mungkin ada pula yang diam-diam bertanya dalam hati, “Seperti apa kehidupan saya setelah menjadi mahasiswa?”
Pertanyaan itu sangat wajar. Sebab, menjadi mahasiswa bukan sekadar berganti status dari siswa menjadi mahasiswa.
Ini adalah awal dari sebuah perjalanan untuk mengenal diri, menemukan potensi, membangun jejaring, sekaligus belajar mengambil tanggung jawab atas pilihan dan masa depan.
Baca juga: Menakar Ulang Esensi Dispensasi Kawin: Proteksi atau Sekadar Batasan Regulasi?
Fase Berbeda sebagai Mahasiswa
Memasuki perguruan tinggi merupakan salah satu persimpangan penting dalam perjalanan seorang anak muda.
Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan sekolah yang relatif terarah, kini mahasiswa memasuki ruang yang menawarkan lebih banyak kebebasan sekaligus tanggung jawab.
Gerbang kampus bukan sekadar pintu menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga pintu menuju fase kehidupan ketika seseorang mulai belajar menentukan arah bagi dirinya sendiri.
Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: sebenarnya, untuk apa kita kuliah?
Apakah sekadar mendapatkan gelar, mengejar indeks prestasi tinggi, kemudian pulang membawa selembar ijazah?
Ataukah perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang untuk menemukan jati diri, mengasah kemampuan, memperluas pergaulan, sekaligus belajar mengambil peran di tengah masyarakat?
Pendidikan tinggi sejatinya tidak berhenti pada persoalan akademik. Kampus adalah laboratorium kehidupan.
Di dalamnya, mahasiswa belajar berpikir, mengambil keputusan, bekerja sama, menghadapi kegagalan, membangun kepercayaan diri, dan memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Karena itu, menjadi mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada status. Masa kuliah semestinya menjadi ruang untuk bertumbuh, berprestasi, berjejaring, dan berdampak.
Perubahan terbesar ketika memasuki perguruan tinggi salah satunya adalah perubahan cara belajar.
Di sekolah, siswa cenderung mengikuti pola yang telah ditentukan. Guru mengarahkan, jadwal tersedia, materi disampaikan, dan tugas diberikan.
Di perguruan tinggi, mahasiswa dituntut mengambil kendali yang lebih besar atas proses belajarnya sendiri.
Dosen bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan. Buku, jurnal, diskusi, organisasi, komunitas, pengalaman lapangan, teknologi, bahkan persoalan di tengah masyarakat dapat menjadi ruang belajar.
Karena itu, sikap pasif justru dapat menjadi jebakan.
Baca juga: Ketika Pikiran Tak Lagi Punya Ruang untuk Beristirahat
Pilihan Jalan Mahasiswa Mencapai Prestasi
Kuliah yang hanya berorientasi pada rutinitas datang, duduk, dengar, catat, dan pulang akan membuat pengalaman perguruan tinggi menjadi terlalu sempit.
Mahasiswa perlu berani bertanya, berdiskusi, berbeda pendapat, mencoba hal baru, dan tidak takut gagal.
Sebab pertumbuhan tidak selalu lahir dari kenyamanan. Tantangan, kritik, kesalahan, dan pengalaman baru sering kali justru menjadi ruang terbaik untuk mengenali diri dan membangun karakter.
Di saat yang sama, mahasiswa tentu perlu memiliki semangat untuk berprestasi.
Nilai akademik tetap penting karena menunjukkan kesungguhan belajar dan dapat membuka berbagai kesempatan. Namun, prestasi tidak seharusnya hanya diukur dari angka dalam transkrip nilai.
Prestasi dapat hadir dalam berbagai bentuk: memenangkan kompetisi, menghasilkan karya ilmiah, membangun usaha, menciptakan inovasi, aktif dalam organisasi, memperoleh beasiswa, mengikuti konferensi, atau menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, mahasiswa perlu berani keluar dari zona nyaman. Ikuti kompetisi, kirimkan tulisan, coba penelitian, bangun proyek, pelajari keterampilan baru, dan ajukan gagasan.
Tidak semua usaha akan berakhir dengan kemenangan, tetapi setiap proses akan meninggalkan pengalaman.
Banyak pencapaian bukan lahir karena seseorang paling hebat, melainkan karena ia berani mencoba dan bertahan ketika menghadapi kegagalan.
Bekal Mahasiswa Selain Prestasi untuk Masa Depan
Selain prestasi, ada aset lain yang sangat berharga selama menjadi mahasiswa yaitu jejaring.
Di kampus, seseorang bertemu dengan teman, dosen, alumni, komunitas, organisasi, praktisi, dan banyak orang dari latar belakang berbeda. Mereka dapat menjadi bagian dari perjalanan panjang setelah lulus.
Membangun jejaring bukan sekadar mengumpulkan kontak, melainkan membangun hubungan yang sehat dan saling bertumbuh.
Teman satu kelas hari ini bisa menjadi rekan kerja di masa depan. Orang yang ditemui dalam organisasi bisa menjadi mitra bisnis. Dosen yang pernah memberikan kritik bisa menjadi mentor.
Karena itu, jangan habiskan masa kuliah hanya dalam lingkaran yang sama. Beranilah berkenalan, mengikuti forum, bergabung dengan komunitas, berdiskusi dengan mahasiswa lintas bidang, dan membangun hubungan dengan alumni maupun praktisi.
Dunia setelah kampus jauh lebih luas daripada ruang kelas, dan jejaring dapat menjadi jembatan menuju dunia tersebut.
Namun, seluruh proses itu seharusnya bermuara pada satu hal: kebermanfaatan.
Mahasiswa tidak cukup hanya bertanya, “Apa yang akan saya dapatkan dari kuliah?” Pertanyaan itu perlu dilengkapi dengan, “Apa yang bisa saya berikan setelah mendapatkan pendidikan?”
Dampak tidak harus selalu besar. Membantu teman memahami pelajaran, mengajar anak-anak di lingkungan sekitar, melakukan pengabdian, menciptakan inovasi sederhana, meneliti persoalan masyarakat, atau menggunakan keterampilan untuk membantu komunitas juga merupakan bentuk kontribusi.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang dibutuhkan adalah orang-orang berpendidikan yang memiliki kepedulian dan keberanian menggunakan pengetahuannya untuk menjawab persoalan di sekitarnya.
Dengan demikian, menjadi mahasiswa bukanlah tujuan akhir. Ia adalah fase untuk mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebih matang.
Maka, jangan hanya sibuk menjadi mahasiswa. Jadilah mahasiswa yang bertumbuh, berprestasi, berjejaring, dan berdampak.
“Jika hari ini terasa sulit, jangan mundur. Justru di titik itulah kisah terbaik dalam hidupmu sedang dimulai”.
Baca juga: Urip Mung Sawang-sinawang: Menemukan Kedamaian dalam Rasa Syukur
Langkah Berikutnya
Ketika suatu hari meninggalkan gerbang kampus dengan membawa ijazah, jangan biarkan yang dibawa pulang hanya selembar kertas. Bawalah pengalaman, karakter, keberanian berpikir mandiri, jejaring, dan kepedulian terhadap sesama.
Sebab gelar mungkin menjadi bukti bahwa kita pernah menempuh pendidikan tinggi. Namun, cara kita bertumbuh, berprestasi, berjejaring, dan memberi dampaklah yang menunjukkan bagaimana pendidikan benar-benar membentuk diri kita. ***

