| Kyai Aly Mas’adi sedang membacakan hadits musalsal |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menegaskan jati dirinya bukan sekadar organisasi yang mengandalkan kekuatan fisik (okol), melainkan organisasi yang menjunjung tinggi kekuatan intelektual (akal) dan spiritualitas. Hal ini dibuktikan melalui gelaran Lailatul Isnad yang menghadirkan KH. Aly Mas’adi, Katib (sekretaris pribadi) dari ulama legendaris dunia asal Padang, Syekh Yasin al-Fadani.(16/2)
Kiai Aly menjelaskan bahwa pemilihan kedua hadis ini bukan tanpa alasan. “Esensi utama pengutusan Nabi adalah rahmah (kasih sayang). Seorang murid harus memantaskan diri menjadi pewaris Nabi dengan menanamkan sifat ini dalam sanubari sebelum menyebarkannya ke seluruh dunia,” tuturnya.
Beliau juga membedah sosok sahabat Muadz bin Jabal sebagai role model. Melalui Hadis Musalsal Bil Mahabbah, umat diajarkan sunnah untuk mengungkapkan kecintaan kepada sesama, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Muadz, “Wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintaimu.”
“Giat ini membuktikan bahwa kami tidak hanya menjaga amanah para kiai dan muasis NU secara organisatoris, tapi juga peduli pada tradisi ilmu. Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda NU adalah penjaga sunnah Rasulullah yang kredibel,” tegas Safril.
“Tujuan utama kami adalah menyambungkan sanad keilmuan para kader kepada para masyaikh hingga Rasulullah SAW. Sanad bukan sekadar rekaman kata-kata, tapi mekanisme krusial yang menjembatani teks, metode, dan etika keilmuan. Menjaga sanad berarti menjaga integritas ilmu itu sendiri,” jelas tokoh yang juga aktif dalam literasi digital santri tersebut.
Kegiatan Lailatul Isnad ini menjadi momentum bagi GP Ansor Jawa Timur untuk mencetak kader yang tidak hanya berani di lapangan, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan keterikatan spiritual yang kuat. Dengan sanad yang terjaga, Ansor memastikan bahwa dakwah yang dilakukan tetap berada dalam koridor moderasi (wasathiyah) dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan hingga ke sumber asalnya.

