Langsung ke konten
Selasa, 22 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Opini

Opini Tentang Dunia Pendidikan

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM – Saya
sependapat dengan semua yang disampaikan narasumber diantaranya pendapat Drs.
Sahid, M.M, beliau merupakan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Malang.

Didiklah
anakmu sesuai dengan zamannya, karena kalau kita mendidik anak sekarang sesuai
zaman kita dulu pasti tidak akan berhasil.

Zaman kita dahulu murid bertemu
dengan guru karena takut mereka memilih sembunyi dibandingkan murid zaman
sekarang, dengan rasa bangga mereka menyapa seenaknya.

Di
era digital ini nilai ketawadhu’an murid kepada guru sudah mulai pudar. 
Arti
Tawadhu adalah rasa hormat kepada orang yang lebih tua, dengan cara menjaga
sikap atau perilaku.

Bagaimana murid berbicara kepada guru mereka? Mengapa hal
ini mulai pudar di kalangan murid ya? Di berbagai sekolah yang ada di Indonesia
sering kita jumpai berita atau peristiwa seorang murid yang membuat ulah tidak
sopan kepada gurunya.

Menurut saya nilai sopan santun berawal dari keluarga,
selain keluarga lingkungan sekitar rumah sangatlah menjadi faktor penentu
ketawadhuan murid tersebut.

Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya saya
sependapat dengan hal tersebut dikarenakan zaman sekarang sangat berbeda dengan
zaman kita.

Di zaman dulu murid jika bertemu dengan gurunya dia lebih memilih
untuk sembunyi. Hal ini disebabkan rasa takut kepada seorang guru.

Iklan

Bedakan
dengan era sekarang di manapun berada siswa berani untuk menyapa gurunya
meskipun tidak semua guru yang disapa.

Zaman sekarang murid memilih guru yang
disapa, biasanya adalah guru yang dirasa murid dekat dengan mereka. Saya tidak
menyapa guru tersebut dikarenakan saya tidak ingin menyapanya.

Murid di zaman
sekarang jika tidak suka kepada gurunya dia akan berbuat semaunya di saat jam
pelajaran guru tersebut, apalagi jika guru tersebut tidak memiliki kendali di
dalam kelas.

Guru tidak ingin ditakuti oleh muridnya, tapi di era sekarang
dengan bebas murid tersebut memperlihatkan rasa tidak suka kepada guru. Bandingkan
dengan murid di zaman dulu menatap gurunya pun ada rasa takut, segan dan
terkadang sampai gemetar.

Dahulu ketika kelas ramai guru berani melempar benda,
misalnya penghapus agar murid terkendali, di zaman sekarang guru ada rasa takut
jika melempar penghapus kepada murid.

Kejadian-kejadian yang dialami banyak
guru sampai harus berhadapan dengan jalur hukum Hal inilah yang menjadikan
murid lebih seenaknya di dalam kelas.

Nilai ketawadhuan pun hilang menghadapi
murid yang kurang dalam hal kesopanan tidak bisa dengan cara yang keras, hal
ini akan membuat murid merasa dipermalukan di hadapan teman-teman yang lain.

Tujuh
kebiasaan siswa yang lagi digiatkan oleh pemerintah pusat menjadi solusi agar
murid tersebut bisa mengubah perilaku yang tidak baik, contohnya tidur cepat
banyak kita jumpai siswa sekarang tidurnya di atas jam 23.00 Wib.

Beda dengan
dulu siswa tidur maksimal jam 09.00 Wib. Kebiasaan yang tidak baik yaitu
bermain gadget sampai larut malam, kurangnya tidur atau istirahat inilah yang
menyebabkan murid zaman sekarang lebih gampang emosi, dibandingkan murid zaman
dulu nilai ketawaduhan berkurang. Beberapa faktor keluargalah yang berperan
penting dalam menumbuhkan rasa ketawaduan murid kepada seorang guru tidak dapat
dipungkiri.

Siswa di dalam pondok pesantren lebih memiliki rasa ketawadhuan
yang sangat tinggi kepada pemimpin pondok pesantren atau Pak Kyai, ustad
ustadzah ataupun kepada guru yang lain. Sebagai guru di zaman sekarang terutama
saya lebih menekankan nilai etika sebagai penilaian di mapel yang saya ajarkan. ***

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.