| depositphotos.id |
Oleh Ramli Lahaping
CERPEN | JATIMSATUNEWS.COM: Kiman
sedang bekerja ketika sebuah mobil menabrak seekor ayam jago yang tiba-tiba
memotong jalan. Ayam itu seketika menggelepar hingga ke tepi jalan, lalu
berhenti tepat di sampingnya. Gerakan ayam tersebut perlahan melambat. Lantas dalam
waktu yang cepat, hanya kedut-kedut kecil yang tampak padanya, seolah nyawanya
telah berada di ujung napasnya.
Tiba-tiba,
Kiman jadi bimbang. Ia semestinya membuang ayam itu ke dalam tong sampahnya.
Namun ia malah berkehendak untuk memanfaatkannya. Hingga akhirnya, ia membungkusnya
dengan plastik, lalu menggantungnya di sisi dalam tongnya untuk menyamarkan rencananya
dari kecurigaan orang-orang yang melihatnya di jalan lengang itu.
Di
penghujung pagi, Kiman pun selesai membersihkan wilayah sapuannya. Ia lantas
pulang sembari menimbang sikapnya atas ayam itu. Ia kemudian teringat rengekan
anak bungsunya pada momen bersantap dua malam yang lalu. Sang anak memprotes lauk
tempe yang berulang, dan menuntut ayam goreng seperti makanan kesukaan tokoh
kartun favoritnya.
Akhirnya,
Kiman jadi mantap memanfaatkan ayam itu. Ia ingin mengolahnya sebagai lauk.
Karena itu, setelah ia menuang sampah dari tongnya ke bak penampungan, ia lalu
mambawanya pulang. Setelah sampai di rumahnya yang kosong sebab kedua anaknya bersekolah
dan istrinya bekerja di kios penatu, ia lekas membersihkan, memotong dan
menggorengnya.
Di
dalam hati, sebenarnya Kiman setengah tega untuk benar-benar menyajikan ayam
itu. Ia tahu juga hukum agama perihal sebab haramnya binatang untuk dimakan. Tetapi
demi membungkam rengekan anaknya, ia mengabaikan pengetahuannya itu. Apalagi,
ia sekeluarga memang jarang makan ayam kampung yang segar untuk kebutuhan gizi
mereka.
Kiman
memang tak bisa mengandalkan keuangannya untuk membeli makanan bermutu yang membutuhkan
ongkos lebih. Sebagai seorang tukang sapu jalan yang merupakan anak buah perusahaan
alih daya, pendapatannya tidak sampai satu juta rupiah sebulan. Penghasilannya
dan penghasilan istrinya sekadar cukup untuk menanggung hidangan sederhana
setiap hari.
Persoalan
itu terjadi karena keuangan mereka memang tidak hanya untuk persoalan makan.
Mereka mesti menyisihkan pendapatan untuk membiayai kebutuhan sekolah kedua
putra mereka, membayar tagihan listrik, mengangsur cicilan motor, hingga menangung
gaya hidup sang istri yang kadang hanyut dalam pertarungan gengsi dengan
ibu-ibu yang lain.
Waktu
bergulir cepat. Dengan sukarela, Kiman akhirnya selesai menyiapkan hidangan di
ruang dapur. Ia menyajikan nasi, sayur, dan tentu saja ayam goreng racikannya
sendiri. Hingga akhirnya, lewat tengah hari, istrinya datang bersama anak
bungsunya. Keduanya pun terkejut dan terheran setelah menyaksikan hidangan lengkap
di atas meja.
“Wah,
ada ayam goreng!” seru sang anak. Tampak sangat senang.
Sang
istri pun terperangah. “Bapak beli ayam goreng di mana? Banyak benar.”
Kiman
lantas tersenyum. “Aku goreng sendiri, Bu.”
Seketika,
sang istri terkagum. “Tumben Bapak perhatian begini.”
Dengan
perasaan terpuji, Kiman tertawa pendek. “Ya, meskipun kita bukan orang
kaya, sekali-kali, kita juga perlu makan enak.”
Mereka
bertiga lalu duduk dan mulai menyendok makanan dengan antusias, kemudian bersantap
tanpa menunggu sang anak sulung yang memang sering pulang terlambat.
“Ah,
enaknya,” turut sang anak bungsu. “Bapak ternyata jago buat ayam
goreng.”
Kiman
pun merasa senang.
“Ini
ayam kampung, ya?” tanya sang istri, penasaran.
Kiman
mengangguk, lantas menyendok nasi ke dalam di mulutnya.
“Bapak
beli ayamnya di mana?” selidik sang istri.
Setelah
sekian detik mengunyah sembari memikirkan balasan, Kiman lalu menelan
kunyahannya, kemudian berkilah, “Beli di pasar, Bu.”
“Bapak
dapat harga berapa?” ulik sang istri lagi.
Kiman
lantas meneguk air, lalu menanggapi dengan sikap menggoda, “Ah, Ibu tak
usah tahu soal harganya. Yang pasti, lebih mahal ketimbang ayam potong. Tetapi
demi menyenangkan Ibu dan anak-anak, itu bukan masalah.”
Sang
istri pun mendengkus gemas. “Semoga kemurahan hati Bapak bukan hanya hari
ini.”
Kiman
sontak tergelak.
Untuk
beberapa lama, mereka terus saja berkhidmat menyantap hidangan dengan lauk ayam
goreng itu, sampai mereka benar-benar kenyang.
Dan
pada sisi lain, Nardi, sang penabrak ayam kampung santapan Kiman sekeluarga, tengah
berada di tengah perjalanan menuju ke kantor istrinya. Pagi tadi, mereka memang
telah bersepakat untuk makan siang bersama dengan menu terbaik demi merayakan
hari ulang tahun pernikahan mereka. Apalagi, mereka memang jarang makan siang
bersama di luar rumah di tengah kesibukan mereka sebagai pegawai kantoran.
Makan
mewah di tempat yang istimewa untuk merayakan hari spesial, jelas tidak
memberatkan bagi Nardi dan istrinya. Ia adalah seorang pegawai negeri yang menjabat
bendahara pengeluaran di Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota, sedangkan
istrinya adalah pegawai di sebuah perusahaan alih daya. Dengan begitu, keuangan
mereka sangat berdaya untuk sekadar membayar tagihan makanan yang lezat, bahkan
jika mereka mengulanginya setiap hari.
Tak
lama berselang, dengan perasaan antusias, Nardi tiba di kantor istrinya.
Dalam
sekejap, istrinya kemudian datang dan lekas masuk ke dalam mobil dengan raut
berseri-seri. “Jadi, kita akan makan di mana, Pak?” tanyanya
seketika.
“Ibu
saja yang pilih,” balas Nardi.
Sang
istri lalu berpikir-pikir, kemudian menyarankan, “Bagaimana kalau di Rumah
Makan Yopi? Aku dengar-dengar, menu di sana enek-enak.”
Nardi
lantas menimbang-nimbang, kemudian menggeleng-geleng. “Ibu cari yang lain,
deh. Aku rasa, sajian di rumah makan itu tidak higienis. Lokasinya tepat di
pinggir jalan raya, sehingga debu-debu bisa bertebaran di atas makanan. Itu bisa
bikin sakit.”
Sang
istri pun mengangguk-angguk sepaham. “Bagaimana kalau di Restoran
Kliss?” tawarnya lagi.
Nardi
mendengkus. “Aku kira, di situ juga tidak baik. Itu restoran untuk para wisatawan
asing. Pemiliknya bule. Aku khawatir sajian makanannya tidak halal.”
Akhirnya,
sang istri jadi bingung. Ia lalu balas meminta pendapat, “Jadi bagusnya di
mana, dong, Pak?”
Nardi
balik berpikir-pikir. Sampai akhirnya, ia mengusulkan, “Bagusnya sih di Restoran
Kaffah. Di sana, menunya lezat-lezat dengan cita rasa Timur Tengah. Di sana ada
sajian daging domba dengan beragam racikan. Bisa dipastikan, makanan di sana
baik dan halal. Bagaimana?”
Sang
istri pun tersenyum. “Sepertinya, itu pilihan yang tepat.”
mobil, kemudian melaju ke restoran yang ia maksud. Ia seolah tidak sabar untuk segera
bersantap dengan berbekal uang komisi yang ia dapatkan dari kantornya. Sejumlah
uang yang ia peroleh sebagai bagian dari hasil pemangkasan terselubung terhadap
akumulasi jatah gaji para petugas kebersihan yang telah ia serahkan kepada
perusahaan alih daya tempat istrinya bekerja. Sebuah tindakan yang memotong
pendapatan para penyapu jalanan, termasuk Kiman.***

