Langsung ke konten
Selasa, 8 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

FISIP UB Edukasi Praktisi Humas Malang Raya: AI Hanya Alat Bantu, Empati Manusia Tetap yang Utama

 

Peserta dan tim pelaksana berfoto bersama dalam Workshop AI-Powered Public Relations di FISIP Universitas Brawijaya. (Dokumentasi: FISIP UB)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) mengambil langkah progresif dengan menggelar edukasi bagi para praktisi Hubungan Masyarakat (Humas) terkait pemanfaatan Artificial Intelligence (AI). Menariknya, kegiatan ini secara tegas mengingatkan agar kecanggihan teknologi tidak mengesampingkan nilai etika dan empati manusia.

Ketua Tim Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB 2026, Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D., menegaskan bahwa kehadiran AI pantang dipandang sebagai pengganti peran manusia seutuhnya, terutama dalam proses penyampaian pesan dan komunikasi.

“Teknologi memang dapat membantu kita membaca jutaan data dalam waktu singkat, tetapi angka tidak selalu mampu menjelaskan keseluruhan pengalaman manusia. Praktisi humas tetap sangat dibutuhkan untuk memahami konteks, mengenali emosi publik, dan memastikan keputusan komunikasi dilakukan secara akurat, etis, serta penuh empati,” ujar Pia dalam keterangannya di Malang.

Lebih lanjut, Pia menjelaskan bahwa AI seyogianya diposisikan sebagai “asisten” atau alat bantu untuk mempercepat kerja dan memperoleh gambaran awal terkait dinamika opini publik. Namun, verifikasi faktual dari manusia tetap menjadi syarat mutlak.

Iklan

“Algoritma belum tentu bisa membaca nuansa komunikasi seperti sarkasme, penggunaan bahasa lokal, maupun konteks sosial. Di sinilah sentuhan manusia beraksi,” tambahnya.

Mengingat penyebaran isu di media digital saat ini bergerak begitu masif, kemampuan pemantauan media sosial (social media listening) menjadi kunci vital. Hal ini memungkinkan organisasi untuk melakukan deteksi dini terhadap suatu isu guna mencegah terjadinya krisis reputasi.

Gagasan bernas tersebut dipaparkan secara komprehensif dalam workshop bertajuk “AI-Powered Public Relations: A Workshop on Social Media Listening with Big Data Analytics”. Acara ini digeber selama dua hari penuh, bertempat di Gedung C FISIP UB, Kota Malang.

Tak sekadar teori, pelatihan ini memfasilitasi para peserta untuk langsung praktik menghadapi simulasi situasi nyata. Mereka diajak menentukan kata kunci pemantauan, mengidentifikasi tren, memetakan aktor-aktor berpengaruh, hingga menyusun respons awal penanganan krisis menggunakan teknik prompt engineering secara kritis.

Sebagai informasi, kegiatan strategis ini merupakan wujud nyata dari peta jalan (roadmap) Pengabdian kepada Masyarakat FISIP UB di bidang Digital Public Relations yang telah konsisten berjalan sejak tahun 2024.

Dalam eksekusinya, FISIP UB sukses merajut kolaborasi apik lintas sektor dengan menggandeng Perhumas BPC Malang Raya, Parimaya, Kazee Digital, dan RVARE. Perpaduan antara perspektif akademis dan pengalaman praktis industri ini diharapkan mampu mencetak humas yang adaptif.

“Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan industri menjadi langkah penting agar pengembangan kompetensi humas kita dapat senantiasa mengikuti perubahan lanskap komunikasi yang berlangsung sangat cepat,” pungkas Pia menutup keterangannya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.