FEATURE | JATIMSATUNEWS.COM – Seorang perempuan berkerudung coklat muda tampak berjalan
pelan di jalan kampung yang lengang di pagi hari. Di tangan kirinya tergenggam
buku-buku pelajaran, sementara tangan kanannya memegang tas di bahunya. Setiap
pagi, langkahnya menuju SD Negeri Siwalankerto, sekolah kecil yang jaraknya
hanya setengah kilometer dari rumah. Dialah Nuriyati, 50 tahun, guru sekolah
dasar yang sudah hampir seperempat abad mengabdikan diri tanpa status pegawai
negeri sipil.
“Kalau jalan kaki begini, saya bisa sambil menyapa tetangga,
sambil bersyukur masih kuat bekerja,” ujarnya saat ditemui di depan sekolah,
Jumat, 7 November 2025.
Bu Nuriyati mulai mengajar sejak berusia 26 tahun. Ia
diterima sebagai guru honorer pada 2001, dengan gaji yang hanya cukup
menghidupi keluarga per bulan. “Waktu itu belum ada istilah PPPK,” kenangnya.
“Pokoknya saya mengajar karena senang melihat anak-anak belajar membaca.”
Dua puluh empat tahun berlalu, ia kini menyandang status
pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Namun gajinya masih jauh dari
cukup untuk membiayai keempat anaknya yang sedang menempuh pendidikan. “Dua
anak saya sekarang kuliah di jurusan pendidikan, satu SMA, dan yang bungsu
masih kelas empat SD,” katanya sambil tersenyum bangga.
Di rumahnya yang sederhana, bertempat di pojok gang Melati,
tumpukan buku pelajaran dan kertas latihan anak-anaknya berserakan di meja
ruang tamu. “Kalau malam, kadang kami belajar bersama, dibantu dengan anak saya
yang sulung” ujarnya. “Saya koreksi tugas murid, anak-anak belajar untuk ujian.
Kami sama-sama pejuang pendidikan.”
Sejak dulu, Nuriyati terbiasa hidup hemat. Ia menolak
berhenti mengajar meski rintangan selalu menghampirinya. “Sudah tiga kali saya
coba,” katanya. “Mungkin belum rezekinya. Tapi saya yakin, status bukan
segalanya.”
Dalam kesehariannya, ia dikenal sabar dan sederhana.
Murid-muridnya kerap datang ke rumah hanya untuk meminta bantuan mengerjakan
PR. “Bu Nur itu baik banget, nggak pernah marah,” kata Fathina, siswi kelas
tiga. “Kalau kami lupa bawa buku, beliau pinjamkan punyanya sendiri.”
Di ruang kelas, Nuriyati mengajar dengan papan tulis kecil
dan spidol yang mulai pudar. Suaranya lembut tapi tegas, memanggil satu per
satu murid untuk maju menulis. “Anak-anak ini seperti anak saya sendiri,”
tuturnya. “Saya ingin mereka tumbuh percaya diri.”
Bagi Nuriyati, mengajar adalah bentuk pengabdian. Ia tidak
menyesal tetap menjadi guru meski belum diangkat PNS. “Saya sudah diberi
kepercayaan mendidik anak-anak bangsa. Itu sudah cukup,” katanya dengan mata
berbinar.
Sebelum bel pulang berbunyi, ia menutup pelajaran dengan
satu kalimat yang selalu diulangnya setiap hari:
Jangan takut bermimpi. Mimpi bisa digapai jika kita
mengusahakannya.
Anak-anak pun serempak menjawab, “Siap, Bu Guru!”
—
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya



Komentar Pembaca
Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.