Langsung ke konten
Minggu, 1 November 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

“Wis Dilantik, Ayo Berjuang!” Fauzan Zenrif Siapkan Enam Program Unggulan Pengembangan Karier Alumni KAMALIKI

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: “Manuk glatik cucuk’e abang, wis dilantik ayo berjuang.” Parikan Jawa yang disampaikan Ketua Umum Keluarga Alumni UIN Maulana

Segenap pengurus Keluarga Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (KAMALIKI) berfoto bersama usai acara pelantikan pengurus baru, siap bersinergi menjalankan program kerja nyata demi kemajuan alumni dan almamater.

Segenap pengurus Keluarga Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (KAMALIKI) berfoto bersama usai acara pelantikan pengurus baru, siap bersinergi menjalankan program kerja nyata demi kemajuan alumni dan almamater. (Foto: Humas UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: “Manuk glatik cucuk’e abang, wis dilantik ayo berjuang.” Parikan Jawa yang disampaikan Ketua Umum Keluarga Alumni UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (KAMALIKI), Dr. H. M. Hasanuddin Wahid, M.Hum., tersebut menjadi pesan penting bagi seluruh pengurus yang baru dilantik. Pesannya sederhana: pelantikan bukan akhir dari sebuah perjalanan organisasi, melainkan awal untuk membuktikan amanah melalui kerja nyata.

Pesan itu mendapat perhatian Prof. Dr. M. Fauzan Zenrif, M.Ag., Koordinator Departemen Pengembangan Karier dan Talent Mapping KAMALIKI. Menurutnya, semangat yang terkandung dalam parikan tersebut harus diterjemahkan menjadi program kerja yang konkret, terukur, dan memberikan manfaat langsung bagi alumni.

“Setelah dilantik, kita tidak boleh berhenti pada seremoni. Justru setelah pelantikan, pekerjaan sesungguhnya dimulai. Kita harus segera bergerak, membangun kolaborasi, dan menunjukkan hasil kerja yang bisa dirasakan oleh para alumni,” ungkap Fauzan.

Baca juga: Institut Teknologi dan Bisnis Tuban Study Entrepreneurship kepada Pusat Pengembangan Bisnis UIN Maliki Malang

Baca juga: Sedekah Networking: Mengubah Jaringan Alumni Menjadi Jalan Kebermanfaatan

Menurutnya, organisasi alumni tidak semestinya hanya menjadi tempat berkumpul, bernostalgia, atau menyelenggarakan kegiatan seremonial. Lebih dari itu, KAMALIKI harus menjadi ruang untuk menghubungkan potensi, mempertemukan kompetensi, membuka peluang, dan membangun kekuatan bersama.

Ia melihat alumni UIN Maliki memiliki potensi besar karena tersebar dalam berbagai bidang profesi, mulai dari akademisi, birokrat, pengusaha, pendidik, peneliti, praktisi hukum, profesional, hingga aktivis sosial dan tokoh masyarakat.

“Persoalannya bukan semata-mata apakah alumni kita memiliki kompetensi, tetapi bagaimana kompetensi itu dapat dikenali, dihubungkan, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk membuka peluang bersama. Jangan sampai potensi besar alumni berjalan sendiri-sendiri karena tidak terhubung dalam sebuah ekosistem,” jelasnya.

Enam Program Unggulan

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Departemen Pengembangan Karier dan Talent Mapping menyiapkan enam program unggulan.

Pertama, Maliki Talent Registry, yakni pengembangan basis data alumni yang terverifikasi berdasarkan kompetensi, profesi, dan pengalaman. Kedua, Maliki Career Academy, sebagai sarana peningkatan kapasitas dan kompetensi profesional alumni.

Iklan

Ketiga, Maliki Career Mentoring, yang mempertemukan alumni muda dengan alumni senior atau profesional berpengalaman. Keempat, Maliki Career Hub, sebagai pusat informasi dan penghubung peluang kerja, magang, proyek profesional, beasiswa, serta berbagai bentuk kolaborasi.

Kelima, Maliki Entrepreneur and Professional Network, untuk memperkuat jejaring bisnis dan profesi alumni. Keenam, Maliki Expert and Leadership Pool, yang menghimpun alumni dengan keahlian dan pengalaman kepemimpinan agar dapat berkontribusi bagi masyarakat maupun pengembangan universitas.

Fauzan menegaskan bahwa keenam program tersebut tidak boleh berhenti sebagai daftar kegiatan dalam dokumen kepengurusan.

“Program harus menjadi layanan yang benar-benar berjalan. Data alumni harus bisa dimanfaatkan, pelatihan harus menjawab kebutuhan, mentoring harus menghasilkan peningkatan kapasitas, dan jejaring profesional harus melahirkan kolaborasi yang konkret,” tegasnya.

Seratus Hari Pertama Menjadi Momentum Pembuktian

Fauzan juga menekankan pentingnya menjadikan seratus hari pertama sebagai momentum untuk membangun fondasi sekaligus menunjukkan hasil awal kepengurusan.

Pada tiga puluh hari pertama, fokus diarahkan pada konsolidasi, pembagian tugas, pemetaan kompetensi pengurus, penyusunan instrumen pendataan, dan penyiapan standar operasional.

Tiga puluh hari berikutnya digunakan untuk memulai pendataan dan verifikasi alumni, mengidentifikasi mentor, menjajaki mitra, serta menguji coba layanan. Sementara itu, empat puluh hari terakhir diarahkan pada pelaksanaan mentoring, pelatihan prioritas, publikasi peluang, pengembangan direktori ahli, dan evaluasi hasil kerja.

“Pada hari keseratus, kita berharap tidak hanya memiliki laporan rapat dan dokumen program kerja. Kita harus mulai memiliki basis data alumni yang terverifikasi, jaringan mentor, pelatihan yang terlaksana, informasi peluang yang dapat diakses, serta kolaborasi yang mulai menghasilkan manfaat,” ujarnya.

Iklan

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak mungkin hanya bergantung pada koordinator atau beberapa orang pengurus. Setiap anggota harus mengambil peran sesuai kompetensi, pengalaman, dan jejaring yang dimiliki.

“Prinsip saya sederhana: setiap pengurus harus punya program, punya mitra, dan punya hasil. Tidak harus selalu berupa kegiatan besar. Membuka akses kerja bagi seorang alumni, mempertemukan dua profesional untuk berkolaborasi, atau menghubungkan usaha alumni dengan pasar baru juga merupakan kontribusi yang sangat berarti,” tambahnya.

Organisasi Alumni Harus Memberikan Manfaat Nyata

Lebih lanjut, Fauzan menjelaskan bahwa peran KAMALIKI bukanlah menjadi penyedia pekerjaan atau menjamin setiap alumni memperoleh posisi tertentu. Organisasi harus berperan sebagai fasilitator yang mempertemukan kompetensi dengan kebutuhan, membuka akses, memverifikasi informasi peluang, dan memperluas jaringan kerja sama.

Menurutnya, ukuran keberhasilan organisasi bukan terletak pada seberapa sering pengurus mengadakan pertemuan atau seberapa banyak kegiatan seremonial yang diselenggarakan, melainkan pada manfaat yang benar-benar dirasakan alumni dan kontribusi yang dapat diberikan kepada masyarakat serta almamater.

Ia berharap kepengurusan Departemen Pengembangan Karier dan Talent Mapping KAMALIKI dapat membangun budaya kerja yang mengutamakan kolaborasi, pelayanan, profesionalitas, dan hasil nyata.

Fauzan juga mengajak seluruh pengurus untuk menjadikan parikan yang disampaikan Ketua Umum KAMALIKI sebagai semangat bersama dalam menjalankan amanah:

Manuk glatik cucuk’e abang,
Wis dilantik ayo berjuang.
Dudu mung kumpul lan rembugan,
Nanging makarya kanggo kemajuan.

“Pelantikan telah selesai. Sekarang waktunya bekerja. Mari menjadikan KAMALIKI bukan sekadar tempat berkumpulnya alumni, tetapi rumah besar yang mampu menghubungkan potensi, membuka kesempatan, menguatkan jejaring, dan menghadirkan manfaat nyata. Sebab, kehormatan sebuah amanah bukan terletak pada jabatan yang kita sandang, melainkan pada manfaat yang berhasil kita tinggalkan,” pungkasnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.