MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: I League dan Arema FC mengajak ratusan mahasiswa UMM melirik peluang karier modern di dunia sepak bola yang memutar potensi roda ekonomi hingga 10,4 triliun rupiah.
Sebagai sebuah ekosistem bisnis yang masif, sepak bola modern telah menjelma menjadi industri raksasa dengan perputaran nilai ekonomi yang sangat fantastis.
Guna membedah potensi besar tersebut serta menjembatani kebutuhan tenaga ahli masa depan, operator kompetisi resmi sepak bola Indonesia PT Liga Indonesia Baru (LIB) melalui brand I League menggelar forum edukasi interaktif bertajuk “I.League Goes to Campus” di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Senin, 12 Oktober 2026.
Baca juga: Kupas Tuntas Peluang Karier Modern, UMM Sukses Gelar iLeague BRI Goes to Campus
Sorotan
I League Goes to Campus 2026
Ajak 800 Mahasiswa UMM Kenali Industri Sepak Bola

Bertempat di Aula Lantai 9 Gedung Kuliah Bersama (GKB) 4 Kampus III UMM, agenda nasional ini mendapat sambutan antusiasme yang luar biasa.
Sebanyak 800 mahasiswa lintas fakultas memadati ruangan sejak pagi hari untuk mendengarkan langsung pemaparan para pakar, manajemen klub, hingga representatif sektor perbankan pendukung kompetisi.
Sinergi strategis ini membuktikan bahwa institusi akademis memiliki peran vital dalam menyuplai inovasi berbasis ilmu pengetahuan (sport science) demi mendorong tata kelola sepak bola nasional yang jauh lebih profesional.
Agenda ini pun dirilis laman resmi I League, Arema FC, hingga Universitas Muhammadiyah Malang.
Potensi Ekonomi Rp10,4 Triliun per Musim
Membuka sesi pemaparan utama, Manager Corporate Share Value (CSV) / Media & Public Relation I League, Hanif Marjuni, menjabarkan data komprehensif mengenai skala ekonomi industri ini.
Mengutip hasil riset mendalam dari BRI Research Institute, perputaran uang yang bersirkulasi dalam penyelenggaraan kompetisi kasta tertinggi sepak bola di tanah air sukses menembus angka Rp10,4 triliun per musim.
“Bagi masyarakat umum, sepak bola mungkin hanyalah hiburan akhir pekan. Namun, di balik angka Rp10,4 triliun ini, terdapat rantai pasok ekonomi yang sangat panjang dan dinamis,” ungkap Hanif Marjuni di hadapan para peserta.
“Melalui I.League Goes to Campus, kami ingin mengetuk kesadaran teman-teman mahasiswa bahwa industrialisasi olahraga ini membuka ruang profesi baru yang sangat luas. Untuk berkontribusi membangun sepak bola yang modern dan maju, Anda tidak harus menjadi atlet atau menendang bola secara langsung di lapangan hijau,” imbuhnya.
Sosialisasi ini membidik wilayah Malang Raya, khususnya Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai panggung pembuka karena daerah ini dikenal memiliki basis massa suporter yang loyal serta rekam jejak ekosistem olahraga yang kuat.
Menurut manajemen liga, pelibatan perguruan tinggi dinilai mendesak untuk mengisi pos-pos struktural yang membutuhkan kualifikasi keahlian spesifik dan kompeten.
Baca juga: League Cup 2026/27: Hasil Drawing 7 Klub Jatim di Fase Grup
Transformasi Profesi dan Keterlibatan Multidisiplin Ilmu

Selama ini, publik sering kali hanya mengenal posisi pemain, pelatih, atau wasit dalam sebuah pertandingan sepak bola.
Padahal, ekosistem modern menuntut ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang terstruktur di belakang layar.
Pihak I League memperkenalkan ragam profesi baru yang saat ini sangat dibutuhkan oleh operator kompetisi maupun manajemen klub profesional.
Di antaranya adalah pemanfaatan Data Analyst (analis data pertandingan), Media Officer, Medical Officer, tim psikologi olahraga, ahli hukum olahraga, hingga ahli teknologi informasi penunjang operasional Video Assistant Referee (VAR).
Keanekaragaman formasi pekerjaan ini tercermin dari latar belakang 800 mahasiswa yang hadir, yang berasal dari 8 program studi berbeda di UMM.
Mereka berasal dari Teknik Informatika, Fisioterapi, Ilmu Keolahragaan, Bahasa Indonesia, Ilmu Komunikasi, Hukum, Ekonomi Bisnis, hingga Psikologi.
Chief Business and Commercial (COB) Arema FC, Irma Priyanti, memperkuat narasi tersebut dengan memaparkan model bisnis klub di era modern.
Menurutnya, klub sepak bola profesional saat ini dituntut untuk tidak lagi bergantung penuh pada hasil penjualan tiket stadion (matchday revenue).
“Klub modern harus kreatif mengembangkan lini komersial mereka. Peluang pendapatan baru kini mengalir deras melalui kolaborasi digital, aktivasi penempatan sponsor di jersi (jersey placement), penjualan merchandise resmi, hingga manajemen hak siar,” beber Irma.
Ia menambahkan, Arema FC saat ini terus memperluas jangkauan digital dengan total pengikut media sosial mencapai lebih dari 4,38 juta akun.
Skala digitalisasi dan bisnis retail seperti Arema Store serta Arema Axcess jelas membutuhkan sentuhan profesional dari para mahasiswa lulusan rumpun ilmu bisnis, desain komunikasi visual, dan ilmu komunikasi.
Baca juga: Rekap Hasil IWL Pekan 1: Persija vs Bekasi City Women Imbang, Persita dan Dewa United Menang
Penerapan Sport Science di Kampus Putih

Selain aspek komersial dan hukum olahraga, hal mendasar yang menjadi sorotan dalam forum diskusi ini adalah pentingnya integrasi keilmuan akademis terhadap performa atlet, atau yang dikenal dengan istilah sport science.
Hanif Marjuni memberikan apresiasi tinggi terhadap kesiapan infrastruktur dan fasilitas akademis yang dimiliki oleh Kampus Putih UMM.
Saat ini, UMM telah memiliki pondasi kuat dalam menyokong kebutuhan medis olahraga, mulai dari kesiapan dukungan kedokteran olahraga di Fakultas Kedokteran.
Kemudian, fasilitas mutakhir di program studi Fisioterapi, hingga arah pengembangan embrio Program Studi Keolahragaan di bawah naungan FKIP menuju pembentukan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang mandiri.
Sinergi antara keilmuan kampus dan kebutuhan riil industri ini diharapkan melahirkan riset-riset berbasis data akurat yang dapat langsung diimplementasikan oleh klub-klub profesional di Indonesia guna meminimalisasi risiko cedera pemain serta meningkatkan kebugaran fisik atlet.
Dukungan nyata atas perhelatan ini juga datang dari pihak perbankan yang menjadi sponsor utama liga.
Branch Office Head BRI Malang Soekarno Hatta, Johanes Alfred Simanjuntak, mengungkapkan bahwa komitmen instansinya masuk ke dalam dunia sepak bola bukan semata-mata mencari keuntungan bisnis transaksional.
BRI memandang sepak bola sebagai instrumen strategis untuk memberikan makna positif langsung bagi kemajuan bangsa Indonesia, salah satunya lewat edukasi literasi keuangan dan pemberdayaan generasi muda di tingkat universitas.
Gerbang Awal Kolaborasi Berkelanjutan

Mewakili pihak universitas, Wakil Rektor III UMM, Dr. Nur Subeki, S.T., M.T., secara resmi membuka acara dan menyambut hangat kunjungan kolaboratif dari I League dan Arema FC ini.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Biro Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni (BAKA) UMM, Dr. Tatag Muttaqin, S.Hut., M.Sc., IPM., mengimbau mahasiswa agar bersikap jeli, peka, dan tanggap dalam menangkap peluang besar di industri sepak bola.
Tatag menegaskan bahwa bekal teori akademik yang didapatkan di ruang perkuliahan wajib diperkaya dengan pengalaman praktis di lapangan serta keberanian untuk bekerja secara lintas disiplin ilmu.
Sesi akhir acara diisi dengan forum tanya jawab interaktif yang berlangsung sangat dinamis.
Para mahasiswa secara kritis melontarkan pertanyaan mendalam seputar mekanisme pengelolaan manajemen suporter, peluang magang (internship program) di PT LIB maupun Arema FC, pengelolaan operasional hari pertandingan (match management), hingga sistem analisis performa pemain berbasis statistik digital.
“Dunia sepak bola profesional hari ini membutuhkan kualifikasi tenaga ahli yang terstruktur dan bersertifikat resmi,” ujar Hanif Marjuni.
“Kami berharap sinergi awal ini dapat terus didorong, bahkan ke depannya materi mengenai hukum olahraga, manajemen bisnis suporter, hingga tata kelola industri olahraga dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum perguruan tinggi maupun dalam skema program magang resmi mahasiswa,” pungkasnya.
Setelah sukses menyambangi Universitas Madura di Pamekasan dan Universitas Muhammadiyah Malang, safari program edukasi berskala nasional I League Goes to Campus ini akan terus melesat ke sejumlah perguruan tinggi di kota-kota basis sepak bola utama tanah air lainnya.
Di antaranya termasuk Parepare, Samarinda, Jepara, Kediri, Surabaya, hingga Yogyakarta.***
Author: YAN


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.