Penulis: Dr. H. Misbahul Munir, Lc., M.EI. (Dekan Fakultas Ekonomi UIN Malang)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan ekonomi modern telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Kemajuan teknologi, industrialisasi, digitalisasi, dan perdagangan global telah membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang semakin luas. Berbagai negara berlomba meningkatkan produktivitas, memperkuat daya saing, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, di balik kemajuan tersebut, dunia menghadapi persoalan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, pencemaran lingkungan, deforestasi, krisis energi, hingga ketimpangan sosial dan ekonomi.
Kondisi ini mendorong munculnya kesadaran bahwa keberhasilan pembangunan tidak dapat diukur semata-mata dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), peningkatan investasi, atau besarnya aktivitas industri. Pembangunan juga harus memperhitungkan kualitas lingkungan, keberlanjutan sumber daya alam, pemerataan kesejahteraan, serta kualitas hidup generasi mendatang.
Dalam konteks tersebut, green economy atau ekonomi hijau menjadi salah satu pendekatan penting dalam transformasi ekonomi global. Ekonomi hijau menawarkan cara pandang baru bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan bukanlah dua kepentingan yang harus selalu dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan melalui inovasi, pemanfaatan sumber daya secara efisien, pengembangan teknologi ramah lingkungan, dan kebijakan ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan.
Bagi Indonesia, gagasan ekonomi hijau memiliki arti strategis. Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, potensi energi terbarukan, dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia mempunyai peluang untuk mengembangkan model pembangunan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis dan berkeadilan secara sosial.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai ekonomi hijau bukan sekadar membicarakan isu lingkungan. Lebih dari itu, ekonomi hijau merupakan pembicaraan tentang masa depan sistem ekonomi, arah kebijakan pembangunan, strategi dunia usaha, serta tanggung jawab moral dan intelektual perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman.
Secara umum, ekonomi hijau merupakan pendekatan pembangunan ekonomi yang berupaya meningkatkan kesejahteraan manusia dan keadilan sosial sekaligus mengurangi risiko lingkungan serta kelangkaan sumber daya alam. Konsep ini menekankan bahwa kegiatan ekonomi harus memperhatikan hubungan antara manusia, produksi, konsumsi, dan ekosistem. Sumber daya alam tidak dipandang sebagai faktor produksi yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan sebagai modal ekologis yang menopang keberlangsungan kehidupan dan aktivitas ekonomi.
Fenomena ekonomi hijau semakin relevan karena model pembangunan konvensional sering kali menempatkan pertumbuhan produksi dan konsumsi sebagai tujuan utama, sementara biaya lingkungan belum sepenuhnya diperhitungkan dalam keputusan ekonomi. Akibatnya, sebagian keuntungan ekonomi dapat dinikmati oleh pelaku usaha, sedangkan dampak pencemaran, kerusakan ekosistem, dan penurunan kualitas kesehatan ditanggung oleh masyarakat luas.
Dalam perspektif ekonomi, persoalan tersebut berkaitan dengan eksternalitas negatif, yaitu dampak kegiatan ekonomi terhadap pihak lain yang tidak sepenuhnya tercermin dalam harga pasar. Sebagai contoh, sebuah industri mungkin memperoleh keuntungan dari kegiatan produksinya, tetapi masyarakat di sekitar kawasan industri dapat menanggung kerugian akibat pencemaran air dan udara.
Ekonomi hijau berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui berbagai instrumen, antara lain kebijakan fiskal yang mendukung kegiatan ramah lingkungan, insentif investasi hijau, standar lingkungan, perdagangan karbon, pengembangan energi terbarukan, dan penerapan prinsip ekonomi sirkular. Dengan demikian, ekonomi hijau bukan berarti menghentikan pembangunan atau menolak industrialisasi. Ekonomi hijau justru mendorong transformasi kegiatan ekonomi agar lebih efisien, inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.