MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepemimpinan perempuan bukan sekadar persoalan keterwakilan, melainkan juga kesempatan untuk menghadirkan perubahan melalui gagasan, keteladanan, dan kepemimpinan yang inspiratif. Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam The 1st International Women’s Conference and Muslim Women Awards 2026.
Di hadapan peserta konferensi internasional bertema “Women’s Faith, Knowledge, Leadership, and Global Transformation”, Prof. Ilfi menyampaikan bahwa UIN Malang berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang tidak mendiskriminasi perempuan. Komitmen itu tercermin dalam komposisi kepemimpinan dan sumber daya manusia di lingkungan kampus.
Ia mengungkapkan, sekitar 42 persen posisi kepemimpinan di UIN Malang telah diisi perempuan. Sementara itu, jumlah aparatur sipil negara (ASN) perempuan mencapai 36 persen dari keseluruhan ASN. Dari sembilan fakultas yang ada, empat di antaranya dipimpin dekan perempuan.
Menurut Prof. Ilfi, perempuan yang memperoleh kesempatan memimpin dapat menghadirkan inspirasi dan motivasi bagi lingkungan kerjanya. Kepemimpinan tersebut juga ditandai kemampuan mendorong perubahan melalui gagasan, ide, dan pendekatan yang membangun.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan semestinya tidak melahirkan diskriminasi terhadap siapa pun. Sebaliknya, pengalaman dan perspektif perempuan dapat menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan organisasi yang lebih inklusif.
Dalam forum yang sama, Ketua Umum Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU), Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, berharap organisasi tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan perempuan, Indonesia, dan masyarakat dunia.

Amany menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan dalam menjawab tantangan zaman. Menurutnya, penguatan ekonomi dan ketahanan keluarga perlu menjadi perhatian bersama agar perempuan memiliki kapasitas yang semakin kuat dalam kehidupan sosial.
Konferensi internasional ini turut menghadirkan sejumlah tokoh perempuan dari berbagai negara, di antaranya Neziha Labidi dari Tunisia, Sinta Nuriyah Wahid dari Indonesia, Basimah Haqqawi dari Maroko, dan Halimah Yacob dari Singapura. Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifatul Choiri Fauzi.
Pertemuan lintas negara tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai keimanan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan perempuan sebagai kekuatan dalam mendorong transformasi global.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.