Langsung ke konten
Sabtu, 7 November 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

42 Persen Pemimpin UIN Malang Perempuan, Prof. Ilfi Nur Diana Tegaskan Komitmen Kampus Tanpa Diskriminasi

Kepemimpinan perempuan bukan sekadar persoalan keterwakilan, melainkan juga kesempatan untuk menghadirkan perubahan melalui gagasan, keteladanan, dan kepemimpinan yang inspiratif

Pemaparan Rektor UIN Malang

Pemaparan Rektor UIN Malang (Foto: Humas UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kepemimpinan perempuan bukan sekadar persoalan keterwakilan, melainkan juga kesempatan untuk menghadirkan perubahan melalui gagasan, keteladanan, dan kepemimpinan yang inspiratif. Komitmen tersebut ditegaskan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., dalam The 1st International Women’s Conference and Muslim Women Awards 2026.

Di hadapan peserta konferensi internasional bertema “Women’s Faith, Knowledge, Leadership, and Global Transformation”, Prof. Ilfi menyampaikan bahwa UIN Malang berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang tidak mendiskriminasi perempuan. Komitmen itu tercermin dalam komposisi kepemimpinan dan sumber daya manusia di lingkungan kampus.

Ia mengungkapkan, sekitar 42 persen posisi kepemimpinan di UIN Malang telah diisi perempuan. Sementara itu, jumlah aparatur sipil negara (ASN) perempuan mencapai 36 persen dari keseluruhan ASN. Dari sembilan fakultas yang ada, empat di antaranya dipimpin dekan perempuan.

Baca juga: TPAK Perempuan Tertinggal 28 Persen dari Laki-Laki, Menteri PPPA Desak Penguatan Kepemimpinan Perempuan

Baca juga: Doktor MPI UIN Malang Lahirkan Model ELOCI–Transformation, Perkuat Kepemimpinan Etis Berbasis Nilai Islam di Perguruan Tinggi

Menurut Prof. Ilfi, perempuan yang memperoleh kesempatan memimpin dapat menghadirkan inspirasi dan motivasi bagi lingkungan kerjanya. Kepemimpinan tersebut juga ditandai kemampuan mendorong perubahan melalui gagasan, ide, dan pendekatan yang membangun.

Ia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan semestinya tidak melahirkan diskriminasi terhadap siapa pun. Sebaliknya, pengalaman dan perspektif perempuan dapat menjadi kekuatan untuk membangun lingkungan organisasi yang lebih inklusif.

Iklan

Dalam forum yang sama, Ketua Umum Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU), Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, berharap organisasi tersebut dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan perempuan, Indonesia, dan masyarakat dunia.

Rektor UIN Malang bersama Ketua Asosiasi Profesor Muslimat (APM) NU
Rektor UIN Malang bersama Ketua Asosiasi Profesor Muslimat (APM) NU

Amany menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan dalam menjawab tantangan zaman. Menurutnya, penguatan ekonomi dan ketahanan keluarga perlu menjadi perhatian bersama agar perempuan memiliki kapasitas yang semakin kuat dalam kehidupan sosial.

Konferensi internasional ini turut menghadirkan sejumlah tokoh perempuan dari berbagai negara, di antaranya Neziha Labidi dari Tunisia, Sinta Nuriyah Wahid dari Indonesia, Basimah Haqqawi dari Maroko, dan Halimah Yacob dari Singapura. Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Arifatul Choiri Fauzi.

Pertemuan lintas negara tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai keimanan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan perempuan sebagai kekuatan dalam mendorong transformasi global.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.