SIDOARJO | JATIMSATUNEWS.COM: Suasana berbeda tampak di SMP PGRI 16 Sidoarjo (SPEGRINASDA) pada Selasa (13/10/2026). Kali ini, pembelajaran Bahasa Indonesia berlangsung dengan cara yang lebih kreatif dan interaktif. Melalui praktik nyata dongeng pada materi teks cerita fantasi, peserta didik diajak menyelami dunia imajinasi sekaligus mengembangkan kemampuan berbahasa, berekspresi, dan berkreasi.
Miftahul Afifur Rohman, M.Pd., selaku guru Bahasa Indonesia, mencoba mengaktualisasikan pembelajaran melalui kegiatan praktik langsung. Peserta didik tidak hanya mempelajari pengertian, ciri-ciri, dan struktur teks cerita fantasi melalui buku atau penjelasan guru, tetapi juga terlibat secara aktif dalam memerankan dongeng dengan karakter yang beraneka ragam.
Berbagai karakter ditampilkan oleh peserta didik, mulai dari tokoh protagonis dan antagonis hingga tokoh-tokoh unik yang memiliki kekuatan, sifat, dan kepribadian berbeda. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik memperoleh kesempatan untuk menghidupkan cerita melalui dialog, ekspresi wajah, intonasi suara, gerak tubuh, serta penghayatan karakter.
Baca juga: Tiga Mahasiswa MPMAT UIN Malang Raih Medali di Kompetisi Inovasi Pembelajaran Matematika Berbasis AI
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, yakni menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata peserta didik. Cerita fantasi yang selama ini dipelajari sebagai sebuah teks kini diwujudkan dalam bentuk pertunjukan sederhana yang melibatkan kreativitas dan keberanian.
Wujudkan Pembelajaran Interaktif dan Tumbuhkan Kepercayaan Diri
Menurut Miftah, sapaan lekat guru muda tersebut, praktik langsung dapat menjadi sarana bagi peserta didik untuk memahami materi secara lebih mendalam. Pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menjawab pertanyaan atau mengidentifikasi unsur cerita, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk menunjukkan pemahamannya melalui tindakan nyata.
“Melalui praktik dongeng ini, peserta didik tidak hanya memahami cerita fantasi secara teori, tetapi juga belajar bagaimana menghidupkan tokoh, menyampaikan dialog, dan membangun suasana cerita. Saya berharap pembelajaran seperti ini dapat menumbuhkan kreativitas, kepercayaan diri, dan kecintaan peserta didik terhadap pelajaran Bahasa Indonesia,” ungkap Miftah.
Antusiasme peserta didik turut mewarnai kegiatan tersebut. Yurie, salah satu peserta didik, mengungkapkan bahwa praktik dongeng memberikan pengalaman belajar yang berbeda dari pembelajaran biasanya.
“Menurut saya, pembelajaran ini menyenangkan karena kami bisa langsung memerankan karakter dalam cerita fantasi. Saya juga belajar mengatur ekspresi dan intonasi supaya tokoh yang saya perankan terasa lebih hidup,” ujar Yurie.
Pendapat serupa disampaikan Zakaria. Ia menilai kegiatan praktik membuat materi cerita fantasi lebih mudah dipahami karena peserta didik dapat merasakan secara langsung bagaimana sebuah cerita dibawakan.
“Dengan praktik seperti ini, saya menjadi lebih memahami karakter tokoh dan jalan cerita. Selain itu, kami juga belajar bekerja sama dengan teman dan lebih berani tampil di depan orang lain,” tutur Zakaria.
Melalui kegiatan tersebut, SPEGRINASDA menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dikembangkan secara inovatif dengan menempatkan peserta didik sebagai pelaku utama dalam proses belajar. Materi cerita fantasi tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengembangkan imajinasi, keterampilan berbicara, kolaborasi, dan karakter positif.
Pembelajaran kontekstual melalui praktik dongeng ini diharapkan dapat menjadi inspirasi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna. Dengan demikian, peserta didik tidak sekadar mengetahui konsep cerita fantasi, tetapi juga mampu mengaktualisasikannya melalui karya dan penampilan kreatif.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.