MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kolaborasi dosen dan mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, turut berpartisipasi dalam Borneo International Academic Forum (BIAF) 2026 yang diselenggarakan secara hybrid di Banjarmasin pada 17–19 September 2026.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mengikuti forum secara daring dari Malang dan mempresentasikan karya ilmiah dalam forum akademik internasional tersebut.
BIAF 2026 mengusung tema “Continuity and Changes: Islam, Science, and Society in Digital Age”. Forum ini menjadi ruang akademik untuk mempertemukan berbagai gagasan mengenai perkembangan Islam, ilmu pengetahuan, dan masyarakat dalam menghadapi perubahan di era digital.
Salah satu tim yang berpartisipasi adalah kolaborasi Sri Hariyati Lestari, S.Th.I., M.Ag., bersama mahasiswa semester 7 Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Bilqist Adna Salsabila. Keduanya mengikuti rangkaian kegiatan dan mempresentasikan paper secara daring dari Malang dengan judul “Umamun Amtsãlukum: Reconstructing an Islamic Scriptural Paradigm of Human-Animal Relations in the Anthropocene.”
Judul tersebut berangkat dari kegelisahan akademik bahwa krisis ekologis tidak semata-mata merupakan persoalan kerusakan ekosistem, tetapi juga berkaitan dengan cara manusia memahami posisinya di tengah komunitas kehidupan. Salah satu persoalan yang dikritisi adalah kecenderungan antroposentrisme etis, ketika alam dan hewan dipandang terutama berdasarkan manfaatnya bagi kehidupan manusia.
Melalui pendekatan terhadap sumber-sumber keislaman, ide yang keduanya tuangkan dalam tulisan tersebut berupaya meninjau ulang kecenderungan paradigma skriptural Islam mengenai relasi manusia dan hewan dengan mempertanyakan apakah keberadaan hewan hanya memiliki nilai moral karena memberikan manfaat bagi manusia atau juga memiliki kedudukan dalam tatanan penciptaan sebagai bagian dari makhluk Allah.
Dalam presentasinya, Bilqist Adna Salsabila dan Sri Hariyati Lestari menempatkan isu tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni kebutuhan untuk mengembangkan pemahaman keagamaan yang tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia, tetapi juga mempertimbangkan hubungan manusia dengan makhluk hidup dan lingkungan.
Partisipasi tersebut menjadi salah satu bentuk ruang kolaborasi dosen dan mahasiswa dalam pengembangan kajian Al-Qur’an dan hadis yang responsif terhadap persoalan kontemporer, khususnya isu lingkungan yang semakin menjadi perhatian dalam diskursus akademik global.
Raih Dua Penghargaan dalam Kategori Performance
Tidak hanya berhasil menjadi salah satu tim yang terpilih untuk mempresentasikan karya ilmiahnya, kolaborasi Sri Hariyati Lestari dan Bilqist Adna Salsabila juga mencatat capaian dalam kategori penilaian berdasarkan performance pada ruang presentasi masing-masing.
Paper yang mereka bawakan menjadi salah satu karya yang terpilih untuk dipresentasikan dalam cluster undergraduate (S1) bersama 189 tim peserta lainnya, di samping ratusan tim dari cluster postgraduate (S2 dan S3).
Dalam kategori penilaian performance pada ruang presentasi yang diikuti, tim kolaborasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang berhasil memperoleh Juara 1 The Best Slide dan Juara 2 The Best Video Presenter.
Capaian tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman akademik mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan menyampaikan gagasan ilmiah kepada audiens dalam forum internasional secara efektif dan kreatif. Selain substansi penelitian, aspek penyajian dan komunikasi ilmiah juga menjadi bagian dari pengalaman peserta dalam mengikuti forum tersebut.
Bagi Bilqist, pengalaman tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk mempresentasikan hasil kajian, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan akademik, komunikasi ilmiah, serta keberanian berdialog dalam forum internasional.
“Pengalaman mengikuti BIAF memberikan kesempatan untuk belajar menyampaikan gagasan tentang relasi manusia dan hewan dalam tinjauan Al-Qur’an dan hadis kepada forum yang lebih luas. Bagi saya, ini juga menjadi pengalaman untuk memahami bahwa kajian keduanya dapat berdialog dengan isu ekologis yang sedang menjadi perhatian global,” terang Bilqist Adna Salsabila.
Lebih jauh, kajian ini diharapkan dapat mendorong pengembangan studi Al-Qur’an dan hadis yang semakin terbuka terhadap pendekatan interdisipliner serta mampu memberikan kontribusi terhadap persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
Angkat Relasi Ruang-Waktu Surga melalui Al-Qur’an dan Fisika
Selain tim Sri Hariyati Lestari dan Bilqist Adna Salsabila, partisipasi dari lingkungan akademik UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga hadir melalui tim yang mengangkat kajian interdisipliner antara tafsir Al-Qur’an dan fisika.
Tim tersebut terdiri atas Raihan Al Fahrizi, Anna Bella Francis, dan Muhammad Azka Maulana dari Universitas Islam Tribakti Lirboyo Kediri. Tim ini membawa paper berjudul “Eschatological Relativity: Reinterpreting Paradise’s Space-Time in Qur’anic Exegesis and Physics” dan berhasil memperoleh Juara 1 The Best QnA Performance.
Paper tersebut membahas konsep “abadan” dalam Al-Qur’an dengan pendekatan fisika. Gagasan penelitian berangkat dari pengamatan bahwa dalam literatur tafsir, baik klasik maupun kontemporer, istilah abadan umumnya dipahami dalam pengertian “selama-lamanya”. Tim tersebut kemudian mengajukan pertanyaan teoritis mengenai bagaimana konsep waktu bekerja dalam konteks kehidupan akhirat, khususnya surga, apabila dikaji melalui dialog antara tafsir Al-Qur’an dan konsep-konsep dalam fisika.
Penelitian yang bersifat teoritis tersebut menggunakan pendekatan Inference to the Best Explanation (IBE) dengan model falsifikasi untuk menguji sejumlah kemungkinan penjelasan. Tim mengajukan tiga hipotesis yang kemudian diuji secara teoritis, yaitu H1: waktu di surga berjalan secara linear tanpa akhir; H2: waktu terus eksis, tetapi hukum fisika yang berkaitan dengan kerusakan entropik ditiadakan; dan H3: surga berada sepenuhnya di luar dimensi temporal.
Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak dimaksudkan untuk menetapkan secara empiris bagaimana kondisi ruang-waktu di akhirat, melainkan mengeksplorasi secara teoritis kemungkinan-kemungkinan penjelasan yang dapat digunakan dalam membaca konsep abadan dan gambaran kehidupan akhirat dalam perspektif Al-Qur’an.
Kehadiran dua tim dengan tema penelitian yang berbeda tersebut menunjukkan keluasan isu yang dapat dikaji melalui studi Al-Qur’an, hadis dan literatur keislaman lainnya. Di satu sisi, kajian mengenai relasi manusia, hewan, dan lingkungan menghadirkan perspektif ekoteologis dalam merespons krisis ekologis.
Di sisi lain, kajian mengenai ruang-waktu surga mempertemukan khazanah tafsir dengan pertanyaan-pertanyaan teoretis dalam ilmu fisika.
Keduanya memperlihatkan upaya mahasiswa untuk mengembangkan kajian Al-Qur’an dan hadis melalui pendekatan yang dialogis dan interdisipliner, sekaligus membawa isu-isu keislaman ke dalam ruang diskusi akademik yang lebih luas.
Memperkuat Budaya Akademik dan Kolaborasi Keilmuan
BIAF 2026 melibatkan sejumlah perguruan tinggi keagamaan Islam, antara lain UIN Antasari Banjarmasin, UIN Sultan Aji Muhammad Idris Samarinda, UIN Palangka Raya, dan IAIN Pontianak. Forum tersebut mempertemukan peserta dari berbagai jenjang pendidikan dan latar belakang akademik untuk mendiskusikan perkembangan Islam, sains, dan masyarakat dalam konteks perubahan zaman.
Keikutsertaan para mahasiswa tersebut dalam BIAF 2026 sekaligus memperkuat budaya akademik di lingkungan Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terutama dalam mendorong pengembangan penelitian, kemampuan komunikasi ilmiah, kolaborasi akademik, serta pengkajian Al-Qur’an dan hadis yang responsif terhadap persoalan-persoalan kontemporer.
Partisipasi dalam forum internasional tersebut juga memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan menyusun argumentasi ilmiah, mempresentasikan hasil kajian, serta berdialog dengan perspektif keilmuan yang berbeda. Hal ini menjadi bagian dari proses pembelajaran akademik yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam forum ilmiah di tingkat internasional.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.