MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perjalanan menuju panggung kompetisi sains internasional tidak selalu berjalan mulus. Hal itu dirasakan Louis — dengan nama lengkap Louis Victor Iswaranimpuna Paris –, Murid SMA Katolik St. Albertus (SMA DEMPO) Kota Malang, yang akhirnya mampu membuktikan kerja kerasnya dengan meraih tiga medali sekaligus dalam ajang kompetisi ilmu kebumian tingkat internasional.Tak hanya membawa pulang medali, Louis juga berhasil meraih First Prize untuk kategori karya ilmiah. Dalam karya tersebut, ia mengangkat isu [memperingati 20 tahun sejak terjadinya] Lumpur Lapindo, [tragedi sosial dan ilmiah] di Indonesia yang kemudian diperkenalkan melalui forum kompetisi internasional.
Prestasi tersebut menjadi buah dari perjalanan panjang Louis sejak mengikuti seleksi tingkat sekolah hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu delegasi Indonesia di tingkat internasional.
Louis menceritakan, untuk mencapai kompetisi internasional tersebut dirinya harus melewati sejumlah tahapan seleksi yang berlangsung sejak 2024.
“Seleksinya dimulai tahun lalu, kira-kira bulan Juni. Sebelumnya ada tingkat sekolah, kemudian 2025 awal dari tingkat kabupaten/kota, dilanjutkan Agustus tingkat provinsi, dan September tingkat nasional,” ujar Louis.
Setelah [memenangkan medali OSN] tingkat nasional, perjuangan belum berhenti. Para peserta masih harus mengikuti rangkaian pembinaan dan seleksi nasional yang dilakukan oleh para mentor.
Pembinaan tersebut berlangsung dalam dua tahap dan dilaksanakan selama berbulan-bulan, termasuk kegiatan yang [difasilitasi oleh beberapa Perguruan Tinggi Negeri termasuk dosen dari UGM dan ITB] Hingga akhirnya pada Juni 2026, Louis mendapatkan kepastian bahwa dirinya terpilih menjadi salah satu delegasi Indonesia untuk mengikuti kompetisi internasional.
Lima Tes Tertulis Selama Sembilan Jam
Louis mengungkapkan, persaingan di tingkat internasional jauh lebih berat dibandingkan tahapan sebelumnya. Peserta harus mengikuti rangkaian tes individu dengan waktu pengerjaan yang sangat panjang.
“Ada beberapa rangkaian tes. Ada satu yang benar-benar sifatnya individu, di mana kami mengikuti lima tes tertulis selama sembilan jam. Kemudian dilanjutkan keesokan harinya dengan praktik selama delapan jam,” jelasnya.Rangkaian tes tersebut menuntut konsentrasi, ketahanan fisik dan mental, serta penguasaan materi yang kuat.
Dari kompetisi tersebut, Louis berhasil meraih medali perak dan medali perunggu pada kategori individu maupun kelompok. Selain itu, ia juga mendapatkan First Prize untuk kategori karya ilmiah.
Dengan demikian, Louis berhasil membawa pulang tiga medali sekaligus dari kompetisi tersebut.
Angkat Lapindo di Panggung Internasional
Salah satu bagian yang paling menarik dari perjalanan Louis adalah karya ilmiah yang dipresentasikan dalam kompetisi internasional.Louis memilih mengangkat Lumpur Lapindo sebagai tema karya ilmiahnya. Fenomena kebumian yang terjadi di Indonesia tersebut menjadi salah satu topik yang ia bawa untuk diperkenalkan kepada peserta dan juri dari berbagai negara.
Selain membahas Lapindo, Louis juga mempresentasikan sejumlah kajian mengenai fenomena kebumian lainnya, termasuk sistem glasier di Pegunungan Alpen serta pertambangan emas di salah satu wilayah yang menjadi objek kajiannya.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi Louis untuk tidak hanya berkompetisi, tetapi juga memperkenalkan kajian tentang fenomena geologi Indonesia di forum internasional.
Persaingan Semakin Ketat
Menurut Louis, kompetisi internasional setiap tahun semakin ketat. Peserta datang dari berbagai negara dengan sistem pembinaan dan dukungan yang berbeda-beda.Ada negara yang memberikan fasilitas dan dukungan pemerintah secara kuat kepada peserta. Namun, ada pula peserta dari negara tertentu yang mengikuti kompetisi dengan pembiayaan sendiri.
“Kompetisi semakin ketat. Setiap negara punya cara masing-masing. Ada negara yang sangat baik fasilitasnya, mendapat dukungan dari kementerian. Ada juga negara yang membiayai sendiri sehingga lebih leluasa,” katanya.
Ketatnya persaingan terlihat dari perbedaan nilai yang sangat tipis di antara peserta terbaik.
Louis mengungkapkan, selisih perolehan nilai di posisi atas bahkan hanya terpaut sangat kecil. Kondisi tersebut membuat setiap peserta harus benar-benar memaksimalkan kemampuan dalam setiap sesi kompetisi.
Bersyukur Bisa Kembali Membawa Prestasi untuk Indonesia
Setelah seluruh rangkaian kompetisi selesai, Louis mengaku bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan membawa prestasi.“Begitu menginjakkan kaki di Indonesia sangat bersyukur bisa kembali membawa sesuatu yang bisa kita persembahkan untuk Indonesia,” ungkapnya.
Bagi Louis, pengalaman mengikuti kompetisi internasional bukan hanya tentang memperoleh medali. Ia mendapatkan pengalaman berharga melalui interaksi dengan peserta dari berbagai negara, menghadapi sistem kompetisi yang berbeda, hingga mempresentasikan karya ilmiah di hadapan komunitas internasional.
Kepala Sekolah: Louis Punya Target dan Mau Memperjuangkannya
Kepala SMA Katolik St. Albertus (SMA DEMPO) Kota Malang, Bruder Mardi panggilan keseharian dari (Antonius Sumardi), menilai Louis merupakan sosok siswa yang memiliki kemauan kuat untuk menentukan target dan memperjuangkannya.
Menurut Mardi, sekolah memberikan dukungan penuh terhadap siswa yang memiliki potensi dan minat di bidang olimpiade sains.
“Dia bagi saya anak yang mengerti apa yang harus menjadi targetnya. Kemudian dia perjuangkan,” ujar Mardi.
Namun, perjalanan Louis ternyata tidak selalu diwarnai keberhasilan. Ia juga pernah mengalami kegagalan ketika mengikuti seleksi pada bidang fisika.
Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Louis justru terus mencari bidang yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya hingga akhirnya berhasil menembus kompetisi internasional.
“Kalau ngomong langganan, tahapan-tahapan ini pernah gagal juga. Waktu bidang fisika dia pernah gagal. Kemudian dia harus mengejar mimpinya sendiri,” ungkap Mardi.
Menurutnya, sejak awal sekolah memang memberikan dukungan terhadap perjalanan siswa dalam mengikuti OSN dan berbagai kompetisi sains.
Dukungan tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan agar Murid tidak hanya mampu mencapai prestasi, tetapi juga memiliki mental untuk menghadapi kegagalan dan bangkit kembali.
Prestasi Louis menjadi bukti bahwa keberhasilan di tingkat internasional tidak lahir secara instan. Ada proses panjang yang harus dilalui, mulai dari seleksi, pembinaan, kegagalan, evaluasi hingga perjuangan untuk kembali mengejar target.
Dari SMA Katolik St. Albertus (SMA DEMPO) Kota Malang, Louis akhirnya mampu membawa nama Indonesia ke panggung internasional dengan tiga medali dan First Prize karya ilmiah.
Prestasi tersebut sekaligus menjadi inspirasi bagi Murid lainnya bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses menuju pencapaian yang lebih tinggi.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.