Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., tengah memberikan pemaparan materi sebagai *keynote speaker* di hadapan para guru dalam acara Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa di Kepanjen, Kabupaten Malang.
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya pelestarian bahasa dan aksara Jawa di tingkat pendidikan daerah kini tengah menghadapi tantangan yang cukup serius. Merespons hal tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., mengajak para guru bahasa Jawa se-Kabupaten Malang untuk bangkit memperkuat literasi aksara Nusantara.
Ajakan itu disampaikannya saat hadir sebagai keynote speaker dalam acara “Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa: Menjaga Warisan, Merawat Identitas” yang digelar di Kafe Swara Alam, Kepanjen, pada Sabtu (5/9). Di hadapan para tenaga pendidik, Sri Untari menegaskan bahwa bahasa dan aksara merupakan fondasi kekuatan serta identitas mutlak bagi suatu bangsa. Ia pun mencontohkan negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Rusia, Thailand, dan India yang terbukti tetap teguh mempertahankan aksara lokal mereka meski digempur arus modernisasi.
“Bahasa dan aksara Jawa adalah kekuatan dan jati diri kita. Ini bukan berarti menafikan bahasa Indonesia, melainkan menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” tegas Sri Untari dalam kegiatan yang dipandu oleh moderator Wiwid Handoko tersebut.
Sosialisasi tersebut turut menghadirkan pandangan akademis dan praktis melalui narasumber dosen Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Karkono, S.S., M.A., serta dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Eggy Fajar Andalas, S.S., M.Hum.
Saat sesi dialog berlangsung, para guru tak segan menyampaikan berbagai keluh kesah dan hambatan nyata di sekolah. Mereka mengungkapkan bahwa alokasi waktu pembelajaran bahasa Jawa sangat minim, yakni rata-rata hanya dua jam pelajaran dibandingkan mata pelajaran lain yang bisa mencapai tiga hingga empat jam. Bahkan, pelajaran ini sering kali tergeser oleh agenda sekolah lainnya.
Di samping itu, terungkap fakta memprihatinkan bahwa banyak guru bahasa Jawa merupakan pengajar lintas ilmu dari latar belakang seperti Fisika atau Olahraga. Hal ini terjadi karena minimnya ketersediaan guru lulusan Sastra Jawa. Belum standarnya materi pembelajaran dan dominannya penggunaan bahasa gaul (prokem) di kalangan siswa turut memperparah situasi. Para guru juga menceritakan adanya stigma di mana siswa kerap menganggap aksara Jawa sebagai ‘monster’ karena dinilai terlalu rumit untuk dipelajari.
Iklan
Menanggapi rentetan keluhan tersebut, Sri Untari bersama Paguyuban Aksara Jawa yang dipimpin Taufik Monyong langsung memperkenalkan sebuah inovasi media pembelajaran berupa kartu edukatif. Alat peraga yang diadaptasi dari permainan kartu ini sengaja dirancang agar para siswa dapat mempelajari aksara maupun angka Jawa dengan metode yang lebih gembira dan interaktif.
Guna memastikan keberlanjutan pelestarian budaya lokal, para guru mendesak agar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa segera dihidupkan kembali sebagai wadah utama pembinaan kompetensi. Mereka juga mengusulkan agar penyelenggaraan pentas seni budaya berbasis bahasa Jawa dirutinkan di setiap kecamatan guna menumbuhkan kembali rasa bangga generasi muda terhadap warisan leluhurnya.
Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.