Langsung ke konten
Sabtu, 5 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Hapus Stigma ‘Monster’, Sri Untari Dorong Inovasi Belajar Aksara Jawa di Malang

Upaya pelestarian bahasa dan aksara Jawa di tingkat pendidikan daerah kini tengah menghadapi tantangan yang cukup serius.

Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., tengah memberikan pemaparan materi sebagai *keynote speaker* di hadapan para guru dalam acara Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa di Kepanjen, Kabupaten Malang.

Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., tengah memberikan pemaparan materi sebagai *keynote speaker* di hadapan para guru dalam acara Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa di Kepanjen, Kabupaten Malang.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Upaya pelestarian bahasa dan aksara Jawa di tingkat pendidikan daerah kini tengah menghadapi tantangan yang cukup serius. Merespons hal tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.A.P., mengajak para guru bahasa Jawa se-Kabupaten Malang untuk bangkit memperkuat literasi aksara Nusantara.

Ajakan itu disampaikannya saat hadir sebagai keynote speaker dalam acara “Sosialisasi Penguatan Literasi Aksara Jawa: Menjaga Warisan, Merawat Identitas” yang digelar di Kafe Swara Alam, Kepanjen, pada Sabtu (5/9).
Di hadapan para tenaga pendidik, Sri Untari menegaskan bahwa bahasa dan aksara merupakan fondasi kekuatan serta identitas mutlak bagi suatu bangsa. Ia pun mencontohkan negara-negara maju seperti Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Rusia, Thailand, dan India yang terbukti tetap teguh mempertahankan aksara lokal mereka meski digempur arus modernisasi.

“Bahasa dan aksara Jawa adalah kekuatan dan jati diri kita. Ini bukan berarti menafikan bahasa Indonesia, melainkan menjaga warisan budaya agar tetap hidup,” tegas Sri Untari dalam kegiatan yang dipandu oleh moderator Wiwid Handoko tersebut.

Baca juga: Ratusan Mahasiswa Unusida Sampaikan Aspirasi Kepada DPD RI Terpilih tentang Hak Anak Yatim SIDOARJO – Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (Unusida) kompak menyuarakan hak anak yatim. Hal tersebut disampaikan kepada Anggota DPD RI terpilih 2024-2029, Dr. Lia Istifhama M.E.I saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Kamis (5/9/2024). Kehadiran senator dapil Jawa Timur ini menjadi magnet tersendiri ketika menyampaikan motivasi terhadap calon mahasiswa baru Unusida tahun 2024. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa Unusida sempat menitipkan pesan atau aspirasi untuk diperjuangkan Ning Lia sapaan akrab Lia Istifhama di kursi DPD RI yang bakalan dilantik 1 Oktober 2024 nanti. “Kepada Ibu Lia Istifhama, kami menitipkan aspirasi agar Pemerintah lebih peduli terhadap nasib pendidikan anak yatim, anak yatim piatu agar bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Seperti mendapat beasiswa khusus, potongan biaya pendidikan,” kata ketua pelaksana PKKMB Unusida 2024, Destio Wiranto. Wira bersama ratusan mahasiswa mempersembahkan sebuah puisi tentang kehidupan anak yatim yang sering tidak mendapat perhatian. Seperti terlantar di pinggir jalan dan dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk menarik perhatian masyarakat sebagai pengemis jalanan. Ia menyerukan tentang anak yatim yang kurang diperhatikan selama ini. Menurutnya, anak yatim juga berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan setara, tanpa diskriminasi. Pendidikan yang setara merupakan hak asasi manusia yang diakui dalam berbagai deklarasi dan konvensi internasional. Menanggapi hal tersebut, Ning Lia pun tampak terharu. Ia berjanji untuk memperjuangkan aspirasi tersebut bersama Anggota DPD RI lainnya dan Anggota DPR RI di komisi pendidikan serta kementrian terkait. “Ini PR buat saya untuk kita perjuangkan di senayan. Bagaimana ada sebuah regulasi pendidikan bagi anak yatim. Hal itu nanti akan saya bahas bersama Anggota DPD RI serta Anggota DPR RI dari Komisi terkait pendidikan dan Kementrian,” kata Ning Lia. Lebih lanjut, Ning Lia menegaskan jika untuk Indonesia Emas tahun 2045, maka akses pendidikan harus merata. Bagaimana anak-anak atau yang sudah ditinggal salah satu atau kedua orang tuanya bisa meneruskan pendidikan hingga tingkat akhir. Maka harus ada peran negara dalam hal membantu mereka. “Nantinya kita akan perjuangkan, bagaimana ada beasiswa atau bantuan dana pendidikan bagi anak Yatim, Anak-anak Yatim Piatu agar mereka bisa meneruskan sekolah hingga perguruan tinggi. Kita perjuangan masalah ini di DPD dan DPR RI serta kementrian terkait. Mohon doanya dari teman-teman mahasiswa baru yang sudah menyampaikan apresiasi terkait masalah tersebut,” harapnya. Ning Lia terharu saat salah satu mahasiswa baru menyampaikan bagaimana dirinya di biayai ibunya seorang yang single fighter karena ayahnya telah meninggal dunia, hingga bisa sampai kuliah di Unusida saat ini. “Terharu, apresiasi untuk semangat teman-teman yang kebetulan ditinggal sang ayah dan hanya dibiayai sang Ibu yang single fighter. Mereka tidak putus asa dan terus lanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi,” harunya. Dihadapan ratusan mahasiswa baru Unusida, Ning Lia juga berpesan agar memanfaatkan akses perkembangan dunia digital, perkembangan media dan media sosial (medsos). Sebab, saat ini media dapat dimanfaatkan akses dunia digital untuk sampaikan aspirasi. “Bagaimana teman-teman mahasiswa bisa menyuarakan aspirasi positif dan membangun pendidikan di negara kita secara digital dalam hal ini Pemanfaatan pemberitaan media dan media sosial,” ungkapnya. Menurut Ning Lia, teman-teman mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus pro aktif menyampaikan aspirasinya. Sebab tanpa dukungan teman-teman mahasiswa, yang di senayan tidak mempunyai kecukupan data dalam memperjuangkan aspirasi di dunia pendidikan kita. “Aspirasi teman-teman di dunia pendidikan, mahasiswa dan sebagainya harus disuarakan dengan lantang, terkait regulasi pendidikan dan lainya. Hal ini demi kemerataan pendidikan dan kemajuan pendidikan yang bisa dirasakan semua kalangan,” sebutnya. penulis: Maschan Yusuf

Iklan

Baca juga: KKN Kelompok 10 UPN “Veteran” Jawa Timur Bojonegoro Dorong Perempuan Desa Mojosari Untuk Berani Memprioritaskan Diri Melalui Sosialisasi ‘Di Antara Peran Dan Mimpi Perempuan’

Sosialisasi tersebut turut menghadirkan pandangan akademis dan praktis melalui narasumber dosen Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Karkono, S.S., M.A., serta dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Eggy Fajar Andalas, S.S., M.Hum.

Saat sesi dialog berlangsung, para guru tak segan menyampaikan berbagai keluh kesah dan hambatan nyata di sekolah. Mereka mengungkapkan bahwa alokasi waktu pembelajaran bahasa Jawa sangat minim, yakni rata-rata hanya dua jam pelajaran dibandingkan mata pelajaran lain yang bisa mencapai tiga hingga empat jam. Bahkan, pelajaran ini sering kali tergeser oleh agenda sekolah lainnya.

Di samping itu, terungkap fakta memprihatinkan bahwa banyak guru bahasa Jawa merupakan pengajar lintas ilmu dari latar belakang seperti Fisika atau Olahraga. Hal ini terjadi karena minimnya ketersediaan guru lulusan Sastra Jawa. Belum standarnya materi pembelajaran dan dominannya penggunaan bahasa gaul (prokem) di kalangan siswa turut memperparah situasi. Para guru juga menceritakan adanya stigma di mana siswa kerap menganggap aksara Jawa sebagai ‘monster’ karena dinilai terlalu rumit untuk dipelajari.

Iklan

Menanggapi rentetan keluhan tersebut, Sri Untari bersama Paguyuban Aksara Jawa yang dipimpin Taufik Monyong langsung memperkenalkan sebuah inovasi media pembelajaran berupa kartu edukatif. Alat peraga yang diadaptasi dari permainan kartu ini sengaja dirancang agar para siswa dapat mempelajari aksara maupun angka Jawa dengan metode yang lebih gembira dan interaktif.

Guna memastikan keberlanjutan pelestarian budaya lokal, para guru mendesak agar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa segera dihidupkan kembali sebagai wadah utama pembinaan kompetensi. Mereka juga mengusulkan agar penyelenggaraan pentas seni budaya berbasis bahasa Jawa dirutinkan di setiap kecamatan guna menumbuhkan kembali rasa bangga generasi muda terhadap warisan leluhurnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.