SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Sampah organik rumah tangga yang selama ini sebagian besar berakhir di tempat pembuangan kini didorong untuk diolah menjadi produk bernilai guna melalui Kompak atau Komposter Pakis. Inovasi teknologi tepat guna yang diinisiasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur ini memungkinkan warga mengolah sampah organik menjadi pupuk organik cair yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman hingga memiliki potensi nilai ekonomi.
Program Kompak diperkenalkan kepada warga melalui kegiatan sosialisasi pada Minggu, 9 Agustus 2026. Kegiatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyuluhan mengenai penggunaan dan penerapan komposter di masing-masing RT pada Senin, 10 Agustus 2026. Melalui program ini, mahasiswa KKN UPN “Veteran” Jawa Timur mendorong pengelolaan sampah organik dimulai dari lingkungan terkecil, yakni rumah tangga.
Perwakilan warga yang mengikuti sosialisasi berasal dari RT. 01 hingga RT. 17 yang tersebar di RW. 06. Selama ini, sebagian besar warga mengaku sampah organik rumah tangga masih langsung dibuang. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang ingin dijawab melalui Kompak dengan memperkenalkan cara pengolahan sampah yang dapat dilakukan secara mandiri oleh warga.
Ibu Naning, perwakilan warga RT. 01, menjadi salah satu warga yang sebelumnya telah mencoba memanfaatkan sampah organik secara sederhana. Ia mengaku biasa mengumpulkan dan mencacah sampah sebelum memasukkannya ke dalam pot. “Kalau di rumah biasanya saya kumpulkan, saya cacah-cacah, nanti saya taruhnya di pot,” ujar Ibu Naning.
Sosialisasi Kompak memberikan pemahaman baru bagi warga mengenai kemungkinan pengolahan sampah menjadi pupuk dalam bentuk cair. Ibu Rini dari RT. 02 mengaku sebelumnya belum mengetahui bahwa hasil pengolahan sampah organik melalui komposter dapat berupa pupuk organik cair.
“Biasanya kalau di rumah misal ada sampah langsung dibuang saja. Kita belum paham saat itu, nggak tahunya bisa diolah melalui komposter dan bisa menghasilkan pupuk dalam bentuk cair,” ungkap Ibu Rini.
Selain memberikan manfaat dalam mengurangi sampah, warga juga melihat adanya potensi ekonomi dari hasil pengolahan tersebut. Ibu Naning dari RT. 01 menilai sampah yang sebelumnya dibuang dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai.
“Kalau ini kan kita mengolahnya lebih berharga jual juga, terus kita ngurangin tumpukan sampahnya itu,” katanya.Di balik penerapan KOMPAK, Sholichin Chamal selaku Penanggung Jawab Komposter Pakis menjelaskan bahwa komposter merupakan alat yang digunakan untuk mengolah bahan organik menjadi pupuk. Hasil pengolahannya dapat berupa pupuk organik dalam bentuk cair maupun padat.
Menurutnya, manfaat utama dari penerapan komposter dapat dilihat dari dua sisi, yakni lingkungan dan ekonomi. Dari sisi lingkungan, pengolahan sampah organik dapat membantu mengurangi jumlah limbah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman dan menciptakan lingkungan yang lebih hijau.
“Untuk lingkungan berarti tumbuh kembangnya suatu tanaman, ataupun juga semakin asri, yang di mana sudah berkurang limbah organiknya,” ucap Chamal.Selain itu, pupuk organik cair yang dihasilkan juga memiliki peluang untuk memberikan nilai tambah secara ekonomi kepada masyarakat.
“Untuk pupuk organik cair itu bisa dijual secara komersial,” ujarnya.Ia menilai pengelolaan sampah organik tidak seharusnya hanya menjadi perhatian satu wilayah, tetapi perlu menjadi bentuk kesadaran bersama. Menurutnya, jumlah limbah organik yang terus dihasilkan masyarakat perlu dikendalikan melalui langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan dari rumah.
“Nggak cuma RW 06 saja, seluruh masyarakat perlu sadar karena limbah organik itu sudah banyak banget dan nggak terkendali, sehingga perlu langkah kecil,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa langkah kecil tersebut dapat dimulai dengan mengolah sampah organik menggunakan komposter untuk menciptakan lingkungan yang lebih hijau. “Dengan langkah kecil tersebut, kita ciptakan suatu lingkungan hijau melalui komposter,” ujar Chamal.
Dalam penyuluhan di setiap RT, mahasiswa juga memberikan penjelasan mengenai teknis penggunaan dan perawatan alat. Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah penempatan komposter agar mikroorganisme yang berperan dalam proses penguraian dapat bekerja secara optimal.
Komposter sebaiknya ditempatkan di area yang tidak terkena paparan sinar matahari langsung. “Mikroorganisme nggak suka yang namanya sinar matahari, panas. Jadi tempat apa pun yang tidak terkena paparan sinar matahari,” ucap Chamal.
Proses penguraian sampah organik sendiri membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 minggu. Dalam proses tersebut, mikroorganisme berperan menguraikan bahan organik hingga menjadi pupuk organik cair.
“Waktu fermentasinya itu sekitar 2–3 minggu, yang mana itu waktu untuk mikroorganisme mengurai dan membentuk pupuk organik cair jadi lebih optimal,” ujar Chamal.
Melalui rangkaian sosialisasi dan penyuluhan tersebut, Kompak tidak hanya menjadi kegiatan pengenalan alat, tetapi juga menjadi upaya untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik. Sampah yang sebelumnya langsung dibuang kini diperkenalkan sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi pupuk organik cair, dimanfaatkan untuk tanaman, serta berpotensi memberikan nilai ekonomi.
Penerapan komposter dimulai dari rumah tangga dan dilanjutkan melalui penyuluhan di setiap RT, mahasiswa KKN UPN “Veteran” Jawa Timur berharap Kompak dapat mendorong kebiasaan pengelolaan sampah organik secara mandiri dan berkelanjutan di lingkungan masyarakat.
Tim Media Massa | Kelompok 11 PakisTags: #upnvjt #kknsdgsbelanegara #kkn2026

