Langsung ke konten
Senin, 7 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Pendidikan

Menjaga Martabat Guru, Menyelamatkan Masa Depan Bangsa

 

cr: pinterest

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM – Anak-anak adalah
harapan bangsa yang akan meneruskan perjuangan pahawan Indonesia. Lewat ide,
gagasan dan kreatifitas mereka kemajuan bangsa dapat terwujud. Guru bersifat
sementara dalam mendampingi anak didik belajar di sekolah, meskipun begitu guru
telah menganggap siswa adalah anaknya di sekolah. Karena itulah interaksi
pembelajaran di sekolah terutama di kelas dapat berjalan baik, tercipta suasana
yang menyenangkan, kondusif, serta terkendali. 

Guru mengajarkan akhlaq yang
baik kepada siswa dalam bersikap kepada siapapun dan dimanapun. Guru sebagai
pengajar juga sebagai pendidik dituntut tuntas dalam pembelajaran, guru juga
dituntut tanggung jawab terhadap anak didik, Guru juga harus pandai dalam
menggali potensi anak didik mengembangkan minat dan bakat melalui kegiatan
intrakurikuler dan ekstra kurikuler. 

Keberhasilan pendidikan bukan terletak
pada guru saja melainkan juga melibatkan semua pihak (lingkungan keluarga,
lingkungan sekolah, pemerintah, dan lingkungan masyarakat). Keterlibatan semua
pihak dapat mewujudkan cita-cita anak bangsa dan mewujudkan Indonesia makmur
sejahtera. Namun tidak semua keinginan dapat dicapai dengan mudah.

Seringkali semua
tanggungjawab pendidikan dilimpahkan kepada guru tanpa mencermati kondisi
kehidupan seorang guru. Banyak guru swasta Indonesia yang kehidupannya masih
jauh dari sejahtera. Apalagi bila kesadaran dari keluarga dan lingkungan
masyarakat yang kurang. Kesalahan anak didik akan dikaitkan dengan guru atau
pihak sekolah ditambah kondisi orang tua yang selalu memanjakan anak, menuruti
perkataan anak tanpa mengamati benar atau salah terlebih dahulu. 

Teguran guru
di sekolah ataupun pukulan guru di sekolah karena akhlaq anak yang kurang baik
sudah dijadikan bukti orang tua melaporkan kepada kepolisian, mereka menuntut
hukuman bagi seorang guru, miris mendengamya. Padahal jaman dahulu guru adalah
sosok yang harus dihormati dan disegani, tapi kini semua telah berubah, guru
yang harus berhati-hati dalam mengajar dan mendidik. 

Bayangkah!!! Guru yang
gajinya tidak seberapa, harus kehilangan pekerjaan, harus membayar denda, harus
dipenjara??? Dimana kami harus mencari keadilan dan kepada siapa kami minta perlindungan?

Kami mohon
pemerintah segera mengesahkan UU Perlindungan guru agar martabat guru tetap
dijaga kehormatannya baik didunia maupun akhirat

Sejarah pendidikan
di Indonesia dimulai dari kesadaran, pengorbanan, para pahlawan pendidikan
Indonesia seperti Ki Hajar Dewantara, KH Ahmad Dahlan, R.A Kartini, dan Dewi
Sartika. Para pahlawan pendidikan tidak mendapat gaji, beliau ikhlas menjadi
guru tanpa pamrih.

Iklan

Beliau menyadari
bahwa sekolah sangat penting untuk memajukan pendidikan setelah 350 tahun
penjajahan Belanda, rakyat Indonesia berada dalam garis kemiskinan, kebodohan,
dan tidak mengerti hukum. Ketidakadilan tidak bisa diperoleh, hak-hak rakyat
dirampas oleh penjajah. Karena sekolah rakyat Indonesia menjadi pandai, karena
sekolah rakyat Indonesia mengerti hukum, dan menjadi sarana untuk mempererat
persatuan dan kesatuan. 

Kesadaran pemuda Indonesia menyatukan tekad dan
pemikiran mencetuskan SUMPAH PEMUDA. Inilah salah satu prinsip atau wadah yang
dapat memperjuangkan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia bukan pemberian
penjajah Belanda, Portugis, Jepang, dan negara penjajah lainnya. Kemerdekaan
Indonesia. 

Kemerdekaan memberi kebebasan untuk menentukan sikap, menghargai hak
dan kewajiban setiap warga Negara. Semua itu tidak terlepas unsur penting dari
sekolah dimana ada tempat mengajar, guru, siswa. Sejak jaman dahulu guru
dihormati dan dihargai sebagai orang tua kedua di sekolah. Siswa diajarkan
untuk taat dan patuh kepada guru. Mereka diajarkan untuk wajib mentaati
pengajaran guru. Sikap dan akhlaq menjadi hal yang terpenting yang harus
dimiliki siswa.

Seiring
perkembangan jaman dan kemajuan teknologi yang semakin pesat memberi dampak
yang kurang baik kepada siswa, terbukti dengan kenakalan remaja, lingkungan
masyarakat yang tidak peduli dengan tingkah laku anak-anak, sikap orang tua
yang kurang memperhatikan anak. Dari hal-hal tersebut seringkali permasalahan
dibawa ke lingkungan sekolah. 

Sikap siswa kepada guru dan teman menjadi kurang
baik bahkan terkesan brutal, terbentuknya geng, pembulian, menjadi penyebab
pertengkaran, dan perkelahian. Selain itu siswa bersikap tidak baik kepada
guru, berani melawan guru, hingga menantang kepada guru. Apabila dinasehati
atau diberi hukuman siswa cenderung melapor kepada orang tua sehingga orang tua
tidak terima dan melaporkan kepada polisi. Guru yang mengajar siswa, guru yang
seharusnya dihormati dan dihargai siswa dan orang tua kini menjadi tersangka
kekerasan dan tersangka kasus kriminal.

Pak Guru yang
menanggung beban keluarganya, pak guru yang hidup sederhena dan tidak seberapa
gajinya harus kehilangan pekerjaannya, harus membayar denda, berurusan dengan
hukum dan mendapat hukuman penjara. Saudaraku… Pak guru tercoreng nama
baiknya, relakah kita menerima??? Apakah kita akan diam saja? Apakah yang akan
kita lakukan?

Sangat iba kita
mendengar dan menyaksikan semua itu..

Kenyataan yang
kita hadapi tidak semudah yang dibayangkan semua orang. Karena tidak semua guru
menjadi pegawai negeri yang hidupnya terjamin, masih banyak guru swasta yang
gajinya pas-pasan, dan belum mendapat gaji dari pemerintah. Berjuta guru
Indonesia hidup kekurangan sehingga mereka harus mempunyai pekerjaaan sampingan
untuk menyambung hidupnya. Marilah kita bekerja sama dengan kepolisian, DPR dan
aparat pemerintah untuk menegakkan hukum bagi guru agar dapat mengangkat harkat
dan mertabat guru.

Iklan

Ayo lindungi guru
dari jeratan hukum, sahkan UU perlindungan guru, berikan
kesejahteraan terhadap guru.

—-

Biodata Penulis

Nama: Siti
Nasipatul Hanadayani, S.Pd, Lahir di Malang, 04 Juli 1975
Tinggal
di Sukoanyar dan mengajar di MI Manarul Huda Sukoanyar Wajak. Belajar menjadi
orang yang lebih baik dengan akhlaq mulia. Peduli dengan sesame terutama
masalah Kesehatan anak-anak Indonesia.

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.