Langsung ke konten
Jumat, 9 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Jangan Hanya Jatuh Cinta, Tegakkan Cinta

Saiful Anam mengulas tentang jatuh cinta, disertai dengan The Art of Loving dari Erich Fromm.

Saiful Anam mengulas tentang jatuh cinta, disertai dengan The Art of Loving dari Erich Fromm./dok.istimewa

Saiful Anam mengulas tentang jatuh cinta, disertai dengan The Art of Loving dari Erich Fromm./dok.istimewa

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Jangan Hanya Jatuh Cinta, Tegakkan Cinta oleh Saiful Anam

Pernahkah kita menunggu telepon dari seseorang, padahal tak ada hal penting yang perlu dibicarakan?

Kita hanya ingin mendengar suaranya, mengetahui bagaimana harinya berlalu, atau memastikan bahwa ia baik-baik saja.

Percakapan yang semula direncanakan sebentar pun memanjang hingga larut malam. Ketika telepon berakhir, rindu justru belum selesai.

Begitulah cinta kerap bermula: sederhana, tak terduga, dan sulit dijelaskan.

Kita dapat merencanakan pernikahan, menyusun kriteria pasangan, bahkan membayangkan kehidupan bersama seseorang. Namun, kita tidak selalu dapat merencanakan kepada siapa hati akan tertambat.

Barangkali itulah sebabnya kita menyebutnya jatuh cinta. Ada pengalaman yang datang tanpa sepenuhnya tunduk pada kehendak kita.

Baca juga: Negeriku Tergulung

Tentang Jatuh Cinta

Dalam Perspektif Iman

Perasaan bisa tumbuh sebelum kita sempat memahami sebabnya. Namun, jika jatuh cinta bukan sesuatu yang sepenuhnya dapat kita kendalikan, bagaimana kita memperlakukan cinta setelahnya tetap menjadi tanggung jawab kita.

Dalam perspektif iman, cinta dapat disyukuri sebagai anugerah Allah. Akan tetapi, anugerah bukan hanya untuk dinikmati; ia juga amanah yang harus dijaga.

Cinta bukan semata-mata tentang menemukan seseorang yang membuat hati berbunga-bunga, melainkan tentang belajar menjadi manusia yang lebih baik ketika mencintainya.

Baca juga: Muktamar NU dan Bias Keributan: Ketika Lautan Ilmu Kalah oleh Satu Potongan Video

Dari Jatuh Menuju Menegakkan Cinta

Kita sering merayakan perasaan jatuh cinta, tetapi tidak selalu mempersiapkan diri untuk merawatnya.

Kita sibuk mencari tanda-tanda bahwa seseorang mencintai kita, tetapi jarang bertanya apakah kita telah mencintainya dengan cara yang baik.

Padahal, perasaan usai jatuh cinta dapat berubah. Kekaguman bisa berkurang, perhatian tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama, dan kedekatan dapat diuji oleh jarak, kesibukan, atau perbedaan.

Ketika cinta hanya bertumpu pada gejolak perasaan, perubahan mudah disalahartikan sebagai akhir dari segalanya.

Di sinilah pentingnya menegakkan cinta, bukan lagi sekadar jatuh cinta. Jika jatuh cinta menggambarkan datangnya perasaan, menegakkan cinta menunjuk pada kesediaan untuk merawatnya melalui tindakan.

Kita belajar mendengarkan, menepati janji, menghormati batas, dan bertanggung jawab atas sikap sendiri. Cinta tidak lagi sekadar sesuatu yang kita rasakan, tetapi juga sesuatu yang kita kerjakan.

Menegakkan cinta bukan berarti mempertahankan hubungan dengan segala cara.

Cinta yang sehat tidak membenarkan penguasaan, manipulasi, atau pengorbanan diri tanpa batas.

Sebaliknya, cinta menuntut keberanian untuk menghormati orang lain sebagai pribadi yang memiliki kehendak, kebutuhan, dan jalan hidupnya sendiri.

Iklan

Baca juga: Framing Distorsi terhadap Pondok Pesantren: Mengapa Kesalahan Oknum Tidak Boleh Menjadi Vonis bagi Sebuah Peradaban

Tradisi Etika Islam

Dalam tradisi etika Islam, akhlak menjadi ukuran penting dalam hubungan antarmanusia.

Perasaan yang kuat tidak dengan sendirinya membenarkan tindakan. Cinta perlu dituntun oleh adab agar kedekatan tidak berubah menjadi kesewenang-wenangan dan keinginan untuk memiliki tidak menghapus kebebasan orang yang dicintai.

Mencintai Adalah Seni yang Harus Dipelajari

Cinta Menurut Erich Fromm

Dalam The Art of Loving, Erich Fromm memandang cinta bukan sekadar perasaan yang menimpa manusia, melainkan seni yang perlu dipelajari dan dipraktikkan.

Ia menekankan empat unsur penting dalam cinta: pengetahuan, penghormatan, kepedulian, dan tanggung jawab.

Pengetahuan berarti berusaha memahami orang yang dicintai, bukan sekadar mencintai bayangan tentang dirinya.

Penghormatan berarti menerima bahwa ia bukan perpanjangan dari keinginan kita. Kepedulian berarti memperhatikan pertumbuhan dan kesejahteraannya.

Sementara itu, tanggung jawab berarti bersedia menanggapi kebutuhannya secara dewasa, tanpa mengambil alih seluruh hidupnya.

Keempat unsur tersebut menunjukkan bahwa intensitas perasaan tidak selalu sejalan dengan kematangan cinta.

Seseorang bisa sangat merindukan, tetapi belum tentu mampu mendengarkan.

Ia bisa takut kehilangan, tetapi belum tentu sanggup menghormati kebebasan. Ia bisa mengucapkan janji besar, tetapi gagal hadir dalam tanggung jawab sederhana.

Karena itu, pertanyaan penting dalam cinta bukan hanya, “Seberapa besar perasaanku kepadanya?”

Melainkan juga, “Apa yang kulakukan dengan perasaan itu?” Pertanyaan pertama mengukur gejolak batin; pertanyaan kedua menguji kualitas diri.

Cinta yang dewasa tidak berhenti pada keinginan untuk dicintai. Ia tumbuh menjadi kemampuan untuk mencintai dengan sadar.

Baca juga: Menjaga Adab, Merawat Amanah Kepemimpinan

Dari Aku, Menjadi Kita, Lalu Engkau

Ilustrasi jatuh cinta./dok.Pexels

Pada mulanya, cinta sering berangkat dari kata aku: aku bahagia bersamamu, aku merindukanmu, aku ingin kau hadir dalam hidupku.

Tidak ada yang keliru dengan kebutuhan itu. Setiap orang memiliki kerinduan untuk diterima dan disayangi.

Namun, cinta akan sulit bertumbuh jika terus berpusat pada pemenuhan diri. Ia perlu bergerak menuju kita, ketika dua orang belajar membangun kepercayaan, berbagi tanggung jawab, dan menghadapi perbedaan tanpa menjadikan setiap perselisihan sebagai ancaman.

Meski demikian, perjalanan cinta tidak berhenti pada kita. Ada tahap ketika kita harus kembali melihat engkau: pribadi yang utuh, bukan sekadar pasangan yang bertugas memenuhi harapan kita.

Engkau memiliki pikiran, cita-cita, ruang pribadi, dan pertumbuhan yang tidak selalu sama dengan keinginanku.

Di sinilah cinta diuji—setelah menjalani proses jatuh cinta. Mampukah kita mendukung pertumbuhan orang yang dicintai meskipun tidak semua pilihannya sesuai dengan keinginan kita?

Mampukah kita mendengarkan tanpa selalu ingin menang, mendampingi tanpa mengendalikan, dan memberi ruang tanpa merasa kehilangan?

Cinta yang matang tidak menghapus diri demi orang lain, tetapi juga tidak menjadikan diri sebagai pusat segalanya.

Ia mempertemukan dua pribadi yang tetap utuh, lalu mengajarkan keduanya untuk hidup bersama tanpa saling menguasai.

Cinta sebagai Jalan Pendewasaan Jiwa

Cinta juga dapat menjadi ruang untuk mengenali diri sendiri. Kedekatan dengan orang lain sering memperlihatkan sisi-sisi yang sebelumnya tersembunyi: kecenderungan untuk cemburu, keinginan untuk mengendalikan, ketakutan akan penolakan, atau kesulitan menerima perbedaan.

Iklan

Jika disikapi dengan jujur, pengalaman itu dapat menjadi jalan muhasabah, yakni menilai dan memperbaiki diri.

Kita belajar bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi, tidak setiap kekecewaan perlu dibalas, dan tidak semua perbedaan harus dimenangkan.

Kita berlatih sabar tanpa memendam kezaliman, ikhlas tanpa mengabaikan tanggung jawab, serta rendah hati tanpa kehilangan harga diri.

Dalam pengertian ini, cinta bukan hanya hubungan antara dua manusia. Ia juga menjadi ujian atas cara kita memperlakukan sesama.

Apakah kedekatan membuat kita lebih lembut atau justru lebih kasar? Apakah rasa memiliki menumbuhkan kepedulian atau melahirkan penguasaan?

Apakah cinta memperluas kebaikan kita atau justru mempersempit dunia hanya pada kepentingan pribadi?

Bagi seorang beriman, pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan bahwa cinta kepada manusia tidak boleh menggantikan kedudukan Allah sebagai pusat penghambaan.

Sebaliknya, cinta antarmanusia dapat menjadi jalan untuk melatih akhlak dan mendekatkan diri kepada-Nya. Bukan karena orang yang dicintai harus dipuja, melainkan karena cara kita mencintai dapat menjadi bagian dari ikhtiar memperbaiki diri.

Baca juga: Ketika Orang Pintar Kalah oleh Orang Beruntung, dan Orang “Edan” Mengubah Sejarah

Menegakkan Cinta, Menerima Batas

Ada satu hal yang perlu diingat: tidak semua yang kita cintai harus menjadi milik kita. Cinta bukan hak untuk menguasai, dan kehilangan bukan selalu bukti bahwa cinta telah gagal.

Adakalanya hubungan perlu diperjuangkan melalui percakapan, kesabaran, dan perubahan.

Namun, ada pula keadaan ketika batas harus dihormati dan perpisahan perlu diterima.

Jika sebuah hubungan terus melukai, merendahkan, atau menghilangkan kebebasan salah satu pihak, mempertahankannya bukan selalu bentuk kesetiaan.

Menegakkan cinta berarti berani memilih tindakan yang baik, termasuk ketika pilihan itu tidak sesuai dengan keinginan kita.

Kita dapat mencintai seseorang tanpa memaksanya tinggal. Kita dapat mendoakan kebaikannya tanpa harus menjadi bagian dari seluruh perjalanan hidupnya.

Pada akhirnya, ukuran cinta bukan semata-mata berapa lama dua orang bertahan bersama, melainkan bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain selama perjalanan itu.

Apakah mereka bertumbuh dalam penghormatan? Apakah mereka belajar bertanggung jawab? Apakah kedekatan mereka melahirkan kebaikan, bukan ketakutan?

Jatuh cinta mungkin merupakan awal yang tak terduga. Namun, cinta yang bertahan dengan sehat memerlukan kesadaran, pengetahuan, dan akhlak.

Kita tidak selalu dapat memilih siapa yang mengetuk hati, tetapi kita dapat belajar menentukan bagaimana memperlakukannya.

Jangan hanya jatuh cinta. Tegakkan cinta dengan ilmu, rawat dengan akhlak, dan buktikan melalui tanggung jawab.

Sebab, cinta yang matang bukan sekadar mempertemukan dua hati, melainkan mengajarkan dua manusia untuk saling menghormati, bertumbuh tanpa saling menguasai, dan menempuh jalan kebaikan tanpa melupakan Allah, sumber segala kasih sayang.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.