MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang menggelar seminar nasional bertajuk “Berpikir Kritis di Zaman Serba Cepat: Tantangan Nyata Generasi Muda Masa Kini di Era Digitalisasi” di Aula Saintek UIN Malang, Kamis (1/10/2026).
Seminar tersebut menjadi bagian dari rangkaian penutupan Festival Bulan Pendidikan yang diselenggarakan HMPS MPI UIN Malang. Kegiatan menghadirkan Nur Syifa Nadiastuti, S.M., CCC. sebagai narasumber dengan Dwi Ayu Malichatin sebagai moderator.
Mengangkat isu yang dekat dengan keseharian generasi muda, seminar membahas tantangan berpikir di tengah arus informasi digital yang semakin cepat. Peserta diajak memahami bahwa persoalan generasi saat ini bukan lagi sulitnya memperoleh informasi, melainkan kemampuan memilah informasi yang valid di antara begitu banyak sumber yang tersedia.
“Bukan masalah kekurangan informasi, tapi tentang bagaimana bisa mengambil informasi yang valid,” ujar Nur Syifa dalam paparannya.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis tidak identik dengan sikap selalu membantah, tidak percaya kepada orang lain, ataupun terlalu banyak berpikir hingga overthinking. Berpikir kritis justru merupakan kemampuan untuk memberikan jeda sebelum seseorang menerima informasi dan mengambil kesimpulan.
Ia merumuskan proses tersebut melalui lima tahapan sederhana: berhenti, bertanya, memeriksa, mempertimbangkan, dan menyimpulkan.
“Yang terlihat meyakinkan belum tentu benar,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi relevan ketika generasi muda berhadapan dengan informasi yang dikemas secara menarik melalui media sosial, mesin pencari, maupun berbagai platform digital. Kecepatan penyebaran informasi tidak selalu berjalan seiring dengan kebenaran informasi tersebut.
Mengenalkan 5C Critical Thinking
Dalam seminar nasional tersebut, peserta juga diperkenalkan pada pendekatan 5C Critical Thinking, yaitu Check, Context, Compare, Critique, dan Choose.
Check mengajak seseorang memeriksa informasi yang diterima. Selanjutnya, Context menempatkan informasi sesuai konteksnya, kemudian Compare dilakukan dengan membandingkannya dengan sumber atau perspektif lain.
Tahap berikutnya adalah Critique, yakni menguji dan menilai informasi secara kritis, sebelum akhirnya menentukan pilihan melalui tahap Choose.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa berpikir kritis bukan sekadar kemampuan mempertanyakan sesuatu, melainkan sebuah proses untuk menghasilkan keputusan yang lebih terukur.
Nur Syifa juga mengajak peserta melihat penerapan kemampuan berpikir kritis dalam berbagai aktivitas, mulai dari brainstorming, menjelaskan konsep, mencari alternatif ide, membuat outline, merangkum, melakukan simulasi wawancara, memberikan feedback, hingga mendukung proses pembelajaran.
Bagi mahasiswa, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal penting dalam menghadapi tuntutan akademik sekaligus dunia kerja yang semakin dipengaruhi teknologi digital.
Menutup Festival Bulan Pendidikan
Seminar nasional ini sekaligus menjadi agenda penutup Festival Bulan Pendidikan yang digelar HMPS MPI UIN Malang. Kehadiran seminar dengan isu berpikir kritis memberikan penekanan bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan pengetahuan, tetapi juga kemampuan mahasiswa dalam mengolah informasi dan mengambil keputusan.
Kegiatan tersebut juga diikuti peserta dari luar UIN Malang. Ulfa, peserta dari UIN Salatiga, mengaku mendapatkan pengalaman menarik dalam rangkaian kegiatan yang diikutinya.
“Tentunya pasti seru. Pertama kali lomba desain yang ada sesi presentasi,” ujarnya.
Melalui seminar nasional tersebut, Prodi MPI UIN Malang dan HMPS MPI menempatkan kemampuan berpikir kritis sebagai salah satu kompetensi yang semakin penting bagi generasi muda di tengah perubahan digital.
Sebab, di zaman ketika informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa, membandingkan, dan mempertimbangkan justru menjadi bagian penting dari kecakapan akademik dan kehidupan generasi muda.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.