OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Pernahkah Anda melihat dua orang rekan kerja yang sangat kompak saat menghadapi situasi genting? Di ruang kendali pabrik berisiko tinggi atau di kokpit pesawat terbang, anggota tim dituntut mengambil keputusan tepat dalam hitungan detik. Menariknya, tim yang hebat sering kali bekerja tanpa banyak bicara atau kegaduhan instruksi. Mereka tampak otomatis saling mengerti langkah berikutnya.
Fenomena ini membuktikan bahwa kerja sama bukan sekadar perkara menyelesaikan tugas kelompok tepat waktu. Hubungan kolaboratif yang matang ternyata membentuk kembali cara kerja sistem saraf manusia secara mendasar.
Studi mutakhir yang dipimpin oleh Yifan Zhang bersama tim peneliti dari Zhejiang University dan Lingnan University, bertajuk “Neuroergonomics evaluation of teamwork in a fast-paced communication and shared decision-making task” (terbit di International Journal of Industrial Ergonomics, 2026), menyingkap tabir biologis di balik fenomena ini. Melalui pemindaian otak berteknologi tinggi berupa Functional near-infrared spectroscopy (fNIRS), mereka membuktikan bahwa kerja sama yang dilandasi pemahaman bersama tidak membuat otak semakin tegang, melainkan membuat kerja saraf jauh lebih hemat dan efisien.
Daftar Isi
Penelitian Terdahulu dan Gap Riset Kerja Sama dalam Tim
Secara tradisional, evaluasi terhadap dinamika kerja sama kelompok hampir selalu dilakukan setelah pekerjaan selesai. Pimpinan proyek atau peneliti biasanya membagikan survei kuesioner kepuasan atau sekadar memeriksa angka hasil produksi akhir.
Kelemahannya jelas: metode evaluasi retrospektif ini tidak mampu menangkap beban mental dan gesekan kognitif yang dirasakan anggota tim saat krisis sedang berlangsung.
Ketiadaan alat pemantau objektif secara langsung ini diperumit oleh perdebatan teoretis di kalangan ilmuwan saraf. Hingga kini, para ahli masih memperdebatkan makna biologis dari Inter-Brain Synchrony (IBS) atau sinkronisasi gelombang aktivitas antar-otak:
- Apakah kerja sama yang unggul ditandai oleh lonjakan sinkronisasi otak yang makin tinggi karena anggota tim saling mencocokkan tindakan secara intens?
- Ataukah sebaliknya, kerja sama tim yang sudah sangat kompak justru memperlihatkan sinkronisasi otak yang lebih rendah karena mereka tidak perlu lagi saling mengawasi dan menebak jalan pikiran rekannya?
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Zhang et al. (2026) merumuskan tiga hipotesis uji:
- Hipotesis 1: Tim yang menerima pelatihan terstruktur diprediksi memiliki kinerja perilaku yang lebih unggul dibanding kelompok tanpa pelatihan, khususnya pada tugas bertingkat kesulitan tinggi.
- Hipotesis 2 (Dua Jalur Bersaing):
- Jalur Penyelarasan Sosial (H2a): Pelatihan memicu anggota tim lebih aktif memverifikasi tindakan rekannya, menghasilkan IBS yang lebih tinggi.
- Jalur Efisiensi Saraf (H2b): Pelatihan membangun model mental bersama (shared mental models), membuat koordinasi berjalan otomatis sehingga menghasilkan IBS yang lebih rendah.
- Hipotesis 3: Rekaman pola sinyal IBS memiliki struktur data yang cukup jelas untuk dikenali dan diklasifikasikan secara akurat oleh algoritma kecerdasan buatan (machine learning).
Menawarkan Pendekatan Asesmen Unik Berupa fNIRS sebagai Asesmen Berbasis Neuropsikologi Perilaku
Guna membaca interaksi kerja sama tim secara objektif tanpa mengganggu kelancaran tugas, peneliti menerapkan pendekatan neuroergonomi dengan menggunakan teknologi pemindaian fNIRS.
Jika mesin fMRI mengharuskan peserta berbaring kaku di dalam tabung magnet yang sempit, perangkat fNIRS berbentuk bando sensor portabel yang fleksibel. Alat ini memungkinkan perekaman simultan terhadap dua kepala sekaligus sebuah metode riset mutakhir yang dikenal sebagai fNIRS hyperscanning.

Perangkat laboratorium Shimadzu LABNIRS merekam area korteks prefrontal (Prefrontal Cortex / PFC) kedua peserta. Area otak bagian depan ini dipilih karena memegang kendali atas fungsi eksekutif, penalaran aturan, perhatian bersama, serta pengambilan keputusan strategis.
Dengan mengukur dinamika aliran darah beroksigen, peneliti dapat memetakan seberapa besar energi mental yang dikerahkan otak saat pola kerja sama sedang dibangun.
Bentuk Eksperimen dan Penggunaan Asesmen fNIRS
Eksperimen ini melibatkan 48 mahasiswa (terbagi dalam 24 tim kerja beranggotakan 2 orang) yang ditugaskan mengoperasikan simulasi industri terkomputerisasi bernama microworld task. Simulasi ini menuntut pengoperasian robot pengecatan pabrik secara presisi di bawah tekanan waktu.
Tiap peserta memegang peran berbeda yang saling bergantung secara timbal balik (reciprocal interdependence):
- Operator Produksi (Production Operator / PO): Bertugas mengatur parameter suhu cairan material, tekanan semprotan, serta mengeksekusi injeksi cat.
- Operator Kalibrasi (Calibration Operator / CO): Bertugas memantau penyimpangan angka, mengoreksi sudut nosel cat, dan memverifikasi tingkat penyelesaian produk.
Keduanya duduk bersebelahan tetapi dipisahkan sekat pembatas buram. Masing-masing hanya dapat melihat layar komputernya sendiri, sehingga pertukaran informasi secara verbal menjadi satu-satunya jalur koordinasi. Selain tugas tim, masing-masing peserta juga dibebani tugas pemantauan individu (indikator mekanis mesin) yang jika terabaikan sebanyak 5 kali akan membuat misi gagal.
Sebelum eksperimen utama dimulai, partisipan diacak ke dalam dua perlakuan:
- Kelompok Eksperimen (Pelatihan Terstruktur): Menjalani sesi cross-training (bertukar peran kerja agar memahami kesulitan rekannya) serta diskusi evaluasi diri terbimbing (guided self-correction) untuk membedah strategi komunikasi mereka.
- Kelompok Kontrol (Tanpa Pelatihan): Menjalani sesi latihan dengan durasi yang sama persis, tetapi dengan peran tetap dan diskusi bebas tanpa panduan refleksi.
Setelah itu, setiap tim menyelesaikan 16 blok tugas berdurasi masing-masing 1 menit, yang diatur dalam dua variasi beban kerja: tingkat kesulitan rendah (parameter mesin bergeser tiap 3 detik) dan tingkat kesulitan tinggi (parameter mesin melonjak cepat tiap 1 detik).

Hasil Penelitian yang Memberikan Insight Segar Pengelolaan Tim
Data empiris yang diperoleh Zhang et al. (2026) mengungkap temuan penting bagi pemahaman dinamika organisasi modern:
Tim Kompak Menunjukkan Penurunan Sinkronisasi Otak
Penelitian membuktikan bahwa tim yang menerima pelatihan terstruktur justru mengalami penurunan nilai IBS secara signifikan pada area korteks prefrontal kiri, tepatnya di kanal CH2 dan CH8 (dorsolateral prefrontal cortex / DLPFC) serta kanal CH22 (frontopolar cortex / FPC).
Temuan ini membantah hipotesis H2a dan mengonfirmasi hipotesis H2b, yang sejalan dengan teori efisiensi saraf tim (Team Neural Efficiency / TNE) dan teori prediksi bersama (Mutual Prediction Theory / MPT):
- Pada tim tanpa pelatihan: Komunikasi terasa canggung dan melelahkan. Anggota tim harus terus berbicara, saling bertanya, dan saling memverifikasi secara aktif karena tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan rekannya. Akibatnya, otak kedua peserta terikat dalam sinkronisasi yang tinggi karena beban kerja kognitif yang berat untuk menebak langkah partner.
- Pada tim yang terlatih: Anggota tim telah memiliki pemahaman peran yang setara. Mereka mampu mengantisipasi kebutuhan kerja rekannya secara implisit. Kebutuhan untuk saling memprediksi secara aktif di dalam kepala berkurang drastis, sehingga jaringan saraf prefrontal bekerja jauh lebih santai dan hemat energi.
Komunikasi Lebih Cepat, Ringkas, dan Peka
Evaluasi objektif oleh penilai independen (observer ratings) yang tidak mengetahui status kelompok memperlihatkan bahwa tim terlatih unggul mutlak dalam tiga aspek perilaku:
- Ketepatan Waktu (Timeliness): Informasi genting disampaikan sesegera mungkin saat parameter berubah.
- Keringkasan (Conciseness): Pesan verbal disampaikan secara padat dan lugas tanpa kata-kata yang membingungkan.
- Kepekaan Kolaboratif (Tacitness): Anggota tim saling mendukung secara intuitif tanpa perlu menunggu perintah resmi.
Kecerdasan Buatan Mampu Membaca Mutu Kolaborasi
Model algoritma machine learning (seperti Support Vector Machine dan Artificial Neural Network) yang dilatih menggunakan data rekaman IBS kanal fNIRS berhasil memprediksi status mutu koordinasi tim dengan tingkat akurasi tinggi (nilai AUC mencapai 0,94 ketika dikalibrasi dengan skor pengamat). Ini membuka peluang pemanfaatan sensor otak nirkabel sebagai indikator keselamatan kerja secara objektif di masa depan.

Mengelola Kerja Sama di Era Modern
Hasil penelitian Zhang et al. (2026) mengubah paradigma lama tentang bagaimana sebuah kelompok berfungsi. Kerja sama yang unggul ternyata tidak selalu ditandai oleh interaksi yang heboh, perdebatan panjang, atau kerja otak yang meletup-letup secara simultan.
Kematangan kolaborasi justru tercermin dari ketenangan kognitif: saat setiap individu memahami tanggung jawabnya, tim mencapai fase efisiensi saraf di mana koordinasi mengalir mulus dengan pengeluaran energi mental yang paling hemat.
Bagi para manajer, konsultan SDM, maupun pimpinan regu operasional, riset ini memberikan pelajaran aplikatif:
- Terapkan Pelatihan Silang (Cross-Training): Berikan kesempatan berkala bagi anggota tim untuk merasakan peran rekannya. Memahami beban kerja orang lain adalah fondasi utama terbentuknya model mental bersama.
- Standardisasi Bahasa Komunikasi: Hindari komunikasi yang bertele-tele di tengah ritme kerja yang padat; dorong pertukaran data yang ringkas, terarah, dan solutif.
- Bangun Koordinasi Implisit: Ciptakan ekosistem kerja yang transparan agar rekan kerja dapat saling melengkapi tanpa harus selalu menunggu instruksi formal.
Referensi Ilmiah
- Dong, S., Zhang, Y., Niu, R., & Xu, J. (2024). Team Training and Neural Synchrony: an Experimental Study with fNIRS and Machine Learning. Applied Human Factors and Ergonomics.
- Hamilton, A. F. D. C. (2021). Hyperscanning: beyond the hype. Neuron, 109(3), 404–407.
- Salas, E., DiazGranados, D., Klein, C., Burke, C. S., Stagl, K. C., Goodwin, G. F., & Halpin, S. M. (2008). Does team training improve team performance? A meta-analysis. Human Factors, 50(6), 903–933.
- Zhang, Y., Dong, S., Niu, R., Chu, Y., Pan, Y., & Xu, J. (2026). Neuroergonomics evaluation of teamwork in a fast-paced communication and shared decision-making task. International Journal of Industrial Ergonomics, 112, 103892.
Untuk membaca artikel berita up-to-date mengenai Psikologi dan lainnya, Anda dapat menyimak informasi lengkapnya di portal JatimSatunews.
Tentang Penulis: Artikel opini ini disusun secara kolaboratif oleh empat mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya Hafizh Akbar Maulana, Husna Neily, Adinda Azkia Putri Luqmana, dan Yudhistira Eka Saputra. Melalui tulisan ini, para penulis berkomitmen menyajikan keilmuan psikologi secara aplikatif dan relevan, guna memberikan sudut pandang teoretis yang solutif dalam menjawab berbagai tantangan serta dinamika isu sosial terkini.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.