SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat menuntut para pendidik Al-Qur’an untuk kian adaptif dalam menyebarkan syiar Islam. Menyikapi hal tersebut, Ketua Tim Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Luqman Hakim, mendorong para guru ngaji agar tidak hanya aktif mengajar di ruang kelas atau mimbar konvensional, melainkan berani tampil menjadi penggerak dakwah digital di media sosial.
Ajakan strategis tersebut ia sampaikan secara langsung saat memberikan arahan dalam Workshop Intensif FKPQ Jawa Timur bertajuk Digital Dakwah & Personal Branding di Pesantren Digipreneur Al Yasmin, yang dihelat pada 26–27 September 2026.
Dalam forum yang dihadiri perwakilan pengurus Forum Komunikasi Pendidikan Al-Qur’an (FKPQ) dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Timur itu, Luqman mengapresiasi kolaborasi FKPQ Jatim dan Pesantren Al Yasmin yang membekali para pendidik dengan wawasan public speaking, personal branding, hingga pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Luqman melontarkan pertanyaan mendasar sekaligus pemantik semangat bagi seluruh peserta yang hadir. “Kalau para ustadz diam, siapa yang akan mengisi ruang digital?” tanyanya lugas seraya menekankan urgensi peran guru ngaji di dunia maya.
Ia memaparkan bahwa mayoritas generasi muda saat ini menghabiskan waktu mereka dengan berselancar di dunia maya. Mengingat cara kerja algoritma platform digital yang selalu menyuguhkan konten sesuai tren interaksi pemirsa, Luqman menegaskan kekhawatirannya jika ruang publik maya tidak segera dibanjiri konten positif bernuansa Qur’ani.
“Guru-guru TPQ sekarang memang dituntut untuk menjadi buzzer Al-Qur’an,” tegas Luqman.
Ia menggarisbawahi bahwa istilah tersebut dipakai guna membangkitkan kesadaran bersama agar ruang siber dipadati pesan-pesan Islami yang mencerahkan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar langkah tersebut tidak dimaknai sebatas mengejar popularitas atau sekadar viral. Menurutnya, para ustadz dan ustadzah mesti mampu menjelma sebagai influencer Al-Qur’an sejati yang menebarkan inspirasi lewat qiraah, tartil, ilmu tajwid, kaligrafi, hingga keteladanan akhlak mulia.
“Teknologinya boleh berubah, medianya boleh berubah, tetapi pesannya tetap sama,” imbuhnya menambahkan bahwa kemajuan piranti ponsel pintar, kamera, dan kecerdasan buatan kini sah menjadi wasilah dakwah modern yang selaras dengan arah transformasi digital pesantren.
Pada kesempatan yang sama, Ketua FKPQ Jawa Timur, KH Abdul Aziz, menyatakan bahwa pelatihan intensif ini merupakan respons konkret hasil Rakerwil dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pengajar Al-Qur’an di Jawa Timur. Ia menerangkan bahwa tantangan pembinaan saat ini terbilang besar, mengingat terdapat sekitar 46 ribu TPQ yang tercatat aktif di pangkalan data EMIS, bahkan secara riil jumlahnya diproyeksikan menembus lebih dari 70 ribu lembaga di lapangan.
Kiai Abdul Aziz menuturkan bahwa potensi masif tersebut menuntut para guru tidak semata menguasai materi tahsin Al-Qur’an dan kompetensi PMPQ Naghomah, melainkan juga harus melek instrumen digital. Di samping penguatan literasi digital, ia turut menyelipkan harapan agar perhatian pemerintah provinsi terhadap aspek kesejahteraan serta keberlanjutan insentif guru ngaji di Jawa Timur terus terawat dan ditingkatkan.
Menutup rangkaian kegiatan, Luqman Hakim kembali berpesan agar para pengelola lembaga turut memaksimalkan portal LPQJatim.id sebagai basis pendataan kelembagaan yang valid. Baginya, data yang terintegrasi rapi akan memudahkan pemetaan potensi dan kebutuhan riil LPQ secara terarah, sehingga gerakan syiar Al-Qur’an di Jawa Timur mampu melangkah mantap, memperluas jangkauan dakwah dari serambi masjid menuju lini masa ruang digital.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.