Langsung ke konten
Rabu, 23 September 2026
Headline Self Awareness dalam Islam: Ketika Ilmu Menjadi Pembenaran Diri
Daerah

Bukan Sekadar Medali, SMA Dempo Bangun Regenerasi Juara hingga Level Internasional

Albertus Malang atau SMA Dempo. Sekolah yang pernah mengantarkan siswanya, Louis, hingga ke ajang internasional di Turin itu kini mulai menyiapkan generasi

Br. Antonius Sumardi, O.Carm (kiri) bersama siswa berprestasi SMA Dempo, Louis (kanan), yang berhasil meraih medali di ajang internasional.

Br. Antonius Sumardi, O.Carm (kiri) bersama siswa berprestasi SMA Dempo, Louis (kanan), yang berhasil meraih medali di ajang internasional. (Foto: Istimewa)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi di ajang olimpiade sains tidak lahir dalam waktu singkat. Di balik siswa yang mampu menembus kompetisi nasional hingga internasional, ada proses panjang berupa seleksi, pembinaan intensif, pemetaan kemampuan, hingga keberanian sekolah memberikan dukungan penuh.

Hal inilah yang terus dibangun SMA Katolik St. Albertus Malang atau SMA Dempo.

Sekolah yang pernah mengantarkan siswanya, Louis, hingga ke ajang internasional di Turin itu kini mulai menyiapkan generasi berikutnya. Tiga siswa kembali dipersiapkan untuk berlaga di Olimpiade Sains Nasional (OSN), terdiri dari dua siswa bidang Matematika dan satu siswa bidang Biologi.

Baca juga: Siswa SMA Dempo Malang Louis Victor Borong 3 Medali di Olimpiade Ilmu Kebumian Internasional

Baca juga: Ketua Komisi E DPRD Jatim Puji Salma, Siswi MAN 2 Kota Malang Borong 4 Penghargaan Internasional

Kepala SMA Katolik St. Albertus Malang, Br. Antonius Sumardi, O.Carm, mengatakan pihak sekolah tidak ingin prestasi hanya berhenti pada satu atau dua nama. Karena itu, pembinaan dilakukan secara sistematis melalui klub mata pelajaran.

“Belum bisa berbicara tentang tradisi, tapi mohon doa saja, semoga nanti ada generasi penerusnya,” ujar Br. Antonius.

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sekolah masih melihat prestasi internasional sebagai sebuah capaian yang harus terus diperjuangkan, bukan sesuatu yang otomatis berulang.

Dari Klub Mata Pelajaran hingga Kompetisi Nasional

SMA Dempo saat ini memiliki tujuh klub mata pelajaran yang menjadi bagian dari pembinaan siswa berpotensi mengikuti kompetisi akademik.

Pembinaan berlangsung setiap Senin hingga Kamis sore setelah kegiatan belajar mengajar. Namun, tidak semua siswa bisa langsung masuk dalam program tersebut. Mereka harus melewati seleksi untuk memastikan kemampuan dan potensi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan kompetisi.

Setelah masuk klub OSN, siswa juga diarahkan untuk fokus. Mereka tidak diperkenankan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lain agar waktu dan energi dapat digunakan untuk pembinaan.

Bagi Br. Antonius, strategi tersebut penting karena kompetisi OSN memiliki tingkat persaingan yang berbeda pada setiap jenjang.

Iklan

Di tingkat kota, sekolah maksimal mengirimkan lima siswa untuk setiap mata pelajaran. Pada tingkat provinsi, jumlahnya menyusut menjadi maksimal tiga siswa, sedangkan pada tingkat nasional hanya dua siswa per mata pelajaran dari setiap sekolah.

Artinya, sejak awal sekolah harus mampu membaca potensi siswa sekaligus memetakan kekuatan kompetitor.

Matematika Jadi Fondasi

Salah satu strategi yang diterapkan SMA Dempo adalah memperkuat kemampuan dasar siswa.

Matematika menjadi salah satu fondasi penting karena kemampuan tersebut dibutuhkan dalam sejumlah bidang lain. Ekonomi, misalnya, tidak hanya menuntut pemahaman teori, tetapi juga kemampuan Matematika.

Hal serupa berlaku pada bidang kebumian yang membutuhkan penguasaan fisika.

Sementara itu, Matematika sendiri memiliki persaingan yang sangat ketat karena pembinaan olimpiadenya telah berlangsung sejak tingkat SD hingga SMA.

“Matematika itu sudah berjenjang dari SD, SMP sampai SMA,” jelasnya.

Berbeda dengan bidang seperti ekonomi dan kebumian yang secara khusus baru banyak dipelajari siswa di jenjang SMA. Meski relatif memiliki titik awal yang lebih berimbang, siswa tetap dituntut mempunyai kemampuan analisis dan penguasaan materi yang kuat.

Louis Bukan Akhir Cerita

Nama Louis menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan pembinaan prestasi SMA Dempo.

Ia berhasil melewati rangkaian seleksi mulai dari tingkat sekolah, kota, provinsi hingga nasional. Setelah meraih prestasi di tingkat nasional, perjalanan berlanjut ke pelatnas yang menjadi tahap penyaringan menuju kompetisi internasional.

Dari para peraih medali nasional tersebut dilakukan pembinaan dan seleksi lanjutan hingga akhirnya terpilih wakil Indonesia untuk ajang internasional.

Iklan

Louis menjadi salah satu siswa SMA Dempo yang berhasil menembus tahapan tersebut dan membawa nama Indonesia ke Turin.

Kini, pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bagi sekolah dalam membina siswa berikutnya.

Tiga Nama, Satu Harapan

Tiga siswa yang kini dipersiapkan menuju OSN Nasional menjadi bagian dari proses regenerasi tersebut.

Dua siswa akan bertanding di bidang matematika dan satu siswa di bidang biologi. Sebelum kompetisi nasional, mereka mendapatkan pembinaan tambahan, termasuk mengikuti karantina yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Surabaya.

Sekolah juga tidak menunggu program pemerintah. Pembinaan dilakukan lebih awal melalui kamp pemantapan. Dua siswa matematika menjalani pembinaan di Surabaya, sementara siswa biologi mengikuti kamp di Bandung.

Dukungan sekolah tidak berhenti pada pembinaan akademik. Seluruh biaya program tersebut ditanggung sekolah.

Model dukungan bahkan diberikan sejak siswa berprestasi masuk ke SMA Dempo. Louis sebelumnya memperoleh beasiswa prestasi melalui jalur “golden ticket” hingga lulus, termasuk pembebasan SPP.

Skema serupa disiapkan untuk siswa berprestasi lainnya.

Dengan pola tersebut, SMA Dempo berupaya membangun ekosistem prestasi yang tidak hanya mengejar medali, tetapi juga menciptakan jalur bagi siswa berpotensi untuk berkembang sejauh mungkin.

Tiga siswa yang kini menuju OSN Nasional pun bukan sekadar peserta. Mereka adalah bagian dari pertanyaan besar SMA Dempo: siapa penerus Louis berikutnya yang mampu membawa nama sekolah, Jawa Timur, bahkan Indonesia ke panggung internasional.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.