Langsung ke konten
Selasa, 15 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Nasional

Teknologi Tepat Guna Dongkrak OmzetUMKM Kediri hingga 21 Persen

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Penerapan teknologi tepat guna mulai memberikandampak nyata terhadap produktivitas dan kinerja usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Kediri, JawaTimur. Melalui program pengabdian kepada masyarakatUniversitas Negeri Malang (UM), dua UMKM olahan pangan di Desa Cerme, Kecamatan Grogol, berhasil meningkatkankapasitas produksi sekaligus omzet usaha.

Program bertajuk Optimalisasi Dapur Usaha UMKM Berbasis Olahan Ubi Kayu sebagai Produk UnggulanKabupaten Kediri untuk Meningkatkan Produktivitas, Branding, dan Pendapatan Usaha” tersebut memasuki tahunkedua pelaksanaan pada 2026. Program diketuai Dr. Dani IrawanM.Pd., dari Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang.

Kegiatan menyasar dua UMKM, yakni UMKM KerupukSermier dan UMKM Keripik Tempe Sagu. Pelaksanaanprogram mendapat dukungan dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Kediri.

Selain Dani Irawan sebagai ketua, tim pelaksana terdiri atasPrimasa Minerva Nagari, S.Pd., M.Pd., Ph.D.; Dr. M. Anas ThohirM.Pd.; serta Wulan TrisnawatyS.Pd., M.Pd.

Program tersebut dilaksanakan melalui lima tahapan utama, yakni sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingandan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.

Pada tahap awal, tim melakukan pemetaan kebutuhan masing-masing mitra. Hasil pemetaan kemudian menjadi dasar dalammenentukan teknologi yang diterapkan sekaligus materipendampingan, mulai dari pengoperasian dan perawatan mesin, sanitasi dan pengendalian mutu, manajemen keuangan, pembukuan digital, branding, hingga pemasaran digital.

Untuk UMKM Kerupuk Sermier, teknologi yang diterapkanmeliputi mesin parut ketela, single deep fryer, mixer bumbu, dan multi tray dryer. Sementara itu, UMKM Keripik Tempe Sagumendapatkan dukungan teknologi berupa double deep fryer, mixer pengaduk bumbu, spinner peniris minyak, dan multi tray dryer.

Penerapan teknologi tidak berhenti pada penyerahan peralatan. Tim bersama mahasiswa pendamping melakukan instalasi, uji coba, pelatihan pengoperasian, serta pendampingan perawatanmesin. Pendekatan tersebut dilakukan agar teknologi yang diberikan benar-benar dapat dimanfaatkan dan dioperasikansecara mandiri oleh mitra.

Hasil monitoring periode Mei–Juli 2026 menunjukkanpeningkatan kinerja pada kedua UMKM. Kapasitas produksiUMKM Kerupuk Sermier meningkat dari 45 kilogram menjadi58 kilogram per hari, atau naik 28,9 persen. Sementara itu, kapasitas produksi UMKM Keripik Tempe Sagu meningkat dari35 kilogram menjadi 48 kilogram per hari, atau naik 37,1 persen.

Peningkatan kapasitas produksi tersebut juga diikuti denganefisiensi waktu produksi. Efisiensi waktu pada UMKM KerupukSermier mencapai 19,4 persen, sedangkan UMKM KeripikTempe Sagu mencapai 27,1 persen. Di sisi lain, tingkat cacatproduk dapat ditekan masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,7 persen.

Iklan

Dari sisi tata kelola produksi, penerapan standar operasionalprosedur (SOP) telah mencapai 100 persen pada kedua mitra. Kemampuan mitra dalam menghitung harga pokok produksi(HPP) dan margin juga mencapai 100 persen. Sementara itu, kemampuan melakukan pencatatan keuangan secara digital telahmencapai 100 persen dan kemampuan menghitung break-even point (BEP) mencapai 90 persen.

Dampak peningkatan kinerja tersebut turut terlihat pada aspekekonomi. Omzet UMKM Kerupuk Sermier meningkatmenjadi Rp14,52 juta per bulanatau naik 21 persen, sedangkan omzet UMKM Keripik Tempe Sagu mencapaiRp14,4 juta per bulanatau meningkat 20 persen.

Peningkatan omzet tersebut juga diikuti dengan perbaikankeuntungan usaha. Laba bersih UMKM Kerupuk Sermiermencapai sekitar Rp4,35 juta per bulan, sedangkan UMKM Keripik Tempe Sagu mencapai sekitar Rp4,20 juta per bulan.

Selain meningkatkan kapasitas produksi, program juga diarahkan untuk memperluas akses pasar dan memperkuatidentitas produk. Jangkauan pasar UMKM Kerupuk Sermiermeningkat dari 40 persen menjadi 65 persen, sedangkan KeripikTempe Sagu meningkat menjadi 62 persen.

Kedua mitra kini masing-masing telah memiliki tiga reseller aktiftiga mitra distribusidua marketplace, dan dua media sosial aktif. Kontribusi penjualan melalui kanal digital mencapai 27 persen pada UMKM Kerupuk Sermier dan 26 persen pada UMKM Keripik Tempe Sagu.

Penguatan aspek produksi, manajemen, dan pemasaran tersebutmenunjukkan bahwa teknologi tepat guna dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendorong UMKM berbasis potensi lokalagar lebih produktif dan memiliki daya saing yang lebih baik.

Program ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 tentang Pekerjaan Layakdan Pertumbuhan Ekonomi serta SDG 9 tentang IndustriInovasi, dan Infrastruktur. Selain itu, program diarahkanuntuk mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya IKU 2 dan IKU 5.

Iklan

Ke depan, program akan diarahkan pada penguatan manajemenstok dan pengendalian mutu berbasis digital, pengembanganbrand storytelling, penyempurnaan kemasan untuk memasukipasar ritel modern, peningkatan kapasitas produksi, sertaperluasan pemasaran melalui marketplace nasional.

Ketua pelaksana, Dr. Dani IrawanM.Pd., menyampaikanapresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdiankepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, atas dukungan pendanaan Program Pengabdiankepada Masyarakat tahun kedua 2026.

“Dukungan ini memungkinkan proses transfer teknologi, pendampingan, dan penguatan kapasitas UMKM dilakukansecara lebih optimal dan berkelanjutan,” ujar Dani.

Ia berharap teknologi dan pengetahuan yang telah diberikandapat terus dimanfaatkan oleh mitra serta berkembang menjadimodel pemberdayaan UMKM berbasis potensi lokal yang dapatdireplikasi di wilayah lain.

“Ke depan, kami ingin memastikan bahwa teknologi yang telahditerapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi juga mendorong penguatan manajemen usaha, kualitas produk, branding, dan perluasan pasar,” katanya.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut diharapkandapat menjadi contoh bahwa kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pelaku UMKM dapat menghasilkanintervensi yang terukur serta memberikan dampak langsungterhadap keberlanjutan usaha masyarakat.

Penulis: Dr. Dani IrawanM.Pd.
Dosen Fakultas Teknik, Universitas Negeri Malang

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.